Menjelang Perayaan Pewindunya Pak Beye



Oleh: Dimas Satriya

Pemerintahan SBY telah memasuki tahun ke-8 pada 20 Oktober 2012 ini. Berbagai polemik yang terjadi tetap belum menunjukkan titik terang. Persoalan hukum, politik, ekonomi, dan sosial, merupakan empat poin yang harus disikapi. Dalam segi hukum, pemberantasan korupsi belum berjalan dengan baik. Kasus Century dan BLBI belum juga terjawab dalam periode kedua pemerintahannya.

Mahasiswa sebagai kaum intelektual yang memiliki intelektualitas tinggi seharusnya turut mengevaluasi kinerja pemerintah. Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai cara positif yang dapat menarik simpati masyarakat dan tidak hanya menganggap itu urusan pemerintah dan wakil rakyat saja. “Data LIPI menunjukkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan SBY menurun sekitar 40%,” ujar Pironi Grimaldi, mahasiswa Fakultas Hukum Unisba 2008.

Yusuf Marin, pedagang cireng di Jln. Tamansari, berujar bahwa apabila dilihat dari segi ekonomi, ada sisi positif dan negatif yang dihasilkan. Namun, arah pemerintahan di era kepemimpinan SBY menurutnya tidak jelas. Ia menambahkan bahwa setiap orang membutuhkan lapangan pekerjaan saat ini, akan tetapi alangkah baiknya apabila pemerintah mampu memberi pelatihan terkait wirausaha agar masyarakat Indonesia tidak hanya menjadi pekerja sehingga mampu mandiri.

Carut marut pemerintahan SBY semakin runyam tatkala KPK sebagai lembaga independen yang dibentuk pemerintah terkait pemberantasan korupsi harus bersitegang dengan Polri selaku penegak hukum. Pertarungan antara dua lembaga penegak hukum ini membuat rakyat bertanya-tanya tentang apa yang terjadi. Penarikan dukungan untuk menyelamatkan KPK melalui twitter mendulang hasil yang cukup signifikan. Kejadian ini akhirnya memaksa SBY turun tangan untuk mengomentari perseteruan yang semakin meluas.

Permasalahan konflik agraria yang akhirnya terungkap satu per satu menambah daftar hitam presiden keenam Republik Indonesia ini. “Pemerintah harus kembali diingatkan dengan cara melakukan aksi damai, membuat spanduk, atau dengan cara kritis lainnya sehingga dapat menjadi suatu teguran yang nyata dalam evaluasi kinerja mereka” ujar Yusuf Syahroni selaku presiden mahasiswa Unisba.

Mahasiswa sebagai kaum terpelajar harus memberi sikap konkret terkait semua kekeruhan yang terjadi selama ini dengan terus memberikan kritikan yang membangun. Harapan masyarakat kepada pemerintah agar Indonesia menjadi negara yang maju dan terpelajar harus terus didengungkan dan diperjuangkan oleh kaum muda. “Semoga semua elemen rakyat Indonesia dapat berpikir maju dan tidak ada lagi yang korupsi,” ujar Irfan Firmansyah, pria berusia 21 tahun yang berprofesi sebagai satpam kampus Unisba.

Semoga harapan-harapan masyarakat dan pemuda dapat didengar dan diimplementasikan oleh pemerintah sebagai lembaga eksekutif yang seharusnya mensejahterakan rakyat. Sisa waktu dua tahun sebelum pemilu tahun 2014 semoga dapat dimaksimalkan untuk menciptakan perubahan ke arah yang lebih baik. Rakyat berharap.