[Artikel] Saya Menolak Hitam Putih!

Oleh: Raden Muhammad Wisnu Permana

Saya adalah mantan mahasiswa Universitas Katolik Parahyangan, dan melihat bahwa di beberapa perguruan tinggi swasta, mereka tidak mempergunakan pakaian hitam putih seperti di Unisba. Bahkan, di Unpar (seluruh fakultas) sendiri mahasiswa tidak harus menggunakan kemeja untuk mengikuti UTS dan UAS. Saya juga berpendapat bahwa intelektualitas mahasiswa tidak ditentukan oleh penampilan, apalagi penampilan bisa sangat menipu.

Jika diberi alasan untuk kerapian, saya sendiri menilai perguruan tinggi yang prestasi akademik dan non akademiknya lebih tinggi dibanding Unisba seperti ITB dan Unpar pun tidak memberlakukan aturan hitam putih untuk mengikuti UTS dan UAS sekalipun. Terbukti, bahwa intelektualitas seseorang tidak ditentukan oleh penampilan.

Menurut saya, Fikom sendiri sudah berinovasi dengan ‘move on’ dari hitam putih, namun, mengapa harus kembali menatap masa lalu dengan kembali menggunakan hitam putih? Ini patut dipertanyakan dan dipertimbangkan kembali.

Berbeda dengan Fakultas Teknik maupun Fakultas Psikologi yang saya nilai homongen, karena sebagian besar dari mereka tentu menjadi engineer maupun psikolog yang memang harus berpenampilan serba rapi dan sama. Berbeda dengan Fikom yang tidak seluruh lulusannya menjadi jurnalis, public realtions maupun orang yang berkarir di dunia komunikasi dan media. Masing-masing individu memiliki jalannya sendiri-sendiri dalam mempraktikkan ilmu komunikasi yang dipelajarinya semasa kuliah.

Jika memang dilanjutkan kebijakan hitam putih ini, mahasiswa harus mengeluarkan uang kembali untuk membeli ‘seperangkat’ atribut hitam putih yang tidak murah. Bahkan dengan uang kuliah sekarang pun saya menilai kuliah di Unisba sudah sangat mahal, apalagi jika ditambah dengan paket kebijakan hitam putih tersebut. Ayah saya bukanlah Aburizal Bakrie yang memiliki pengasilan ‘tiga miliar’ dalam sehari! Jadi tentu saja ‘satu set’ pakaian tersebut sangatlah mahal.

Dengan menggunakan kemeja dan almamater seperti yang saya alami pun, saya sulit berkonsentrasi saat pelaksanaan UTS tertulis dikarenakan panasnya ruangan kelas di kampus biru ini. Hal tersebut diperparah dengan sempitnya ruangan dan tidak adanya pendingin ruangan. Sedihnya, kampus ini kalah dengan bimbingan belajar ‘non formal’ yang bertebaran di luar sana, karena mereka memiliki pendingin udara (AC), sedangkan kita sendiri tidak memilikinya sama sekali.

Tak hanya itu, dengan memakai seragam kebesaran hitam putih tersebut, banyak dari para mahasiswi yang berpakaian ‘ketat’ dan ‘tembus pandang’ dengan ‘tali kutang’ kemana-mana dan tentu saja mengundang ‘syahwat’ dari para lelaki. Apakah ini yang dinamakan Universitas Islam bung? Alih-alih konsentrasi pada soal UTS, saya dan lelaki normal lainnya akan dengan sibuk melihat ‘pemandangan’ tersebut.

Hal ini tambah fatal karena pihak dekanat sendiri tidak pernah melibatkan para mahasiswa dalam melakukan kebijakan. Kebijakan ini sangatlah sepihak dan tidak adil. Di kampus lain saja, untuk permasalahan pemilihan rektor yang baru, mahasiswa selalu dilibatkan dalam audiensi terbuka agar semuanya menjadi jelas. Hei, bukankah sudah ada UU Keterbukaan Informasi Publik (KIP) agar semuanya transparan dan terbuka?

Namun anehnya, ketika mahasiswa terlambat membayar biaya perkuliahan maka akan dikenakan cuti paksa, sedangkan mahasiswa sendiri tidak pernah dilibatkan dalam pembuatan kebijakan. Lebih jauh lagi, kemana uang mahasiswa selalma ini? Sejak saya awal berkuliah hingga hampir lulus pun, fasilitas tetap begitu-begitu saja tanpa ada perubahan yang berarti!

Ayolah bung! Jangan menjadi orang yang menyebalkan dengan melakukan kebijakan seenaknya seperti ini! Jika menilai visi misi Unisba menjadi perguruan tinggi Islam terkemuka di Asia, yang terpampang di sudut-sudut kampus, rasanya sangat jauh dari hal tersebut. Mahasiwa di kampus tidak diberi fasilitas ‘standar Asia’, kebebasan berpendapat tidak ada, serta kualitas dan kuantitas dosen yang sangat jauh dari ‘standar Asia’.

Kembali ke permasalahan hitam putih, harus ada itikad baik dari pihak yang merasa bertanggung jawab, entah itu cleaning service, dekan, rektor atau apapun sebutan namanya, agar masalah ini bisa diselesaikan dengan melibatkan mahasiswa, bukan dengan paket kebijakan sepihak seperti ini. Mungkin, memang benar, bahwa keadilan hanya ada di langit, dan dunia hanyalah palsu. Hidup mahasiswa!

Share Button
  • M Roby Iskandar

    Mantap bung Wisnu, jadi gimana nih besok rabu? Apa harus ke kosambi dulu kita fitting kostum UTS?