Polyglot Indonesia, Mendunia dengan Bahasa

Foto: dokumentasi pribadi.

Sobat kampus tahu enggak, sih seberapa penting kita mempelajari bahasa asing? Dilansir dari artikel liputan6[dot]com pada 25 Januari 2017, ada beberapa hal yang membuat bahasa asing itu penting dipelajari. Diantaranya, meningkatkan pengetahuan akan ruang lingkup global dan membantu memahami budaya sendiri. Tidak menutup kemungkinan juga untuk mengekspansi ruang lingkup belajar hingga ke luar negeri. Wih, mantap.

Banyak cara buat belajar bahasa asing, bisa dengan ikut kursus atau membiasakan diri nonton film tanpa terjemahan. Kalau ingin yang lebih asik ada juga komunitas yang mewadahi kalian-kalian yang ingin mengembangkan berbicara dengan bahasa asing. Komunitas itu bernama Polyglot Indonesia. Kata itu sendiri berasal dari bahasa Yunani, poly artinya ‘banyak’ dan glot artinya lidah. Jadi bisa diartikan polyglot itu kemampuan dalam berbahasa lebih dari satu.

Usut punya usut, terbentuknya Polyglot berawal dari tiga mahasiswa jurusan Bahasa Perancis, Universitas Gajah Mada (UGM). Rasa tidak puas pun muncul karena pembelajaran di kampus dirasa terlalu text book, sehingga mereka membutuhkan praktek berbicara langsung karena mereka anggap bahasa itu digunakan untuk berkomunikasi. Dibentuklah kelompok tersebut, terinspirasi dari komunitas serupa yang lebih dulu ada di Prancis.

Seiring berjalannya waktu, lingkaran belajar tersebut makin meluas, bahasa yang dipelajari pun bertambah karena metode belajar yang para mahasiswa itu lakukan dianggap sangat membantu dalam menguasai bahasa asing. Tepat pada 17 Agustus 2013 di Yogyakarta komunitas tersebut berdiri.

Sempat vakum lantaran anggotanya meneruskan kuliah di luar negeri, tetapi setelah itu kembali aktif dan diresmikan lagi di Jakarta. Kini sudah tersebar di sepuluh kota di Indonesia salah satunya di Bandung. Febri Darusman, ketua Polyglot cabang Bandung membagikan kisahnya tentang kegiatan yang dilakukan dalam komunitas tersebut.

Ada kegiatan bernama regular meet up, diadakan rutin setiap hari Minggu. Dalam pertemuan tersebut, dibuat kelompok-kelompok -atau yang mereka sebut laskar – berdasarkan bahasa yang berbeda, sejauh ini ada 20 bahasa. Kemudian dalam pertemuan tersebut diadakan diskusi dengan tema tertentu. Para  anggota dibiarkan berbicara dengan bahasa asing sebisanya agar semakin cas cis cus. “Setiap kelompok ada semacam tutornya juga, biasanya kita sebut ‘tabib’ yang bertugas mengoreksi bahasa para anggota saat berdiskusi,” sahut Febri.

Selain aktifitas rutin, ada pula acara yang sifatnya insidental yakni sharing session. Dengan yakin Febri memaparkan, kegiatan itu semacam workshop yang terbuka untuk umum. Sharing session digelar oleh tiap laskar bahasa untuk memberi edukasi kepada khalayak tentang bahasa asing. Kalau kata Febri, mah spread awareness gitu. Misalnya pada Spanish sharing session, mereka memperkenalkan seluk beluk Spanyol. Mulai dari sejarah bahasa, karakter masyarakatnya, budaya, dan lain sebagainya.

Dalam setahun komunitas ini membuka pendaftaran sebanyak satu kali dalam enam bulan. Saat merekrut pun ada tahap seleksinya dulu, lho. Mereka memang mengutamakan orang-orang yang sudah pernah belajar dan ingin mengembangkan kemampuan bahasa asingnya. Bukannya pilih kasih, buat yang masih nol banget takutnya enggak kekejar soalnya harus udah tau setidaknya kosakata atau percakapan dasar dari bahasa yang diminati.

Jadi gimana nih, tertarik buat ngelancarin bahasa asing enggak? Minimal bahasa Inggris, deh yang udah jadi bahasa internasional. Siapa tau bisa nambah relasi sampai ke seluruh penjuru dunia, terus kepincut sama lelaki macam Channing Tatum atau wanita kaya Amanda Seyfried. Ulala…

 

Oleh Rifka Silmia Salsabilla

Alumni Fakultas Dakwah angkatan 2014

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *