Akhir dari Tanah Indah di Ujung Pelangi

Tarikan nafas kian lama, kian tak berima. Imaji gelap, buram, muram, dan segalanya yang terasa menyayat hati terkumpul dan begitu menyesakan dada. Fiuuh… asap-asap ini masih saja menari-nari di sekeliling, seolah mengajak ku tenggelam, bernas dalam sesak yang begitu mencekik kerongkongan.

Bagaimana tidak? Aku tahu 24 jam lagi batang tembakau ini tak kan lagi bisa kujepit dan ku hisap. Pemandangan meja kerja usang ini pun tak kan pernah kulihat lagi. Bahkan paras tiap kerabat, sahabat, dan pujaan hati pun tak akan pernah ada di citra pengelihatan ku lagi.

Aku disini karena sebuah kasus, ntah perkara apa yang dituduhkan. Ada saja yang dibuat, dirancang dan dibidik tepat di kepala ku. Beribu kali lancaran anak panah itu tak mampu menyentuh kulit ini, namun mungkin karena ku sesumbar atau apa, kali ini satu anak panah menembus kulit, malahan bersarang di jantung.

Ia hanya mengiginkan aku tak ada, ia merasa aku biang keladi dari menyempitnya ruang jelajahnya. Bahkan ia merasa aku membahayakan kemapanan busuknya. Ia takut kehilangan dasi, kursi, mercy, piti dan bini. Ahhh tahi kucing! Aku hanya jalan kan pekerjaan ku.

Ku masih ingat betul dimana dulu ia adalah sahabat ku dalam sebuah lingkungan yang sama. Kami bercerita tentang hidup, mendambakan hidup yang lebih baik bersama, mengecam penguasa yang tiran, menyuarakan satu kecaman dengan beringas, saling bahu-membahu demi mencapai tujuan kami. Dulu, lagi-lagi ku harus ingat itu dulu. Kini? Ya sekarang kau pun bisa melihatnya, aku dan dia jadi bahan tontonan, perkelahian kami jadi sebuah serial yang diburu lensa. Kami saling lemar batu, adu golok, bahkan saling tebas organ tubuh. Bagaimana kau terhibur dengan aksi kami?

Satu luka paling vital telah ku terima dan sekarang, dia lah pemenangnya. Selamat kawan semoga kau bisa lebih leluasa, tanpa aku yang mengingatkan.Kini ku dihadapkan dengan sebuah lubang yang akrab disapa ajal, ia akan menungguku dengan manis sembari memegang sebuah pisau yang siap ditebaskan kapan ia mau. Bisa di dada, kepala, leher, dimana saja terserah maunya.

Satu tanya ku “bagai mana nasip tanah ini?” Ya sejujurnya ku lebih suka seperti dulu dimana kita bisa saling menikam lalu bersalaman sehabisnya. Sejujurnya kekuatan bipolar itu lebih indah sebagaimana konsep yin dan yang. Apa kabar dengan fondasi yang telah kubangun, apa nanti akan ia rubuhkan lagi? Entah lah ku tak tahu apa maunya. Aku hanya ingin timah itu menembus ku segera. Biar nanti aku bisa tertawa puas di sana, di antah beranta, di dunia kekal, di keabadian, melihat akhir dari dagelan ini.

Selagi kubisa aku akan segera percepat kedetangan izrail dengan bermili-mili tar dan nikotin biar ia tak sulit ajak ku pulang. Selamat tinggal! Salam damai kawan! (Muhammad R. Iskandar/SM)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *