Teater Monolog, Rangkaian Akhir Membangunkan Marsinah

Pemeran Marsinah sedang menghadapi para aparat yang mengepungnya dan berusaha untuk menghentikan pergerakannya. Teater monolog ini berlangsung di lapangan parkir Unisba pada Minggu (15/5). Skenario ini menggambarkan sikap aparat terhadap para aktivis di zaman orde baru. (Vigor/SM)

Suaramahasiswa.info, Unisba – Rangkaian acara ‘Membangunkan Marsinah’ yang dipelopori oleh Studi Teater Unisba (Stuba) dan Keluarga Mahasiswa Jurnalistik (KMJ) telah mencapai puncak acara. Stuba dan KMJ menyuguhkan sebuah teater monolog yang digelar di lapangan parkir utama Unisba pada, Minggu (15/5). Suasana temaram pun muncul seiring dengan munculnya sang Marsinah di atas panggung kecil berlatar bambu.

Shella Karina, pemeran sosok Marsinah, sukses menghasilkan decak kagum dari para penonton. Ia melakoni perannya dengan sepenuh hati, tak heran Shella mengaku sempat menangis saat gladi terakhir dilaksanakan. “Saya merasa terpukul meratapi nasib yang dialami oleh Marsinah,” ucap mahasiswi farmasi 2014 ini.

Selaku sutradara, Sugeng Riyadi  menuturkan, monolog ini merupakan tantangan besar,  dimana ia harus menghadirkan Marsinah secara lintas waktu. Motivasi membangunkan Marsinah pun didapat karena tak banyak orang yang mengetahui soal Marsinah. “Membangun transportasi sejarah itu penting, dan lewat seni budaya kita melakukan itu. Naskah dibangun untuk kritik,” ujarnya.

Reggy K.Munggaran sebagai salah satu pengusung rangkaian acara ini, menuturkan latar belakang pemilihan tema.  Acara ini terinspirasi dari pagelaran ‘Marsinah Menggugat’ karya Ratna Sarumpaet yang kala itu sempat di interupsi. “Guna mendaur ulang pagelaran tersebut kembali, kami menggelar rangkaian acara ini dan bisa dijadikan ajang kritik juga bagi mahasiswa yang tak acuh pada perjuangan di masa lampau, “ tutur pria berkaca mata ini. (Agistha/SM)