Tantangan Hoax, Perlukan Literasi Media

Foto: Illustrasi

Sejak internet dan sosial media. Kehadiran berita hoax pun kian tak terbendung. Jika dilihat dari definisi Hoax sendiri menurut Wikipedia adalah sebuah pemberitaan palsu, usaha untuk menipu atau mengakali pembaca atau pendengarnya untuk mempercayai sesuatu, padahal sang pencipta berita palsu tersebut tahu bahwa berita tersebut palsu. Kendati tersebut hoax pun acap kali menimbulkan provokasi di beberapa daerah, maka dari itu perlu penanganan untuk mencegahnya.

Belum lama ini Minggu (8/1) Deklarasi Anti Hoax serentak diselenggarakan di enam kota meliputi Surabaya, Semarang, Solo, Jakarta, dan Wonosobo. Kota terakhir dari kegiatan ini yaitu dilakukan di CFD Dago Bandung. Tujuan dari deklarasi ini dalam rangka memerangi informasi hoax yang seringkali beredar dimedia sosial.

Menurut salah satu dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Unisba yang tergabung dalam member Anti Fitnah, Santi Indra Astuti. Ia mengatakan, deklarasi ini langkah awal dalam melawan hoax dan sudah merencanakan program literasi digital yang lebih luas lagi. Deklarasi ini juga menjadi bagian dari literasi digital.

Deklarasi yang digelar di Car Free Day (CFD) Dago Bandung memiliki beberapa program besarnya, yaitu:

  1. Melakukan kampanye yang lebih masif terhadap target yang lebih spesifik.

Setiap orang tentunya memiliki pendekatan yang berbeda-beda baik itu mahasiswa, ibu rumah tangga, dsb. Perlu disesuaikan dengan sasaran target agar berhasil mempengaruhinya.

  1. Melakukan semacam bank untuk konten anti hoax.

Bandung sejatinya terkenal dengan orang yang kreatif dalam audio visual. Tentu mempunyai media literasi itu cukup banyak tetapi bagaimana menyampaikannya kepada publik agar lebih dipahami dan mempengaruhinya.

  1. Melakukan kerjasama dengan beberapa pihak untuk melakukan advokasi publik.

Tujuan besarnya  dilakukan ini ada digital atau internet literasi yang sejauh ini masih minim untuk disebarluaskan terhadap publik.

  1. Mengembangkan jejaring relawan dari berbagai pihak

Untuk memerangi hoax ini tidak bisa berjalan sendiri, harus bersama-sama. Sebab itu deklarasi ini diharapkan mampu menjaring masyarakat yang beragam agar ikut membantu melawan anti hoax.

Fenomena hoax semakin liar dan tak terkendali dengan bergerak secara masif. Santi pun memaparkan keprihatiannya terhadap kalangan pendidik yang justru tidak dapat membedakan hoax. Penyebaran informasi hoax di media sosial pun dilakukan secara sadar dengan menyebarluaskan. Akibatnya banyak mahasiswa yang terperangkap dalam fenomena hoax.

Menurut Santi, dari para aktivis anti hoax ini, jauh lebih tertarik dan akan berfokus pada memberdayakan masyarakat di depan media sosial sehingga mereka enggak mengkonsumsi informasi sembarangan lagi. “Dan kita ingin menumbuhkan tradisi diskusi dan klarifikasi. Bukan mengklaim memojokkan dan menghakimi. Tapi diskusi verifikasi. Santi mengharapkan agar deklarasi ini dapat menggaet lebih banyak orang untuk semakin mendalami isu ini. Dan membuat kegiatan atau aktifitas ini berkesinambungan.”

Tips untuk membedakan hoax atau tidaknya sebuah berita diungkapkan Arba’iyah Satriani, dosen Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom). Tidak seharusnya dari sisi orang dengan sengaja yang memang mengolah isu untuk kepentingan sendiri misalnya ntuk mendapatkan keuntungan.

Pertama, melihat tampilan website pengelola website. Di beberapa media yang memang niatnya menyebarkan hoax biasanya tidak ada. Karena mereka tidak mau mempertanggungjawabkan perbuatan mereka. Dan kita sebagai konsumen atau pengguna tidak bisa bersandar dari itu.

Kedua, melakukan verifikasi terhadap media lain. Di zaman industrialisasi media di era digital ini emang kita tidak bisa jadi konsumen pasif. Jadi sebagai pengguna harus aktif. Caranya dapat dilakukan dengan membandingkan media lain.

Aan pun menawarkan solusi terhadap mahasiswa yaitu agar tidak mudah percaya. Seharusnya ada penguatan literasi media dalam lingkup universitas. Kegiatan literasi media sepatutnya sudah dikenalkan dari SMP. Pihak pengelola institusi pendidikan harus bisa menguapayakan mahasiswa untuk memahami literasi media. “Generasi sekarang harus bisa menghindari clicking monkey yaitu ketika ada informasi langsung klik dan share tanpa mencernanya terlebih dahulu,” tutupnya. (Fadhis/SM)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *