Sinema Pendidikan #1, Ketika Film Jadi Sarana Pendidikan

Foto : Dok. Pribadi

Suaramahasiswa.info, Bandung – Sabtu (25/3) kami menyambangi Museum Pendidikan Nasional, yang terletak di kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Jalan Setiabudi, Kota Bandung, untuk menyaksikan Sinema Pendidikan #1. Kegiatan itu merupakan penayangan film yang digelar oleh Unit Kegiatan Mahasiswa bernama Satu Layar. Mereka akan menayangkan dua film dengan judul Worked Club karya Tunggul Banjaransari, dan Turah arahan Wicaksono Wisnu Legowo.

Worked Club menjadi yang pertama diputar, dimulai dengan adegan seorang lelaki sedang  menaiki sepeda motor.  Pria tersebut berhenti, disebuah padang rumput dan memakan es krim. Adegan itu diambil cukup lama. Hingga kamera pun berpindah ke pria yang sedang berdiri memakai payung  di tengah teriknya matahari. Tiba-tiba kedua pria tersebut berbincang, sampai layar pun menghitam. Film dengan bahasa Jawa dengan transisi alur yang lambat antar scene menimbulkan pertanyaan bagi penonton.

Berpindah ke adegan selanjutnya ada seorang pria yang membawa lukisan senam pagi di jalan. Absurd sangat jelas tergambarkan di film tersebut, adegan selanjutnya, membuat kami tertipu untuk mendapatkan puncak film tersebut. Sang pembawa lukisan ternyata bukan seorang kurir, namun  ia merupakan seorang Asisten Rumah Tangga (ART). Film ini menceritakan kehidupan dua orang ART yang menghabiskan waktu ketika ditinggal oleh majikannya.

Karya kedua diputar, Turah menghiasi layar sama sebelumnya, film ini memakai Bahasa Jawa.  Bercerita tentang kehidupan di Kampung Tirang. Kehidupan penduduk di sana sangat menghormati  Darso, seorang juragan kaya yang mengayomi kampung. Konflik dimulai ketika Jadag seorang kuli desa untuk juragan kampung, menyadari penduduk telah dibuat ketergantungan ke Darso, yang memanfaatkan mereka demi keuntungan pribadinya.

Turah sebagai pihak penengah, digambarkan sebagai seorang pekerja yang patuh, tetangga yang baik, dan suami yang bertanggung jawab, dan Pakel seorang pengabdi desa yang setia pada Darso. Turah dan Jadag sadar dengan perilaku Darso. Kesenjangan pendidikan , sistem  pemerintahan yang acak kadut. Kehidupan rakyat bawah sangat terlihat. Semua itu memuncak di perkelahian antara Jadag, Darso dan Pakel yang berujung dibuinya Jadag.  Perjuangan Jadag berakhir saat ia digotong oleh dua orang tak dikenal.

Bihar Javarian selaku Ketua Pelaksana mengatakan untuk mencoba melihat Worked Club dari perspektif lain. Menurutnya, pembantu yang ditinggal majikan akan berbuat seperti pemilik rumah, sama halnya dengan anak yang yang tak diawasi orang tua akan berbuat semaunya. Sedang baginya, Turah mengisahkan kesenjangan pendidikan, dan kehidupan kaum proletar

Muhammad Fahri Al-Mubarok, salah seorang penonton mengungkapkan pendapatnya usai menyaksikan kedua film tersebut. Menurutnya, Worked Club absurd tetapi ia masih menghargai pembuatnya yang menyampaikan film dengan metode itu. “Di rumah gua juga ada orang-orang  yang seperti itu. Realita di Indonesia masih banyak orang kurang pendidikan seperti di Film Turah,” tutup mahasiswa UPI ini. (Aldi & Iqbal/SM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *