50 Nama Duduk di BEMU, Presma Nyatakan Jumlah itu Ideal

Wapresma Putri Suci Haruni menyusun berkas yang berisi nama lima puluh anggota baru Badan Eksekutif Mahasiswa Unisba (BEMU) pada Jumat (2/3/2018). Meski jumlah ini lebih banyak dari periode sebelumnya, Priyo merasa jumlah ini ideal. (Fadil/Job)

Suaramahasiswa.info, Unisba – Badan Eksekutif Mahasiswa Unisba (BEMU) mengumumkan hasil screening calon pengurus, pada Jumat (2/3). Dalam ketetapanya lima puluh orang dari 55 pendaftar menjadi pengurus dalam periode ini. Diungkapkan Presiden Mahasiswa Priyo Puji Laksono jika jumlah ini lebih banyak dibanding periode lalu yang hanya sekitar tiga puluh orang. Ia merasa anggota kabinetnya termasuk ideal untuk BEMU.

Menurut Priyo dengan jumlah tersebut akan ada lebih banyak pemikiran, sudut pandang dan bertambahnya tenaga. Ia memprediksi jika pengurus terpilih yang telah ia screening sebelumnya, juga akan mundur secara perlahan. “Saya sering alami dalam kepengurusan, dari semua pengurus biasanya hanya beberapa yang aktif. Jadi lebih baik gemuk dari pada kurang,” ucapnya pada Jumat (2/3).

Meski begitu, ia melihat yang duduk sebagai eksekutif periode ini telah memenuhi beberapa kriteria yang di buat. “Terdapat beberapa pertimbangan dalam penerimaan pengurus baru tersebut, diantaranya dari segi kolaborasi, pergerakan, keislaman dan intelektualitas.” Hal itu ia lakukan setelah menyesuaikan pada visi dan misi yang sudah ditetapkan sebelumnya. Priyo berharap, dengan timnya ia dapat menyelesaikan permasalahan mahasiswa Unisba yang masih terbilang apatis dan menganggap tabu terhadap keberadaan BEMU.

Lain halnya dengan Warek III Asep Ramdhan Hidayat yang berpendapat bahwa ideal itu tidak diukur berdasarkan angka melainkan berdasarkan kebutuhan. Untuk jumlah keanggotaan sendiri, ia tidak membatasi banyak atau sedikitnya. Namun ia menegaskan jangan sampai BEMU dipandang sebagai kabinet gemuk. “Lebih banyak pendapat dari anggota itu nanti susah untuk mengambil kesimpulan, tapi mudah-mudahan 50 orang itu bukti tidak gemuk,” tuturnya saat dietemui di ruangannya pada Jumat (2/3).

Asep berharap BEMU dapat dijadikan sebagai fasilitas belajar mahasiswa, sehingga tidak ada yang merasa lebih pintar dalam kepengurusan. Ia juga berharap presma mampu membaca karakter dari semua anggotanya dan mampu memegang amanah dari sisi anggaran. “BEMU itu rusaknya oleh temen-temen sendiri dalam mengerjakan Lembar Pertanggungjawaban (LPJ), tapi kalau misalnya kerja bareng-bareng itu tidak akan terjadi,” tutupnya. (Fadil/Job)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *