Tanggapan Warga Unisba Mengenai Kasus Setya Novanto

Arinto Nurcahyono saat diwawancarai tanggapannya mengenai kasusKetua DPR, Setya Novanto di ruang dosen Ranggagading, Senin (23/11). (Rindiantika/Job)

Suaramahasiswa.info, Unisba – Kasus Setya Novanto yang akhir-akhir ini gencar diberitakan terkait pencatutan nama Jokowi dan Jusuf Kalla saat meminta saham PT Freeport, menuai tanggapan. Salah satunya dari Arinto Nurcahyono, dosen Fakultas Hukum Unisba. Menurutnya, ini belum bisa disebut sebagai kasus pidana. “Jika melanggar pidana sudah pasti melanggar kode etik, jika melanggar kode etik belum tentu melanggar pidana,” ucapnya saat ditemui di ruang dosen Ranggagading, pada Senin silam (23/11).

Menurutnya, kasus Setya Novanto ini sebenarnya terbagi menjadi dua kasus, yaitu pencemaran nama baik dan korupsi. Permasalahan tersebut harus ditempuh dengan proses jelas dan sesuai. “Kalau pencemaran nama baik harus ada laporan dari korbannya, yaitu presiden dan wakilnya. Untuk dapat dijadikan kasus korupsi, faktor menyalahkan wewenang harus terbukti dan ada faktor kerugian negara. Orang-orang hukum harus clear mana ranah politik mana ranah hukum,” ujarnya.

Hal serupa pun diungkapkan oleh Muhammad Renaldy, mahasiswa Fakultas Hukum 2013, ia memberikan tanggapan bahwa kasus ini termasuk asas praduga tak bersalah. Walaupun sudah terbukti bersalah, tetapi tetap dipandang tidak bersalah selama belum adanya keputusan pengadilan yang bersifat tetap. “Lebih baik dilihat dulu sampai penyidik dapat bukti, agar jelas dia (Setya Novanto) melanggar apa saja dalam pidana,” urainya. (Rindiantika/Job)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *