Mengintip Suasana Berpuasa di Benua Biru

Foto dokumentasi pribadi

Suaramahasiswa.info – Kabar singkat masuk dari grup Whatsapp, “Bukber yuk!” ajak salah satu anggota grup. Masjid dekat tempat tinggal ramai oleh jamaah untuk melaksanakan tarawih, suasana jalanan saat sore hari yang ramai disertai berbagai macam makanan dan minuman. Hal tersebut sering ditemui jika telah memasuki bulan ramadhan di Indonesia. Terus, bagaimana jika suasana ramadhan di Eropa?

Suara Mahasiswa mewawancarai Rey Baskara, mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) yang berada di Denmark tengah menjalani magangnya di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). Rey bercerita sisi berbeda berpuasa di Indonesia dengan di Denmark.

”Disini tidak ada antusiasme berlebih, tidak ada adzan sama sekali, saya hanya mengandalkan aplikasi handphone dan jam waktu shalat yang sudah ditetapkan oleh pihak setempat,” tutur Rey.

Meskipun tinggal di lingkungan KBRI dan mayoritasnya warga Indonesia, tidak ada hal spesial yang berkaitan dengan bulan ramadhan, karena disana muslim merupakan minoritas. Berpuasa di Denmark diperlukan fisik yang fit, karena durasi berpuasa disana selama 18 Jam dan singkatnya  jarak waktu antara berbuka puasa menuju sahur. Ketika bekerja, waktu untuk beristirahat pun sedikit, sehingga untuk berbuka saja ia hanya memasak makanan instan atau masak sederhana sebisanya.

Rey juga bercerita jika disana terdapat perhimpunan muslim Indonesia yang disebut Indonesian Muslim Society In Denmark (IMSD). IMSD sering melakukan kegiatan, salah satunya pengajian dan pesantren kilat di KBRI, terutama di bulan ramadhan.

Ketika ditanya mengenai hal-hal apa saja yang dirindukan dari bulan ramadhan di Indonesia, Rey sangat merindukan kebersamaan dengan keluarga dan orang-orang terdekat. ”Saya baru pertama kali puasa diluar Bandung, suasananya langsung jauh berbeda. Itusih yang saya rindukan,” ceritanya.

Reporter: Verticallya Yuri/SM

Penulis: Verticallya Yuri/SM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *