Kronologis Pembubaran Paksa Sekolah Marx oleh FPI

Suasana dialog kejadian yang telah menimpa LPM Daunjati mengenai kegiatan ‘Sekolah Marx’ oleh aksi FPI yang dilakukan di Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, pada Selasa (10/5).

Dalam rilisannya, pada pukul 08.00 WIB pagi, pihak kepolisian datang ke Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) dan mengutarakan bahwa Front Pembela Islam (FPI) akan datang, menolak Sekolah Marx yang diselenggarakan Daunjati. Kemudian, setelah kedatangannya, pada pukul 11.00 WIB, terjadi adu mulut antara FPI dan Daunjati. Teriakan “NKRI harga mati”, “Anda tidak percaya Pancasila”, “Kalian PKI” pun terlontar dari bibir mereka (baca: FPI).

Chandra Irfan, pemimpin umum Daunjati, menegaskan bahwa Sekolah Marx sama sekali tidak mengorder gerakan politik, namun ilmu pengetahuan. Beberapa saat kemudian, FPI masih bergeming di depan Gedung Akademik dan Kemahasiswaan juga LPM Daunjati. Pihak universitas pun memanggil Chandra sebagai Pemimpin Umum LPM Daunjati dan John Heryanto sebagai Divisi Edukasi LPM Daunjati, untuk membubarkan massa FPI. Namun Chandra menegaskan sikapnya bahwa Daunjati tetap tidak akan memberhentikan kegiatan Sekolah Marx.

Pihak kampus pun memberikan surat pernyataan pemberhentian kegiatan Sekolah Marx kepada FPI. Selepas dibacakan oleh FPI dan ditandatangani oleh Wakil Rektor 3, kemudian mereka bertakbir, yang menurut rilisan mereka, setelahnya diakhiri dengan kalimat kasar. Sempat terjadi adu mulut kembali, yang kemudian beberapa saat setelahnya, FPI pun membubarkan diri.

Dengan adanya insiden ini, Chandra mengatakan kami menolak keras intimidasi yang dilakukan oleh FPI. Ia juga menyayangkan sikap kebebasan kampus terhadap hadirnya ormas ke dalam kampus serta kinerja polisi yang hanya berdiam diri.

Hidayat selaku Kabag. Akademik dan Kemahasiswaan menyebutkan jika kejadian yang berlangsung, datang di luar dugaan dari pihak kampus. Atas peristiwa ini, kegiatan Sekolah Marx yang telah ditetapkan pun masih dipikirkan kembali oleh Daunjati. “Kami masih harus berdiskusi dengan pihak Warek I terkait insiden yang menimpa ini, berhubung beliau juga masih di luar negeri,” jelasnya.

Hendra Permana selaku Kasubag Kemahasiswaan pun menjelaskan jika pemikiran dari FPI tidak melihat dari satu sisi yang dipertontonkan oleh kampus ini. Menurutnya, mereka tidak menilik ideologi kesenian dari kampus ini. “Seharusnya mereka bisa mengerti aqidah pengetahuan dari pertunjukkan yang dilakukan,” akhirinya. (Hasbi, Fadhis/SM)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *