Kemana Perginya Dia? Rasanya Baru Kemarin Kulihat di Depan Kelas

Senin ini, selain hari kerja yang gitu-gitu aja. Adalah hari yang mungkin baiknya kita rayakan. Setelah melalui banyak perumusan dan revisi demi terciptanya sebuah bentuk ideologi sebuah bangsa, pancasila yang kerap menyapa di depan ruang kelas ini pun lahir di tanggal 1 Juni. Lantas sang bayi pun diagung-agungkan orang tuanya, didaulat menjadi landasan dari negara yang akan besar nantinya.

Beranjak remaja sang filsafat bangsa jatuh hakikatnya menjadi sesuatu yang klenik dan kerap dianggap berkekuatan magis. Tentu ini berkat sang empuh. Namun hari ini, Senin ini, kelima sila itu pergi main jauh, jauh sekali. Mungkin sedang merantau karena sudah kelewat tua. Ia tak berbekas di hati kamu, aku dan mereka. Nisannya pun belum ditemukan, mungkin ia sedang menyelamatkan jiwa-jiwa kelaparan di belahan dunia lain, sebab telah bosan melihat babi-babi peliharannya yang sibuk dengan lumpur, kotorannya sendiri.

Lagi-lagi bukan karena momentum ini saya menuliskan surat ini, saya hanya sedikit teringat sebab surat kabar tadi pagi sangat bersemangat menuliskan pesan yang serupa. Tentu bukan pula saya ingin jadi latah untuk mengikuti rekanan yang angkuh itu. Ini hanya untuk memuaskan hasrat pribadi, dan semoga kau mau mendengarnya kawan.

Bagaimana jika kita jemput saja dia kembali. Agar ia gembalakan kita lembu-lembu kristus yang kelaparan dan buta. Ia bisa jadi panutan, karena sang empuh telah memformulasinya segeneral mungkin namun tetap paripurna. Tampanya kita mungkin angkat bambu atau bersembunyi di balik kelambu, menangis meminta pelukan ibu. Tapi saat kelewat sombong, kita pun mungkin akan lupa, memegang segelas vodka, dan menantang dunia tanpa landasan paripurna.
Akhir kata, kata akhir, ini belum berakhir! (Muhammad R. Iskandar/SM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *