the end has no end

 

 

Oleh : Nurul Rafiqua

infinite sign

Karena layaknya gravitasi, selalu saja ada yang menarik kami kembali ke tempat ini…

Tulisan ini merupakan tulisan terakhir saya sebagai pengurus di SM. Dengan kontrak 3 tahun sebagai pengurus dan setahun sebagai anggota , hari ini kami akan menyelesaikan kontrak kami, mudah-mudahan dengan indah. Tentu waktu yang kiranya cukup panjang tersebut tidak pernah terasa cukup untuk berbuat banyak bagi SM, saya sendiri di SM terlalu banyak cita-cita, planning, jobdesk yang akhirnya tidak pernah selesai, maafkan saya atas kemalasan busuk saya, sungguh saya ingin berbuat lebih dari ini.

Lalu apa yang tersisa setelah kami menempuh waktu itu? Sebelum menempuh akhir tentu harus ada awal, Akan saya ceritakan,  setidaknya yang terjerat benang memori saya. Hari pertama pekan orientasi, pada pertengahan hari, di tengah menahan rasa lapar di bulan puasa dan kantuk bagai habis minum Ctm, terdengarlah suara yang, ntah siapa sih, belakangan saya tau bahwa itu satrya pemimpun SM kala itu, tapi yang penting adalah isinya. Dia mengumumkan bahwa organisasi ini sedang open recruitment. Organisasi yang bergerak di bidang jurnalistik, bagi yang suka menulis, memotret, editing, event organizer sampai bisnis pun ini merupakan wadah yang tepat untuk berkreasi, setidaknya itu yang diumbar Satrya siang itu. Mendengar itu pun saya jadi terjaga dan langsung tertarik, bukan dengan Satrya tapi apa yang disampaikannya. Kala itu dipikiran saya SM adalah ekskul yang selalu saya idam-idamkan yang selalu tampil di cheeklit remaja yang peran utamanya adalah wartawan sekolah.- yang tentu saja selama ini tidak pernah saya temui. Lalu saya catat di kertas dan di hati nama organisasi itu, agar setelah hari orientasi itu saya bisa daftar dan selepasnya bisa saya kenang, organisasi itu Suara Mahasiswa.

                Tahun pertama saya di SM cukup menggemaskan, kegiatan yang super padat, excitement tiada akhir setiap habis melakukan apa yang diajarkan SM dan harus kami praktekkan. Rapat pertama, Upgrading pertama dan tak terlupakan Tulisan pertama. Saya ingat tulisan pertama saya di SM adalah tentang Dangdut- tema majalah Cozy pertama kami. Walaupun untuk tulisan tersebut saya hanya mengobservasi dari google search, tidak bangga memang tapi tulisan itu merupakan tulisan pertama saya yang pernah diterbitkan SM. Terimakasih saya haturkan untuk kakak-kakak yang mendampingi kami kala itu, dari situ kami belajar cukup banyak, walau masih sulit untuk mewariskannya pada adik-adik kami. Bukan karena adik-adik kami, tapi memang masuk tahun kedua saya merasa ada yang hilang lebih dari kakak-kakak kami yang telah demisioner, tapi satu benda yang tak terlihat yang perlahan mulai memencar konsentrasi dan kebersamaan kami.

                Bagi saya tahun kedua merupakan momen memalukan. Saya tidak banyak melakukan apa-apa, saya tidak menulis saya tidak merencanakan untuk menulis, hanya karena ada kekosongan kepemimpinan. Padahal logikanya makin bebas kita karena tak ada aturan harusnya kita bisa berkreasi makin seenaknya, tapi saya malah tidak melakukan apa-apa, Memalukan. Berniat memperbaikinya di tahun ketiga tapi ntah kenapa saya sendiri lupa, apa karena kesibukan kuliah atau apa tapi yang jelas saya tidak begitu mengingat tahun ketiga saya di SM, hanya momen-momen selewat saja, yang saya ingat pasti tahun ketiga merupakan awal dari apa yang saya sebut dengan pengembangan karakter saya, bukan aktualisasi sih hanya sedikit berkembang.

                Mungkin ini sedikit pesan juga untuk adik-adik saya di SM, selain setumpuk pengalaman berharga yang tak terlupakan, yang harus kalian temukan adalah semacam pengembangan karakter kalian. Saya sendiri berkembang menjadi membenci semua orang, tidak sepenuhnya karena sm memang, tapi sm berperan besar disitu. Buruk? Tidak selalu, dengan adanya pandangan itu saya jadi semakin pandai menghadapi orang, dulu jika saya mengahadapi orang yang menyebalkan, saya masih pendam di hati, jadi borok karena makan hati. Sekarang karena saya telah mengeneralisasikan semua orang sebagai orang yang pada dasarnya memang sudah saya benci, jadi ketika orang itu mengecewakan saya apalagi berkelakuan busuk saya sudah tidak pernah makan hati, saya keluarkan dia dari orang-orang yang bisa saya katakan sebagai manusia, saya pandang hanya sebagai nama dan saya tak pernah lagi melihat dia bersikap, terhadap dia saya hanya perlu memerhatikan bagaimana sikap saya , tak lagi ada dia terhadap saya. Saya bertahan hidup dengan suram seperti itu, tapi setidaknya hati saya tenang. Belakangan ini saya punya visi yang lebih baik, bukan lagi membenci semua orang tapi ‘being pure at heart’ , efek yang dihasilkan sama tapi setidaknya saya tidak menyalahi aturan agama, generalisasi tetap diterapkan, dan sungguh sebenarnya generalisasi itu sangat kejam.

                Selama tahun-tahun tanpa produktivitas yang kurang berarti dan hati yang muram- bagi saya, kecaman terhadap kami sering terdengar bahkan makin melekit dari banyak pihak, dari kakak-kakak SM kami, dari tetua yang masih berhubungan dengan kami, bahkan dari sesama mahasiswa yang sama-sama saja sebetulnya. Kecaman akan sikap kami yang tak acuh, yang tak peduli, yang tak turun ke jalan, yang sekalipun menulis tulisannya kosong, lembek, hambar dan menjadikan mereka bertanya-tanya apakah sebenarnya generasi kami punya kemampuan. Awal-awal mungkin saya jadi tersadarkan dan ikut menyesali tanpa berbuat, tapi kini dengan semakin pahamnya saya akan diri saya dan orang sekitar saya, dengan kritik tersebut saya merasa tidak lebih baik, dan menjadi terganggu. Biarlah kami menjadi kami. Setidaknya saya menjadi saya. Karena sebagian yang lain mungkin belum menemukan dirinya.

                Banyak yang mengherankan, bahkan kami (semoga kami disini tidak lagi saya) sendiripun ikut heran kenapa progress kami lambat? kenapa anak sekarang mau enaknya saja? kenapa anak sekarang tidak kritis, tidak mau turun kejalan atau turun kemanapun? Kenapa semua yang ada pada diri kami rasanya dangkal ? saya kali ini bisa jawab, karena kami Kami ‘Tak Berkarakter’ tak tahu kami itu apa, tak tahu kami itu siapa, tak tahu bagaimana harus bersikap, yang satu tak berbeda jauh dari yang lain. itulah masalah anak-anak SM, setidaknya menurut saya karena ini adalah opini yang saya tulis, jika anda merasa tidak setuju tulis saja opini anda sendiri. (galak 😛 )

                Jadi apa yang kalian kira selama ini, soal kami yang pasif, soal kami yang tak kreatif, soal kami yang konsumtif , soal kami yang selalu mau jadi komuditi, soal kami yang bagai gembala yang mau digiring kesana kemari. Bukan karena kami tak ingin berkreasi atau menghasilkan sesuatu yang pada akhirnya mengharumkan nama kami atau membuat cemburu orang disamping kami. Bukan, kami hanya tak mengerti sedang apa kami di dunia ini, dan, jangan menyangka karena kami seorang hedonis. Jangan, khusus soal hedon ini  akan  agak panjang saya bahas, jadi siapkan diri kalian,saya merasa sedikit terganggu karena sejak saya mengerti apa itu hedonisme hingga sekarang saya masih mengagumi paham itu dan selalu memimpikannya. Hedonisme seperti yang dikutip dari buku Franz Magnis-Suseno dari buku Masalah-masalah pokok Filsafat Moral, menyatakan bahwa Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa orang akan menjadi bahagia dengan mencari kebahagiaan sebanyak mungkin dan sedapat mungkin menghindari perasaan-perasaan yang menyakitkan. Apa yang salah dengan itu? Siapa manusia yang tak ingin senang? dan dengan paham ini saya rasa tak akan lagi ada mahasiswa (SM) yang galau-galauan di twitter karena hedonis selalu menghindari kesusahan dan rasa sakit, kan?

jangan sakiti lagi kata hedon dengan pikiran dangkal kalian. Saya sendiri berpikir hedonisme memiliki dampak dalam penciptaan mental yang membuat para hedonis terus bekerja keras, berkreasi, berinisiatif karena tak ingin susah, dan tahu bahwa kesenangan tak mudah didapat. Perlu ditekankan, kesenangan tak selalu identik dengan kemewahan, bagi saya kesenangan adalah ‘no-pressure-day’ dimana tak ada tekanan dari hal apapun, tak ada teriakan, hanya ada buku yang bagus ditangan saya, musik yang enak, kopi yang nikmat , kue yang lezat, hari yang panjang dan mendung berangin. Mewah? Definisikan sendiri. Luaskan pandangan kalian, tak melulu hedonisme berkaitan dengan belanja, dunia gemerlap dan menghambur-hamburkan uang, tapi jika memang kesenangan sebagian hedonis tentang hal tersebut ya tak mengapa, Bagus kan jika mereka tau cara menghabiskan uang, dan  juga tau bagaimana mendapatkan uang, atau sesial-sialnya hedonis kere pakai uang orangtua juga tak mengapa, asal jangan pakai uang orangtua temannya, alias pinjam-pinjam, yang itu juga saya tak setuju.

Saya masih kagum pada hedonis yang tau jalan hdupnya daripada mahasiswa anti-mapan dengan sepatu adidas di kaki dan iphone ditangan. Atau anak muda aktifis yang melulu bicara tentang anti korupsi , demo sana-sini tapi titip absen ke teman. Mereka tak lebih dari orang yang bingung. Pokoknya jangan lagi bawa-bawa hedonisme dalam label yang ingin kalian vonis pada kami, saya masih mengaguminya, walau masih sulit hidup seperti itu, karena bagi saya orang yang bisa hidup seperti itu haruslah seimbang pola pokir dan prilakunya, saya masih belum mencapai keseimbangan itu.

Omong-omong soal label, label kini juga amat membentuk kebingungan kami, sedikit kami bersikap, kami punya kelas sendiri, ada alay ada boysband atau girlsband, banyaklah. Pernah saya berujar saya tak ingin pergi ke konser band yang sudah disukai banyak orang, maka disebutlah saya hipster. Harusnya saya mengiyakan saja karena kebanyakan ciri-ciri hipster ada pada saya, tapi kenyataannya saya tak suka disebut begitu, rasanya tak nyaman lalu saya tahu penyebabnya karena itu namanya ‘dilabeli’ ditempeli stiker kamu masuk kelompok ini kamu masuk kelompok itu. Kenapa kita harus dilabeli, biar kita berkembang sendiri, tidak berkelompok tidak beragregat menjadi pribadi yang unik-unik- lekas setelah kalian temukan kepribadian kalian tentunya.

Jangan terobsesi dengan label, hal ini sangat berlaku untuk SM. Jangan lantas ingin dilabeli galak, tegas atau apapun namanya itu, lalu jika ada teman SM yang salah lalu kalian berteriak menendang-nendang apa yang ada didepan kalian agar terkesan beringas padahal isi teriakan itu hanyalah angin kosong yang tak lebih merdu dari kentut siapapun . jangan lantas juga ingin dilabeli berwibawa lalu kalian iris harga dirinya di depan teman lain hanya karena dia salah langkah. Label tak bertahan lama, karakter melekat selamanya. Cari yang kalian butuhkan, jangan yang kalian inginkan. Bagus kalau yang kalian inginkan adalah yang kalian butuhkan juga.

Pesan untuk teman-teman yang masih akan menikmati SM, jangan anggap SM sebagai organisasi , kesannya formal, jangan juga anggap sebagai keluarga karena biasanya kita kurang ajar dan tak berbatas dengan keluarga kita, karena seburuk-buruknya kita hanya keluarga yang akan kembali pada kita, teman SM? Seburuk-buruknya kita akan dibusuki balik oleh mereka. Jadi anggap sebagai milik kalian, kepunyaan. Dengan begitu kalian mungkin akan sayangi SM, pelihara baik-baik, atau setidaknya tak mau kehilangan. Lalu pesan penting dari teman, yang memang sering dialami anak-anak SM jangan merasa jadi orang paling menderita sedunia hanya karena kalian mengorbankan sesuatu demi sesuatu, kita dalam posisi yang sama. Ikutlah teater jika ingin mendramatisasi sesuatu, disana mungkin akan jadi prestasi, tapi tidak disini, semacam dunia nyata bagi sebagian orang. Jangan takut salah, jangan canggung, jangan ‘kagok’ jangan tunggu atasan, jangan tunggu orang lain kalau kalian punya ide, karena SM kepunyaan kalian, apapun yang terjadi akan menjadi petualangan kalian, bukan mereka yang punya banyak ide tapi diam saja menunggu asap keberanian atau masih saja beralasan sibuk (seperti saya). Alami petualangan kalian secepat mungkin kalian bisa. Karena ide bukanlah ide jika tidak diwujudkan layaknya cinta bukanlah cinta jika tidak disampaikan. #eaaa

 Pernah ada tulisan di papan tulis SM, begini tulisannya “SM (sangat menyiksa)” saya balas dengan  “SM (Sado Masochist)” saat itu hanya bercanda, tapi kini rasanya kata-kata saya itu betul juga.  SM itu rasanya memang persis seperti sado masochist harus dulu disiksa harus dulu menderita harus dulu sakit-sakit baru terasa nikmatnya. Jadi redaksi, litbang atau perusahaan  sama sakitnya, tapi kalau gampang pun rasanya kering, dengan kata lain sakitpun merupakan kesenangan buat kami (kan, apa salahnya hedonis!?yang penting senang hehe).

Sudah terlalu banyak saya bicara, sudah terlalu mengantuk orang yang membacanya, sebaiknya saya sudahi saja. Dulu awal saya masuk SM mungkin saya akan mengutip quote dari Pramoedya Ananta Toer tentang keabadian kita lewat tulisan. Tapi tidak kali ini, selain Pramoedya sudah terlalu banyak fans- sekali lagi saya tidak hipster. Tapi memang tidak pas saja dengan akhir dari tulisan saya yang urung berakhir ini. Maka mari saya kutip quote dari tokoh yang tak kalah populernya di kalangan anak muda yang memiliki tv kabel , Sue Sylvester dari serial Glee:

“Have you ever kissed a boy?  No, Have you ever kissed a girl? No. Well, then how can you possibly know what you like? You see, that’s the problem with your generation. You’re obsessed with labels. So you like show tunes! Doesn’t mean you’re gay.  It just means you’re awful.”

 

 

2 tanggapan untuk “the end has no end

  • Agustus 22, 2013 pada 6:33 am
    Permalink

    Terima kasih atas penerangan awak … boleh saya tau kat mana bleh dapat laghi
    penerangan tentang topic nie ??

  • Agustus 22, 2013 pada 6:33 am
    Permalink

    Terima kasih atas penerangan awak … boleh saya tau kat mana bleh dapat laghi
    penerangan tentang topic nie ??

Komentar ditutup.