Ajo Sidi, Si Pendongeng yang Membual

Suasana pementasan Robohnya Surau Kami yang diadakan Stuba pada Jum’at (1/2) di Student Center Unisba. Teater ini mengisahkan Ajo Sidi-si pendongeng sekaligus pembual- yang selalu bercerita bohong kepada orang-orang sehingga mereka tertekan dan terhasut dengan dongengannya.

Suaramahasiswa.info, Unisba- Rintik hujan Jumat (1/4) itu tidak menghalangi para penonton yang ingin menyaksikan pementasan dari Studi Teater Unisba (Stuba) di Student Center. Robohnya Surau Kami, begitulah judul cerita yang diangkat ke dalam pentas kali ini. Pertunjukan dibuka dengan lantunan adzan yang dikumandangkan oleh seorang aktor, di susul dengan para aktris berpakaian serba putih, memanjatkan do’a kepada yang Maha kuasa dengan lantang.

Sejatinya, ini adalah cerita pendek (Cerpen) karya A.A Navis yang kemudian Hermana HMT menyadurnya kedalam pementasan teater. Bertemakan sosial-religius, cerpen yang penuh kata-kata satir ini menjadi karya yang monumental pada masanya. Pada kesempatan ini, Stuba turut menyajikan pagelaran Robohnya Surau Kami.

Kunci utama dari kisah ini adalah Ajo Sidi, yang sering bercerita bohong sehingga orang-orang terhasut oleh dongengannya. Hal tersebut dibenarkan oleh Muhammad Ikhsan Ramadhan yang berperan sebagai Ajo Sidi. “Dia sering mendongeng dan membual, dia bercerita tentang seperti apa akhirat itu padahal belum terbukti adanya. Sampai pada puncaknya ada kakek yang terhasut kemudia bunuh diri,” ujarnya.

Senada dengan Ikhsan, Tutun Imam Turmudzi, sang sutradara menjelaskan, suatu ketika Ajo Sidi bercerita kepada kakek bahwa ada seseorang yang hidupnya taat menyembah Tuhan dan tidak memikirkan kehidupannya di dunia, dialah Haji Saleh. Akhirnya Haji Saleh masuk kedalam neraka karena mengabaikan hubungannya dengan sesama manusia. “Ajo Sidi berdongeng kepada kakek bahwasannya di akhirat nanti itu ada seseorang yang rajin beribadah, sama seperti yang dilakukan kakek, tapi malah masuk ke neraka. Akhirnya kakek bunuh diri karena terus terpikirkan cerita tersebut,” tandas mahasiswa Fakultas MIPA tersebut.

Tutun menambahkan, pesan yang terkandung dalam cerita ini adalah manusia tidak boleh hanya menjalin hubungan baik dengan sang khalik, tapi juga dengan sesama manusia. Disebutkan dalam dialog ketika sebuah suara berkata pada Haji Saleh, kesalahan engkau,karena telah mementingkan diri sendiri. Kau tak mau masuk neraka karena itu kau taat bersembahyang, tapi engkau melupakan kehidupanmu sendiri, melupakan kehidupan anak istrimu sendiri, sehingga mereka kocar-kacir selamanya.

“Menurut saya, teater ini berpesan bahwa jika kita benar-benar taat kepada Sang Pencipta, selalu membaca kitabnya, maka seharusnya hubungan dengan sesama manusia pun akan baik,” tutup Tutun di sela waktu istirahatnya. (Rifka/SM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *