Tidak Ikuti Wisuda, Mahasiswa Ini Tak Bisa Bawa Pulang Ijazahnya

Iyan Bachtiar Kabag. Akademik Unisba tengah menjelaskan alasan terkait nilai B menjadi skor tertinggi saat remedial, saat ditemui Suara Mahasiswa di ruangannya, pada 6 Agustus 2015. (Dokumentasi SM)

Suaramahasiswa.info, Unisba – Selasa siang (19/16), Bobby Agung Presetyo terkejut saat ia hendak mengambil ijazah di ruang Akademik Unisba Jl. Tamansari no. 20. Pasalnya, alumnus Fikom Unisba ini tidak bisa merumahkan ijazah kelulusan.

“Nama saya tidak tercatat di buku wisuda,” ungkap Bobby kepada Suara Mahasiswa, Kamis (21/16).

Sebagai alumnus, sebenarnya Bobby dijadwalkan mengikuti wisuda Maret lalu. Namun karena wawancara kerja dan orang tua yang tak bisa hadir, ia memutuskan absen dan tidak mendaftar prosesi pelantikan sarjana.

Betapa terkejutnya ia saat Iyan Bachtiar, Kabag. Akademik Unisba tak bisa memberikan ijazah. “Saya diharuskan bayar untuk wisuda, tapi bukan untuk ijazah. Dengan alasan pendataan alumni ke instansi (Dikti),” jelas Bobby.

Sebelumnya ia menyangkan, tidak ada hubungan antara wisuda dan ijazah. Namun, Bobby mempertanyakan nasib mahasiswa yang tak mengikuti wisuda sama dengan dirinya.

Ditemui di ruanggan Akademik, Iyan Bachtiar tak bisa memastikan jumlah mahasiswa yang absen pelantikan sarjana Maret lalu. Menurut Iyan, bila mahasiswa sudah mendaftar wisuda dan memenuhi administrasi akan tetap mendapatkan ijazah walau tidak ikut wisuda.

“Dia (Bobby) enggak ikut (daftar) wisuda. Nah, jadi tidak terdaftar dalam SK Rektor yang kita setorkan ke Dikti, apa lagi ia sudah mengikuti Spesia,” jelas Iyan, diruang kerjanya Jl. Tamansari 20, Selasa (26/16).

Iyan menyatakan bila pengambilan ijazah tentu memiliki persyaratan. Pendaftaran wisuda adalah salah satunya. Saat ditanya terkait wajib atau tidaknya prosesi wisuda, Iyan menjawab, “Selama ini begitu ‘kan ya? Kalau misal enggak wajib. Mahasiswa bakal pilih enggak dateng dong. Enggak ribet, enggak mengeluarkan biaya juga. Nanti enggak ada wisudawan dong di kita (Unisba).”

Di sisi lain, Iyan mengakui untuk hal ini ia dan jajarannya belum terpikirkan untuk membuat sosialisai. Iyan merasa semua mahasiswa tentu ingin mengikuti wisuda. Namun bila perlu, tidak menutup kemungkinan ia akan menggalakan sosialisi ketentuan ini.

“Kita tidak ingin menghambat. Bila mahasiswa perlu untuk kebutuhan pekerjaan, ya tinggal di copy dan dilegalisir,” pungkas Iyan.

Dari hasil riset yang diperoleh Suara Mahasiswa, hingga saat ini setidaknya ada seorang mahasiswa Unisba yang bernasib serupa dengan Bobby. Namun untuk jumlah keseluruhan, masih belum dapat dipastikan. (Muhammad R. Iskandar/SM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *