Kita Bisa Apa?

Oleh: Faza Rahim Kesuma Puteri

Belakangan ini, marak sekali berita tentang Angeline. Seorang bocah cantik berumur 8 tahun di Bali  yang diduga  mengalami tindak kekerasan dari keluarga angkatnya (Ibu dan Kakaknya). Bagaimana seorang ibu angkat, tak segan mengubur anak perempuan  hidup-hidup (sampai tewas), di kandang ayam. Suatu keadaan yang ironis dan sangat mengguncang rasa kemanusiaan siapapun yang mendengar ataupun melihatnya.

Banyak kecaman muncul dari berbagai lapisan masyarakat. Mulai dari harapan masyarakat agar si Ibu dihukum mati, karena nyawa dibalas nyawa katanya, atau jutaan kecaman yang muncul di media sosial, sampai di media massa. Semua seolah mencurahkan kemarahan atas tindakan  amoral dari ibu tiri Angeline. Mereka berlomba-lomba menjadi yang paling memanusiakan manusia, berusaha menjadi yang paling vokal dalam menunjukkan empati.

Tapi… tunggu dulu.

Menurut kronologis kejadian, banyak saksi yang mengatakan bahwa mereka sering melihat Angeline disiksa oleh ibu tirinya. Tapi apa ada yang mereka lakukan untuk menolong Angeline? Adakah satu dari sekian banyak saksi yang berani memarahi balik ibu Angeline? Atau membela Angeline saat ia dimarahi? Tidak. Mereka diam.

Sehari-hari banyak guru yang sadar kalau Angeline sering bersekolah dalam keadaan bau, lusuh, juga tidak segar seperti teman-temannya. Tapi adakah tindakan yang mereka lakukan untuk membantu Angeline? Misalnya, menanyakan keadaannya atau datang kerumahnya untuk mencari tahu? Adakah? Tidak. Mereka hanya diam. Diam membisu, seolah tidak terjadi apa-apa pada siapa-siapa.

Barulah, ketika jasad Angeline ditemukan sudah tak bernyawa, lalu dikubur bersama bonekanya di kandang ayam, semua orang histeris. Namun semuanya sudah terlambat. Nasi sudah menjadi bubur, dan boro-boro mau ditambahin sama cakue biar enak, semuanya sudah terasa basi.

Kejadian ini, adalah pembelajaran berharga untuk kita semua. Jangan pernah menunda untuk menolong atau berbuat baik pada sesama. Sebuah refleksi yang harusnya bisa membuat kita tahu diri, bahwa kita harus saling perduli.

Bangsa ini, melakukan penggerebekan pada kost-kostan mesum saja berani. Bangsa ini, mengatakan koruptor harus dihukum saja berani. Lucunya, untuk menolong orang dekat yang sedang jadi korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), kita justru tak bergeming sama sekali. Semua nyali hilang entah kemana (mungkin sedang dipinjam sama peserta uji nyali di salah satu stasiun televisi, kali).

Ketidakperdulian kita lagi-lagi harus dibayar nyawa. Sampai berapa kali semuanya harus terulang? Begitu susahnyakah untuk menjadi orang baik? Kemana cita-cita kita waktu kecil yang berharap bisa jadi orang baik bagi sesama, bermanfaat bagi lingkungan dan lain-lain itu? Cuma jadi angan-angan ya?

Napoleon Bonaparte sepertinya di dunia sana sedang tersenyum sinis. Sebab, hanya dia yang berkata, bahwa: dunia bisa menjadi busuk bukan karena tindakan orang-orang jahat. Tapi karena banyak orang baik, yang tidak punya nyali untuk bertindak.

Jangan ragu untuk menjadi baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *