Bertahan untuk Jiwa yang Hilang

Foto Ilustrasi.

Sedekat apapun kini,

Sebanyak apapun kenangan,

Jika tak berjodoh pasti Allah akan memisahkan.

Sejauh apapun jarak membentang,

Sejauh apapun kita tak saling mengenal,

Jika memang berjodoh maka akan Allah memudahkan

Biarlah kebetulan yang berujung pada pertemuan.

***

Andreana Nurdara, Gadis yang memiliki paras cantik, dibalut dengan jilbab yang diikat di belakang leher tengah sibuk dengan materi presentasi yang besok akan ia bawakan bersama timnya. Dara, mengabaikan semua orang yang menyapanya, bahkan untuk sekedar berpamitan. Jam pulang kantor memang sudah  berakhir 30 menit yang lalu, sedangkan Dara enggan untuk meninggalkan meja kantornya.

Saat adzan berkumandang Dara menyudahi pekerjaanya, itu mejadi alarm batas waktu ia berada dikantor. Dara menghela nafas panjang dan mengeluarkanya perlahan, ‘syukurlah materi Presentasi besok sudah ia selesaikan’ ujarnya dalam hati.  Setelah itu, langkahnya ia bawa menuju masjid besar tepat disebrang kantor untuk melaksanakan perintah sang pemilik alam semesta, Shalat.

Dara menengadahkan tanganya,merendahkan dirinya dihadapan Sang Maha Pencipta. Dara tidak ingin diganggu kali ini,  gadiss ini hanya ingin bermanja-manja membiarkan waktunya kali ini ia untuk Allah saja.

Dara tinggal di apatermen milik ayahnya. Kedua orang tua Dara tinggal di Jogya, sedangkan Dara bekerja sebagai editor disebuah penerbitan di Jakarta.  Dara meraba sebuah foto lama. Nampak seorang pemuda sedang duduk disampingnya mengenggam sebuah eskrim kesukaanya.

Dara terisak saat mengingat dimana ia masih bersama-sama dengan kekasihnya. Cinta hadir begitu saja diantara mereka, namun rupanya Sang Pemilik Cinta enggan untuk menyatukan mereka berdua.

***

Flashback

Suatu malam setelah pemuda yang bernama Rendra, baru saja mengantarkan Dara pulang. Malam itu Dara tidak merasakan firasat apapun. Dara lantas memasuki rumahnya dan meninggalkan Rendra yang hendak pulang. Dengan melambaikan tangan dan senyuman yang tak pernah pudar diwajahnya.

Tidak lama setelah itu Dara menerima sebuah SMS yang berisi.

Dara, Aku lupa mau memberimu sebuah kejutan. Esok saja ya. Aku pulang. Jaga dirimu baik-baik. Jika rindu sebut namaku dalam do’a-do’amu. Love u.”

Malam itu juga Dara terlelap dengan sebuah senyuman yang mengiringi ia terlelap dalam tidurnya. Hanya satu alasan mengapa Dara ingin segera kembali membuka matanya setelah terpejam. Ya,  bertemu kembali dengan sang pengeran. Setelah menunaikan shalat subuh Dara mencari Handphonenya yang ia cas selama semalam.

“Ra! Dara… lo udah bangun? Ra buka pintunya.” Dara terpelojat kaget karena suara pintu apatermenya yang diketuk sangat keras dan menampkan seorang gadis yang sudah menjadi sahabat karibnya selama ia memutuskan untuk menetap di Jakarta.

“Ada apa Fa? Lo pagi-pagi udah ngagetin gue. Kay…” ucapan Dara dipotong.

“Rendra meninggal Ra!”

Dara tak mampu melanjutkan kata-kata yang dipotong oleh Defa sahabatnya. Tubuh Dara tiba-tiba saja membeku saat indra pendengaranya menangkap dengan jelas pernyataan yang sepantasnya ia tidak dengar. Air mata begitu saja mengalir dengan deras, dadanya sesak. Bahkan pandanganya kini kabur setelah pernyataan yang dilontarkan oleh Defa.

“Ra! Lo yang kuat Ra, lo pasti bisa tanpa Rendra. Ra.. lo denger gue kan.” Defa mengguncangkan tubuh Dara yang masih mematung dengan air mata yang terus menetes tepat dikelopak matanya.

Dara merebahkan tubuh ke ubin yang keras, tangisnya pecah saat ia, membayangkan wajah Rendra yang tengah tersenyum padanya. Dara menangis sekencang-kencangnya dipelukan Defa. Defa terus menenangkan yang bahkan lunglai dengan luka yang menyayat hatinya.

“Antar gue, ketemu Rendra Fa,” ujar Dara lirih dengan mencoba berdiri.

“Iya, gue bakalan anterin lo. Tapi lo harus kuat, lo gak mau kan Rendra liat kalau lo selemah ini?”

Merekapun bergegas kerumah dimana Rendra disemayamkan. Malam itu, sepulang dari rumah Dara, Rendra mengalami sebuah kecelakaan. Sebuah Truk dengan kencang mengahantam dan menabrak mobil Rendra yang sedang melaju pelan. Rendra sempat sadar saat ia dibawa kerumah sakit, namun Tuhan berkehendak lain. Rendra hanya membuka mata untuk sesaat setelah itu, terbanglah ruhnya meninggalkan tubuh yang terbujur kaku.

Disepanjang perjalanan Dara hanya menatap kosong kedepan. Air mata masih setia menemani kesedihan yang ia rasakan. Tangan tak kasat mata pun semakin meremas hati Dara yang sudah terluka amat dalam.  Dara tiba dimana tubuh kaku kekasihnya terbaring, menyisakan luka yang amat pedih.

Dara menjatuhkan dirinya begitu saja, membelai wajah Rendra yang putih dan dingin. sebuah senyuman memang tak pernah pudar dari wajahnya meski sudah terpisah dengan ruhnya. Dara menyadari bahwa apa yang ia lakukan akan mempersulit Rendra untuk pergi.

“Apakah ini? Apakah ini kejutan yang kamu berikan untuku? Apakah ini! Sungguh bukan ini yang aku inginkan. Bangunlah, bangun dan berikan kejutan yang sesungguhnya untuku. Kau akan melamarku kan? Iya kan. Lantas bangunlah. Dan apakah ini yang kamu maksud kamu akan pulang? Pulang kerumahmu yang abadi. Tidak aku tidak ingin! Kembalilah, kumohon kembalilah. BANGUN!!!” Dara dengan mengguncangkan tubuh Rendra.

Flashback end.

***

Esok harinya, setelah presentasi selesai Dara menghempaskan tubuh dikursi kantornya. Ia masih memikirkan apa yang semalam ia lakukan. Bahkan ia tidak tidur sama sekali hanya karena mengingat dan menangisi kekasih yang telah meninggalkannya dialam keabadiaan.

“Kau kenapa?” sebuah suara tiba-tiba saja mengagetkan Dara yang sedang memejamkan matanya dengan linar air mata dipipinya.

“Tak baik masih memikirkan orang yang telah pergi meninggalkan kita. Bahkan sampai kau tidak membuka kembali hatimu. Ingat kau sudah memasuki masa dimana kau harus segera menikah.” Ujar seseorang itu kembali.

“Membuka hati? Untuk siapa?,” jawab Dara masih menghapus air matanya yang tersisa.

“Untuk ku.”

Mata Dara membulat sempurna. Ia terdiam sejenak, membuat jantungnya hampir berhenti berdetak.

Dara terkekeh. “Sekalipun itu kamu, dia, ataupun mereka diluar sana. Tidak akan ada yang bisa mengetuk dan membuka kembali hatiku yang sudah tertutup rapat karena seseorang yang telah pergi meninggalkanku,” Dara dengan menekan perkataanya.

“Sudah dua tahun lamanya Rendra pergi Ra. kau harus lupakan semua. Kembali kepada lembaran baru, kau harus bangkit. Liat depan Ra, ada seseorang yang lama telah menantimu dalam diam.”

Dara terisak, mau bagaimanapun hatinya masih terkunci dengan satu nama Rendra. Dara menggelengkan kepala. “Tidak Ram, tidak bisa. Bahkan saat aku mencoba untuk melupakanya, hati ini semakin terluka. Sakit Ram, semua seakan-akan terulang kembali saat aku mencoba untuk pergi. Aku tidak bisa Ram. Aku selalu merasakan sosok Rendra ada menemaniku Ram. Aku juga sudah lelah! Aku lelah Ram..” Dara dengan menutup matanya dengan kedua tanganya karena tak sanggup menahan air matanya yang sedari tadi ia tahan.

Rama hanya bisa diam. Ia menggenggam tangan Dara yang bergetar. Mencoba memberikan energi yang ia miliki hanya untuk menegarkan dan menguatkan hati Dara yang terluka. Rama menyadari bahwa mana mungkin ia bisa langsung masuk kedalam hati Dara, sedangkan ia belum sama sekali mengetuknya.

“Dara, aku akan mengobati luka pada hatimu. Jangan pernah mencoba melupakanya jika hatimu semakin terluka. Mungkin aku tidak akan pernah bisa seperti apa yang Rendra lakukan hingga kau membiarkan luka bersemanyam dihatimu. Tapi aku akan menjadi Rama, yang akan membiarkan tawa terlukis diwajah teduhmu, Dara.”

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *