Demo (Lagi) Menolak Kenaikan BBM

 

DSC04182

 

Seorang demonstran sedang berorasi menolak kenaikan harga BBM di depan Gedung Sate, (26/3).

Demo berakhir ricuh karena tindakan aparat yang tak bertanggung jawab.

 

Teks Oleh : Sugiharto Purnama & Bobby Agung Prasetyo

Foto Oleh : Bobby Agung Prasetyo


Bandung, (26/3) – Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Forum Demokratisasi Kampus (FDK) serta sekumpulan pekerja dari serikat buruh dan nelayan, bergabung untuk menyatukan aspirasinya menolak kenaikan harga BBM di depan Gedung Sate, Bandung. Demo yang berlangsung dari pukul 10.00 WIB hingga sekitar pukul 15.00 WIB ini dimulai dengan long march dari Surapati Core.
Seperti yang diungkapkan oleh Rendra salah satu demonstran, inti pergerakan mahasiswa belakangan ini adalah momentum yang tepat untuk menurunkan rezim pemerintah SBY. Kenaikan BBM sungguh sangat irasional karena banyak opsi yang bisa dilakukan oleh pemerintah tanpa harus menaikan harga BBM.
“Kita sudah mengirimkan utusan untuk menemui anggota dewan, tapi ternyata hingga beberapa lama belum mencapai kesepakatan. Akhirnya ada beberapa teman-teman disini merasa tidak sabar dan ingin merengsek masuk ke Gedung Sate hingga terjadi desak-desakan,” ungkap Dian Ciptadi aggota IMM Bandung.
Malam ini, para demonstran akan melakukan rapat konsolidasi guna membicarakan tentang rencana demonstrasi selanjutnya di sekretariat GMNI yang berlokasi di di Jln. Kancil No. 18 Bandung,  pada pkl. 19.00 WIB.
 
Demo Berlangsung Ricuh
            “Sejatinya, mereka adalah mengayomi kita sebagai warga Negara. Tapi pada kenyataannya, polisi hanya menuruti apa yang menjadi keinginan penguasa dan para pemodal. Buktinya seperti tadi, yang polisi lakukan adalah kekerasan” tutur Ai Rahmayanti dari Korpri PKC Jabar. Tindakan kekerasan yang disinyalir dilakukan oleh aparat kepolisian menjadikan demo ini berlangsung ricuh dan mengakibatkan beberapa mahasiswa mengalami luka-luka.
Kapolrestabes Bandung, Kombes Pol. Abdul Rahman Baso, meminta maaf atas kejadian ini kepada para demonstran. Ia mengaku, aparat terpancing oleh tindakan para demonstran. Permintaan maaf yang tidak diterima ini menjadi puncak kekesalan bagi para pendemo.