Cerita Hari Raya Anak Perbatasan

Nur Nilam Sari, perantau asal Sabah, Malaysia sedang menceritakan apa saja yang dilakukan ketika berlebaran di tempat asalnya pada Selasa (5/7) di rumah singgahnya. Meski sedih tidak bisa pulang kampung, dia tetap bertahan karena harus menyelesaikan pendidikannya terlebih dahulu di Indonesia.

Suaramahasiswa.info, Bandung – Satu bulan sudah umat Muslim diseluruh dunia menjalankan ibadah puasa, kemudian mereka sama-sama menyambut hari kemenangan. Mudik menjadi kebiasaan yang melekat pada masyarakat Indonesia, berkumpul bersama sanak keluarga adalah tujuan utamanya. Beberapa titik di daerah tertentu pun menjadi macet hingga belasan kilometer. Lelah memang, tapi tetap saja dilakukan bagi mereka yang rindu kampung halaman.

Fenomena diatas ternyata tidak dialami oleh seorang gadis perantau dari Sabah (daerah perbatasan antara Kalimantan Timur dan Malaysia). Nur Nilam Sari ditemui di rumah singgahnya mengaku, ini kali pertama dia merayakan Idul Fitri di negeri orang. Musababnya, cukup sulit mengurus visa untuk bisa pulang. Ditambah lagi ongkos yang tidak sedikit membuatnya mengurungkan niat untuk mudik dan baru akan kembali setelah menyelesaikan sekolahnya di Indonesia.

Selasa (5/7) siang itu, dia bercerita tentang persamaan dan perbedaan perayaan lebaran di Indonesia dengan tempat asalnya. Di Sabah, hari-hari sebelum lebaran persiapannya tidak semasif di Indonesia. Dia mengaku terperangah saat mengunjungi kawasan Alun-Alun Bandung yang penuh sesak dengan orang-orang yang ingin tampil baru di hari kemenangan.
“Kalau di tempat Nilam, tidak pernah sampai penuh orang seperti itu, karena penduduk di kampung tidak mencapai seratus dan sekelilingnya juga hanya ada pohon kelapa sawit,” sahut gadis kelahiran tahun 2000 tersebut.

Mengenai kebiasaan mudik, Nilam pun menuturkan pendapatnya. Muncul rasa kasihan terselip di benaknya kala menonton berita di televisi. Dia tak habis pikir, bagaimana para pemudik yang membludak itu rela bermacet-macetan demi merayakan lebaran bersama ibu bapak di kampung halaman.

Membeli pakaian baru, berkumpul dengan keluarga, bermaaf-maafan dengan tetangga, dan memasak makanan khas hari raya, Nilam lakukan juga di tempat asalnya. Perbedaannya hanya pada menu yang disajikan. Jika di Indonesia biasa menyantap lauk dengan ketupat, di sana ada buras, semacam beras yang dimasak dalam bambu, melengkapi ayam bumbu kemangi dan rendang. Makanan khasnya tidak jauh berbeda dengan yang di Indonesia, tambahnya.

Nilam masih melanjutkan kisahnya, meski sesekali sambil membalas pesan pada ponselnya. Ada satu hal yang menjadi kebiasaan orang-orang Sabah, tapi belum dia temukan selama menetap di Bandung. Biasanya, seminggu sebelum lebaran tiba, penduduk daerah perbatasan khususnya Sabah, memasang sebuah lampu khas yang biasa disebut ‘Pelita’ di depan rumah-rumah penduduk.

“Lampu pelita dipasang untuk menyambut lailatul qadar agar suasana kampung bercahaya. Maka dari itu dipasangnya seminggu sebelum lebaran,” ujarnya.

Perbincangan kami pun ditutup dengan pengakuannya yang ingin pulang dan merayakan Idul Fitri di rumah. Namun apa daya, perjuangannya dalam mengenyam pendidikan dan ingin membanggakan orang tua menjadi alasan yang membuatnya bertahan dan memilih menetap sementara di Indonesia. (Rifka/ SM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *