“Sosial Climber” Dapat Sebabkan Kelainan Psikologis

Foto Ilustrasi Sosial Climber. (Ifsani/SM)

Tau Sosial Cimber? Ada di sekitar kita gak ya? Boleh gak sih? Ada dampaknya gak ya?

“Aku sih sekarang udah biasa aja kaya ga peduli, tapi waktu dulu, sekali aku mendapat like yang banyak aku kecanduan buat ngepost lagi. Itu terjadi terus menerus ” kata pemilik akun @rheffinkarmn.

Ia merasa bila terus menggungah konten, maka followersnya akan bertambah dan kemudian menjadikan terkenal. Sehingga, harapnya ada yang menginginkan promosi produk melalui jasanya (endorse). Dahulu, Rheffinka kecanduan ketika followersnya banyak. Kini, setelah akunnya di retas, rasa antusiasnya tidak seperti dulu.

Selain kecanduan menginginkan followers yang banyak. Ketika mengunggah konten di instagram, ada juga yang memperhatikan like dan komentar followersnya. Bila like dan komentar tidak sesuai ekspektasi, konten tersebut langsung dihapus.

Seperti pemilik akun @anisakaniaf,  bila ekspetasinnya tidak terwujudkan ia merasa gelisah dan cemas. ”Jadi abis aku ngepost di instagram aku pantengin terus,  kalau dalam satu jam  likenya ga mencapai seratus aku langsung hapus lagi,” kata Anisa.

Dilansir dari kompasiana[dot]com, social climber ini merupakan kelainan sosiologis dan psikologis, bisa dikatakan orang yang mengalami ini mengidap penyakit kejiwaan. Hal ini disebabkan karena orang tersebut tidak berperilaku sebagaimana dirinya sendiri. Tapi melakukan apa yang dilakukan orang lain supaya sama.

Social climber, gaulnya sih, panjat social memiliki dampak yang buruk bagi psikologis, karena kecanduan posting sesuatu. Keresahan juga gelisah jika tidak mendapatkan apa yang diharapkan menjadi pemicu psikologis. Bila tercapai pun, perasaan senang untuk mengulang muncul dalam diri.

Dilansir dari doktersehat[dot]com Dopamin sering disebut sebagai zat yang berkontribusi dalam perasaan senang. Hal ini ada benarnya karena neurotransmitter ini memang dilepaskan ketika seseorang merasakan situasi atau momen yang menyenangkan. Hal ini lah yang membuat orang cenderung ingin melakukan kembali kegiatan yang menyenangkan tersebut. Kegiatan seperti makan atau berhubungan seksual adalah dua contoh kegiatan yang merangsang terlepasnya dopamin.

Jadi guys, social climber itu berbahaya bila keterusan dan cemas itu muncul. Karena adannya zat dopamine yang menjadikan rasa ketagihan. So jangan jadi social climber yaa karena kalo ketagihan bisa menjadi masalah.

Penulis: Raihan Rachmansyah/SM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *