Mapenta Melantik Angkatan ke-35

Anggota muda Mapenta sedang berbaris mengikuti upacara pelantikan di area parkir mobil Unisba pada Sabtu (11/2/2017). Tahun ini, Mapenta melantik 11 anggota dari berbagai fakultas dengan dua anggota perempuan. (Meilda/Job)

Suaramahasiswa.info, Unisba – Rangkaian Pendidikan dan Latihan Dasar (DIKLATSAR) ke 35 yang dilaksanakan Mapenta baru saja usai. Diklatsar dengan tema “Kembali Ke Titik Nol” ditempuh selama 10 hari dengan rute mulai dari Padalarang hingga kampus Unisba. Mapenta melantik 11 anggota baru di area parkir mobil Unisba pada Sabtu (11/2).

Komandan Operasional, Firman menuturkan kendala yang terjadi di tengah kegiatan salah satunya kondisi lingkungan saat cuaca hujan. Namun, hal tersebut dapat diselesaikan dengan baik serta tidak sampai menghentikan kegiatan. Firman menambahkan, Angkatan 35 ini masih sebagai anggota muda.

Komandan Latihan dan Pengembangan kali ini, Ade Fayzal Hidayat mengatakan sebelumnya ada beberapa tahap yang dilakukan saat Diklatsar. Tahap yang dilewati selama enam bulan, dimulai dari pendaftaran formulir sampai akhirnya dilakukan penilaian dari berbagai sudut.  Baru setelah itu  ditentukan bahwa anggota layak atau tidak mengikuti pendidikan dasar. “Semoga Mapenta bisa lebih mengembangkan kemampuan dan selalu merendah. Pada intinya, prinsip kekeluargaan jangan sampai dihilangkan karena bagi saya itu merupakan suatu kebanggan,” harap Fayzal.

Salah satu anggota yang baru dilantik, Geovanna Reztu Perkasa menceritakan semua yang diberi instruktur murni dan rasional. “Kita penggiat alam bebas jadi segala sesuatu memang harus  dikontrol dengan baik, karena instruktur sendiri hanya sebagai fasilitator dan selebihnya alam yang mendidik,” tutur Mahasiswa Fakultas Syariah 2013 tersebut.

Reztu juga menjelaskan filosofi nama angkatan 35 Antari Raksa Unisi (ARU) yang memiliki arti angin yang melindungi Unisi. Antari berasal dari setiap perjalanan yang Mapenta arungi diikuti dengan angin yang kencang. Sedang Raksa diangkat dari anggota ke-35 yang terdapat perempuan sebagai sosok pelindung dan penyayang. “Kalau untuk Unisi sendiri sebagai penghormatan dan ungkapan berduka cita dengan saudara kita yang ada di Mapala Unisi,” ucap lelaki yang mengenakan syal oranye Mapenta saat itu. (Meilda/Job)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *