Pengalaman Menjadi LGBT, Masuk Unisba, dan Pandanganku Tentang Islam

Ilustrasi LGBT. (Ifsani Ehsan/SM)

Aku adalah seorang laki-laki berumur 19 tahun. Aku tumbuh besar bersama ayah dan ibu yang religius, serta satu kakak. Keluarga kecilku bisa dibilang cukup harmonis.

Aku punya satu hal yang berbeda dengan mayoritas orang: aku seorang gay. Aku suka dengan sesama laki-laki.

Sudahku sebutkan di atas, bahwa keluargaku cukup harmonis dan tidak neko-neko selama ini. Namun suatu waktu, saat aku berumur sekitar 6 tahun, ibuku menyuruh asisten rumah tangga yang seorang laki-laki untuk memandikanku. Sambil memandikanku, sang asisten menyodorkan alat kelaminnya dan memintaku memainkannya.

Saat itu aku masih polos dan tidak tahu menahu tentang hal semacam itu, meski ada sedikit rasa jijik. Lama kelamaan hal itu memicuku untuk mencobanya lagi. Kebetulan momentumnya pun muncul lagi, kini giliran dengan sepupuku.

Sepupuku seorang laki-laki. Ketika itu, sepupuku yang berstatus siswa SMA sedang nonton film biru di sebelahku. Mungkin kepepet ingin melakukan hal yang sama dengan film tersebut, ia pun melampiaskannya kepadaku.

Dan semakin lama, aku semakin sering melakukannya.

Rasa suka dengan laki-laki pun pelan-pelan muncul. Aku merasakannya mulai zaman SMP. Saat nongkrong bersama teman-teman, ada rasa yang berbeda ketika dekat dengan teman laki-laki. Aku deg-degan, malu-malu, dan semacam feminim. Rasanya bikin aku bingung.

Rasa yang aku anggap aneh itu, aku coba lawan. Beberapa kali aku kencan dengan perempuan, namun tidak ada perubahan – aku tetap tertarik laki-laki. Ini membuatku bertanya-tanya, “Ini serius kayak gini?”. Awalnya merasa stres. Semakin lama semakin biasa.

Yang pada akhirnya biasa saja, saat kelas 10 SMA, pelan-pelan aku beri tahu identitas ini kepada teman terdekat. Beberapa dari mereka kaget, nangis, dan segala macam. Namun, dengan aku mengungkapkannya sendiri, aku rasa mereka menghargai orientasi seksualku.

Aku muak dengan kepalsuan. Aku capek jika terus menutup-nutupi.

Namun, sampai sekarang, aku enggan memberitahu orangtuaku. Dengan alasan mereka pasti kecewa dan sedih mengetahui anaknya seorang LGBT. Jika waktunya tepat, aku pasti akan beritahu orangtua.

Unisba, Islam, dan LGBT

Waktuku untuk memasuki jenjang pendidikan selanjutnya pun tiba. Aku memilih berlabuh ke Universitas Islam Bandung (Unisba), karena kampus ini adalah salah satu kampus Islam prestisius di Kota Bandung. Entah benar atau tidak, itu yang aku rasakan.

Saat bertandang ke kampus ini, aku masih ingat Unisba pernah menaruh baliho bertuliskan “Unisba Menolak LGBT”. Aku tahu, bahwa Unisba – yang punya label Islam – menganggap kelompok LGBT sebagai hal yang menjijikan, haram, dan tempatnya di neraka.

Aku pun mengalah pada kondisi lingkungan, aku menutup diri. Kampus pasti akan menendangku jika tau aku seperti ini. Padahal kampus adalah wadah intelektual, harusnya orang sepertiku merasa aman di sini.

Sama halnya dengan Islam, agama harusnya menerima apapun latar belakang umatnya. Agama boleh diimani oleh siapa saja, terlepas penganutnya memiliki orientasi heteroseksual atau homoseksual. Memangnya, agama hanya milik hetero?

Apalagi masalah orientasi seksual adalah masalah rasa, sulit memaksakan apa yang harus seorang manusia rasakan. Aku yakin, Allah menciptakan rasa seperti ini bukan tanpa alasan. Dan aku yakin, Allah akan menerimaku walau umatnya tidak.

__________

Penulis merahasiakan identitas demi melindungi dirinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *