Ritual Sedekah Bumi Sebelum Bertani di Jatiwangi

Foto: Dokumentasi SM

Suaramahasiswa.info – Budaya ataupun adat-istiadat memang selalu diturunkan dari generasi ke genarasi berikutnya. Hal itu yang membuat Indonesia memiliki keberagaman budaya. Seperti halnya upacara adat sebelum memulai bertani yang dilakukan oleh warga Desa Jatisura, Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka.

Upacara adat ini disebut Sedekah Bumi, namun warga desa biasa menyebutnya Guar Bumi. Ritual ini rutin dilakukan setiap tanggal 10 Oktober sebagai bentuk doa dan pengharapan agar dilancarkannya proses memanam padi. Dengan melakukan upacara ini, warga Jatisura berharap dapat turunnya hujan sehingga saat bertani tidak terjadi kekeringan.

Selaku sesepuh di Desa Jatisura, Kartawa atau yang lebih akrab disebut Wa Didi bercerita bahwa pagelaran sedekah bumi ini diadakan selama satu hari penuh. Di mulai sejak pagi hari, warga berbondong-bondong pergi ke makam leluhur untuk meminta kelancaran bertani. Siang harinya dilanjutkan dengan penampilan sintren atau yang lebih dikenal dengen nama Tari Ronggeng yang diakhiri pagelaran wayang kulit.

Meskipun upacara adat ini telah lama dilakukan, namun hal itu tak luput dari kontrovesi. Sedekah bumi ini banyak menuai pro dan kontra sehingga pernah diberhentikan sementara. Beberapa warganya menganggap bahwa ritual ini musyrik karena melanggar kaidah-kaidah Islam yang dianggap memuja para arwah leluhur. Namun sebagian warganya menyangkal hal tersebut, bagi mereka ritual ini hanya sebagai adat-istiadat yang telah dilakukan secara turun-temurun.

Akibat perselisihan itu, warga Jatisura pun bermusyawarah untuk mendapatkan jalan tengah. Setelah beradu argumen, hasilnya pun upacara ini tetap menjadi budaya di Desa Jatisura. “Tapi teknis pelaksanaan ritualnya sedikit dirubah, bukan lagi berdoa ke makam leluruh tapi berdoa ke Gusti Allah,” ungkap Wa Didi.

Selaku mantan kepala Desa Jatisura, Ginggi Syarif Hasyim memaparkan bahwasanya ritual sedekah bumi ini bukan hanya sekedar doa untu meminta turunya hujan melainkan untuk mempererat tali silaturahmi. “Menjalin kekeluargaan dengan warga itu hal yang penting untuk membangun desa agar sejahteradan rukun,” tuturnya. (Gina, Elgea dan Agistha/SM)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *