Tak Surutnya Pergerakkan Soekarno Kala Diasingkan di Ende

Caption : Dari kanan- Zen Tito (cucu Bung Karno), Dedi (Penulis Skenario Film Ketika Bung di Ende), Mr. Hans De Kreker (Pemeran Frater Huytink dalam film Ketika Bung di Ende) dan moderator saat berdiskusi dengan para penonton yang hadir pasca menyaksikan film ‘Ketika Bung di Ende’ di G.K Sunan Ambu, Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Jln. Buah Batu no.212 Bandung, Senin (2/12).

Suaramahasiswa.info, STSI Bandung – Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jendral Kebudayaan, Direktorat Pembinaan Kesenian dan Perfilman, mempersembahkan Film sejarah mengenai Soekarno kala diasingkan pertama kali di Ende. Pemutaran film yang berjudul ‘Ketika Bung di Ende’ dilaksanakan di G.K Sunan Ambu, Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Jln. Buah Batu no.212 Bandung, Senin (2/12). Turut hadir pula Viva Westi (sutradara), Mr. Hans De Kreker (Pemeran Frater Huytink), Zen Tito (Cucu Bung Karno), dan Dedi (Penulis Sekenario).

Film ini menceritakan tentang perjuangan Bung Karno kala berjuang memerdekakan Indonesia tahun 1933. Sebuah surat keputusan dari Hindia Belanda membuat Bung Karno harus menjalani hukuman pembuangan sebagai tahanan politik di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur. Dalam pembuangannya tersebut, Bung Karno yang diperankan (Baim Wong), ditemani istrinya Inggit Garnasih (Paramitha Rusadi), serta sang mertua Ibu Amsih dan kedua anak angkatnya Ratna dan Kartika, harus menghabiskan waktu selama 4 tahun di Ende sebagai tahanan politik.

Lewat sang sutradara Viva Westi, kementrian pun menyampaikan pesannya bahwa generasi modern saat ini harus mengetahui, bahwa pejuang-pejuang di zamannya berjuang untuk kemerdekaan bukan hanya dengan cara kekerasan atau bersenjata. “Pejuang-pejuang itu berjuang bukan hanya dengan cara bersenjata, tapi mereka dibuang, diasingkan dengan jarak yang sangat jauh dan masih bisa berjuang dengan caranya,” ungkap Viva.

Seperti diketahui film dalam cerita, ketika diasingkan, Bung Karno diawasi oleh 7 polisi yang selalu mengikuti kemanapun Bung Karno pergi. Berbeda 180 derajat kala ia di Jawa, kebiasaan Soekarno yang sering berorasi dan mengobarkan semangat bagi para pemuda setempat tidak bisa ia lakukan di Ende. Dengan sangat cerdik ia menggunakan drama tonil sebagai alat orasi kedua untuk menggerakkan dan mengobarkan semangat pemuda setempat untuk melawan penjajahan Belanda.

Selama di Ende, Bung Karno menghasilkan 13 naskah tonil, dan berhasil mendidik pemuda setempat untuk bisa membaca dan memainkan drama pengobaran semangat melawan penjajahan. Adapun 13 naskah tonil tersebut berjudul ‘Dokter Setan’, ‘Aero Dinamik’, ‘Jula Gubi’, ‘Siang Hai Rumbai’, ‘Rahasia Kelimutu’, ‘Tahun 1945’, ‘Nggera Ende’, ‘Amuk’, ‘Rendo’, ‘Kutkutbi’, ‘Maha Iblis’, dan ‘Anak Jadah’. Naskah-Naskah tersebut digunakan Bapa Proklamator sebagai alat kedua orasinya untuk mengobarkan semangat rakyat merebut kemerdekaan. Pementasan Drama Tonil itupun kerap dilaksanakan di Gedung Imakulata milik Paroki Katedral Ende yang lokasinya berada di jln. Irian Ende.

Iqbal Maulana penonton yang ikut hadir dalam peluncuran film ini, menuturkan transisi sangat sulit yang dialami oleh Soekarno dari Jawa ke Ende. Soekarno serasa dibungkam pergerakkannya, bukan orangnya, namun pemikiran Bung Karno lah yang diasingkan agar tidak mendoktrin pemuda untuk melawan Hindia Belanda. “Secara keseluruhan, subjektif saya, yang harus ditangkap adalah fase transisi antara Bandung dan Ende. Ketika Soekarno dihilangkan dari mimbar pidatonya, ada semangat kehilangan pergerakan seseorang ketika ia diasingkan, namun lewat naskah drama tunil itu lah sebagai objek kedua mimbarnya,”ungkap Iqbal yang baru lulus tahun ini di STSI Bandung Jurusan Teater. (Adil Nursalam/SM)