Ciburial Diguyur Hujan, Kampus II Alami Longsor

Mahasiswa Unisba yang menjadi relawan membersihkan sisa lumpur di lapangan basket Kampus II Unisba, Jl. Ciburial No. 11, Kota Bandung Kamis (22/3/2018). Rusaknya fasilitas olahraga ini karena hujan deras pada Selasa (20/3) di kawasan Kampus II Unisba. Air yang bercampur material kasar membuat sungai meluap dan menyapu tanah sekitar. (Abyan/Job)

Suaramahasiswa.info, Unisba – Hujan deras di kawasan Kampus II Unisba, Ciburial pada Selasa (20/3) mengakibatkan longsor, tepatnya di area lapangan basket. Air yang bercampur material kasar membuat sungai meluap dan menyapu tanah sekitar. Lumpur tersapu ke kampus Ciburial yang merupakan daerah rendah, banjir pun sempat menggenangi pemukiman warga.

Yoga selaku satpam kawasan kampus II Unisba menceritakan kronologi kejadian. Ia mengatakan bahwa di area Ciburial pada saat itu turun hujan petir dari pukul dua siang dengan intensitas yang tinggi. Menurutnya hujan itu nampak seperti badai karena bersamaan dengan petir dan angin kencang. Ia menjelaskan, air yang meluap dari sungai mengalir cukup deras, sehingga merobohkan salah satu tembok pembatas kawasan kampus.

Diceritakan oleh Yoga, air hanyut membawa material kasar seperti sampah, tanah, bahkan kayu. Material yang terbawa arus merusak fasilitas pagar basket. Ia juga menjelaskan jika sungai yang meluap bukanlah fasilitas milik Unisba, melainkan sungai alami yang mengalir ke pemukiman pemukiman.

“Terdapat dua aliran sungai, ada yang dari hulu ke Unisba, mengalir di sungai bawah jembatan. Satu lagi sungai ke pemukiman warga, yang ini jebol,” ucap Yoga pada Kamis (22/03).

Yoga menambahkan, air dan lumpur masih mengalir dengan deras meski hujan sudah reda. Masyarakat sekitar bergotong royong membersikan lapangan dan membantu warga yang terkena banjir. Empat rumah warga terkena dampak longsor ini, salah satunya rumah Nanang Kurniawan.

Nanang mengatakan, ini kali kedua banjir menghantam rumahnya, tetapi kali ini diakuinya lebih parah. Pasalnya, ketinggian air mencapai 800 cm dengan ketebalan lumpur sampai mata kaki. Namun, ia bersyukur hal ini masih bisa diantisipasi oleh warga sekitar. (Abyan/Job)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *