Ketidakhadiran Disipliner Dinilai Sebabkan Maba Tidak Disiplin

Ilustrasi Ospek. (Foto/Unnes)

Suaramahasiswa.info, Unisba – Rangkaian PPMB Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) dengan panitia yang baru berhasil melaksanakan First Gathering, Ta’aruf Fakultas, hingga konseling pada 6-11 September 2019. Kendati demikian, sejauh ini rupanya kegiatan tersebut dinilai tidak berjalan mulus karena ketidakhadiran divisi disipliner.

Seperti yang dijabarkan Staf Divisi Acara, Primadi Fajriansyah Nawawi, konseling pertama beberapa maba sulit dikontrol. Maba sering kali tidak patuh aturan, seperti; datang terlambat, tidak melengkapi atribut, dan lainnya. Mirisnya ketika ditegur pun, tidak dianggap serius oleh maba.

Ditiadakannya divisi disipliner rupanya berpengaruh terhadap kinerja daripada divisi-divisi lain. “Konsep yang melibatkan disipliner jadi harus kita rubah lagi,” ucapnya pada Selasa (10/9).

Primadi juga menuturkan ketika hari pertama konseling, kegiatan dirasa berat. Hal ini didasari banyaknya salah kaprah yang terjadi. “Banyak banget miss-nya, pokoknya hancurlah. Kerjaan masing-masing pas hari H juga enggak rapih.”

Bobroknya maba, juga dirasakan oleh salah satu maba Fikom 2019, Anugrah Aryan Dellon. Ia menilai, ketidakhadiran disipliner membuat mahasiswa terlalu bebas. Jika disipliner ada, setidaknya kehadirannya dapat mengorganisir maba.

Ia juga mengaku tidak mempermasalahkan bila harus menerima teriakan dari disipliner, guna menjadi pribadi yang disiplin. “Selama enggak lanjut ke fisik dan tidak melanggar HAM, enggak apa-apa kok,” ucapnya.

Koordinator Divisi Acara, Indri Rachmawati menjelaskan setelah melakukan segala penyesuaian, ia menilai seluruh tahapan mulai dari Ta’aruf hingga konseling terjalankan dengan lancar. Pasalnya bila terjadi pelanggaran pun, hanya perlu diberikan teguran dan shock therapy.

Lanjutnya Indri menanggapi perihal disipliner, guna mengisi kekosongan, seluruh panitian ikut turun untuk mendisiplinkan. Tidak perlu diadakan peran angel dan demon, cukup saja panitia memperlakukan maba sesuai ketentuan.

Bila menengok jurnal tentang Analisis Pragmatis Urgensi OSPEK: Drama Sosial yang Wajib Dilestarikan, rangkaian yang tidak masuk akal – dalam kasus ini adalah kehadiran disipliner – memberikan beberapa manfaat bagi mabanya. Di antaranya mental terasa lebih kuat karna tekanan terkaan, mempermudah jalinan ikatan dengan kakak tingkatnya, mendekatkan dengan rekan angkatan, membangun solidaritas, dan memperkuat relasi.

Rangkaian kegiatan Ospek yang tidak masuk akal (menurut pemahaman umum) memiliki fungsi tersendiri bagi kehidupan kampus maupun sehari-hari. Namun dalam prosesnya tentu perlu diperhatikan juga bagaimana agen-agen yang terlibat memainkan perannya secara tepat. Jika peran setiap bagian tidak sesuai, maka Ospek hanya sebagai drama.

Dalam hal ini, Ketua Himpunan Mahasiswa Public Relations (Hima PR), Rizky Aditya Herdiana menuturkan meski mengetahui kebijakan PPMB diserahkan kepada masing-masing fakultas. Namun, mereka berharap kedepannya penalaran aturan Kemenristekdikti diselaraskan oleh universitas, sehingga tiap fakultas dapat memiliki kebijakan yang sama.

Reporter: Shella Mellinia Salsabila

Penulis: Shella Mellinia Salsabila & Puspa Elissa Putri

Editor: Puspa Elissa Putri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *