Mahasiswi Fikom ini Berhasil Terbitkan Enam Karya Buku

Dokumentasi pribadi

Suaramahasiswa.Info, Unisba – Tak melulu harus berprestasi di bidang akademik untuk mengharumkan nama Universitas Islam Bandung. Nyatanya Nabila Anasty Fahzaria mahasiswi Fikom 2016 ini berhasil menelurkan enam buah karya novel. “Sampai sekarang, aku baru menerbitkan enam buku,” ungkapnya dengan sumbringah.

Nama Nabila mungkin masih terdengar asing di telinga anda. Namun diusianya yang terbilang masih muda yakni 19 tahun, ia sudah menghasilkan enam buah novel; Anyelir Untuk Alyssa, Injurious, The Escapist, Black Shadow, Scary Hot Seat dan Ghost Dormitory in Alaska. Hal ini bukanlah sesuatu yang sekonyong-konyong ada. Perjuangannya dalam menulis sudah ia mulai sejak di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Nabila merasa bersyukur, di saat beberapa orang seusianya masih mencari jati diri ia merasa bahwa dirinya telah menemukan identitas diri melalui menulis.

Ia menceritakan buku pertamanya yang terbit yakni saat ia duduk di kelas satu SMA. “Padahal aku udah hopeless banget, soalnya udah sepuluh bulan kaya enggak ada pemberitahuan apa-apa. Tahu-tahu dikabarin lewat e-mail kalau buku mau terbit.”

Meski Nabila sudah berulang menghasilkan sebuah karya buku, ia menceritakan bahwa dulu tulisanya justru sempat berantakan. Di buku pertamanya, Nabila mengatakan jika sang editor banyak mencorat-coret tulisannya dan berbagai tanda merah disetiap kalimatnya. “Woaww, banyak banget merahnya,” ujarnya sambil menirukan berekspresi terkejut. Namun hal itu tak mengurungkan niat atau membuatnya merasa minder, justru ia merasa hal itu adalah lahan pembelajarannya.

Tak hanya tulisan yang dicoret-coret, karyanya ini juga sempat ditolak oleh penerbit bahkan sampai tiga kali. Anehnya buku yang ditolak penerbit ini bukan di ajuan pertamanya, tetapi setelah buku pertamanya terbit. “Tapi ya udahlah kalau mau berhasil harus kaya gitu, enggak mungkin langsung menjadi penulis besar,” tandasnya.

Hobi menulisnya ternyata sudah ada sejak ia di Sekolah Menengah Pertama (SMP). Namun saat itu tulisannya tak pernah ada yang selesai karena ia tidak konsisten. Menurut Nabila, munculnya hobi ini karena sejak duduk dibangku sekolah dasar ia suka membaca “Dulu ibu sering banget ngajak Nabila ke toko buku. Terus Nabila disuruh beli buku apa aja yang Nabila suka. Nah dari sana suka baca, terus jadi pengen nulis.”

Menurut Nabila selain hobi yang murah, menulis juga bisa menjadi ladang penghasil uang. Meski mulanya ini hanya sebuah hobi yang ia geluti, namun berkat keberaniannya mengirim karya pada penerbit,  nyata ia bisa membuahkan passion menjadi uang.

Nabila mengaku dirinya adalah seseorang yang pemalu. Bahkan karena rasa malunya ia sampai tak ingin bukunya dibaca oleh keluarganya. “Kalau teman-teman minta bukunya aku selalu mengatakan pada mereka cari sendiri aja. Mungkin hanya teman-teman terdekat aja yang aku kasih liat bukunya,” terangnya. Sifat pemalunya ini kadang ia sesali, karena seringkali menjadi hambatannya untuk melakukan sesuatu. Ia menceritakan bahwa sempat ia ingin mengikuti suatu hal namun karena rasa malunya akhirnya niatnya urung.

Namun, di balik itu Nabilapun tetap berusaha mengalahkan sifat pemalunya ini. Setelah menerbitkan beberapa buku ia sempat menjadi pembicara di beberapa forum penulisan.”Waktu itu sempet tiga kali jadi pemateri. Peserta di forum pertama 100 anak SMP. Aku juga sempat jadi pembicara di Ikatan Jakarta Book Fair. Terakhir di sumedang juga jadi pemateri.”

Bagi Nabila, kerja keras, konsisten dan pantang menyerah merupakan kunci utama yang membawanya hingga ke titik. “Nabila itu perempuan 19  tahun yang suka menulis, aku adalah aku bukan orang lain,” tutup Nabila.  (Ressy/SM)