Kurangnya Sosialisasi Sebabkan Alumnus Tidak Mendapat Ijazah

Foto : Dokumentasi SM

Suasana prosesi pelantikan sarjana yang digelar di Gedung Kartimi Kridhoharsojo Unisba, pada Sabtu (19/3). Dalam prosesi pelantikan sarjana tersebut ada dua alumnus Unisba, yang tak bisa mengambil ijazahnya terkait tidak membayar uang wisuda. 

Suaramahasiswa.info, Unisba – Gyan Hendrata Permana selaku staf akademik Fakultas Ilmu Komunikasi mengatakan pihaknya belum mendapat sosialisasi terkait persyaratan mengambil ijazah, hal ini dikemukakan Gyan saat ditemui di ruangan Akademik Fikom pada Rabu (18/5). Terkait dua alumnus Unisba yang tidak bisa mengambil ijazah lantaran belum membayar uang wisuda karena berhalangan menghadirinya.

“Saya belum mendengar peraturan kalau tidak bayar uang wisuda, ijazah tidak bisa diambil,” ujarnya.

Ia menjelaskan, baru mengetahui alumnus yang belum mengambil ijazah saat Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fikom datang kepadanya untuk melapor. “Waktu itu BEM Fikom datang ke saya, mereka melapor kalau ada alumnus yang terganjal di pembayaran wisuda,” ucapnya.

Perihal itu ia langsung mengkonfirmasi kepada pihak akademik universitas. Mereka membenarkan bahwa untuk mengambil ijazah harus melunasi uang wisuda walau tidak ikut. Namun, Gyan mengaku baru mendapat konfirmasi melalui telfon, sedangkan Surat Keputusan (SK) belum diterima.

“Saya langsung telfon ke akademik universitas untuk konfirmasi hal ini, mereka (Baca: akademik universitas) bilang itu peraturan baru. Tapi, saya belum terima SKnya,” jelasnya.

Gyan menceritakan, ada mahasiswi Fikom yang tidak membayar uang wisuda karena berhalangan menghadirinya pada tahun 2014. Namun, mahasiswi tersebut masih bisa mengambil ijazahnya.

Septian Nugraha selaku alumnus yang belum mendapat ijazah mengaku, ia sempat berkonsultasi dengan pihak fakultas terkait alasannya untuk menghadiri prosesi pelantikan sarjana. “Saya dapat kerja di Jakarta sebelum berangkat, saya sempat datang ke fakultas untuk konsultasi. Mereka bilang wisuda itu tidak wajib dan ijazah saya akan aman,” pungkas alumnus Fikom tahun 2011 tersebut.

Septian baru mengetahui untuk mengambil ijazah harus membayarkan uang wisuda dari rekannya yang juga berhalangan mengambil ijazahnya. “Saya tau hal ini dari teman saya, dia chat saya melalui line untuk mengambil ijazah harus melunasi uang wisuda,” paparnya.

Ia mengatakan, akan bertanya kepada pihak universitas terkait hal ini. Namun, bila tetap harus membayar uang wisuda untuk memulangkan ijazahnya ia merasa kecewa. “Akan saya tanya dulu ke universitas untuk penyelesaiannya, saya akan merasa kecewa kalau tetap harus membayar untuk menebus ijazah,” tandasnya. (Vigor M. Loematta/SM)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *