Haruskah Apatis Dihilangkan Dari KBBI?

Ilustrasi apatis tidak ada dalam KBBI. (Ifsani/SM)

“Apatis mah gitu, ga bisa diharepin deh.”

Kurang lebih begitulah penggalan model kalimat yang biasanya keluar dari bibir manis mereka organisatoris. Tanpa menyalahkan kedua belah pihak, hal ini absah saja. Tapi, selentingan atau jokes yang dikeluarkan mahasiswa yang bersifat satire, bisa bikin baper loh.

“Eh, bantulah dagangan danusan nih, simpati sedikit dong dengan acara kampus. Apatis nih!” kata pegiat danusan gorengan 2000rban.

“Anju, seenak jidak bilang apatis, kan saya ada kegiatan diluar yang manfaat.”

Begitulah pecakapan Ohan dan Anju ketika melancarkan manuvernya menawarkan danusan dengan alih-alih simpati dengan kampus. Bagi Ohan yang diklaim mirip Andika Kangen (Babang Tampan), tiap ada pendaftaran atau acara himpunan dan kepanitiaan, ia kerap diserang “Apatis” di tongkrongannya.

Namun, Ohan percaya diri bahwa ia bukanlah seorang apatis. Nyatanya, ia memiliki usaha dan aktif di Karang Taruna dekat rumahnya. Teruntuk mahasiswa yang memilih jalan kuliahnya seperti Ohan, ia tidak menyayangkan teman kampusnya menjadi kejam ketika memberikan streotype apatis.

Ia meyakini semua orang memiliki ke apatisan tersendiri. Himpunan A apatis terhadap kepentingan Himpunan B. Contohnya seseorang yang giat dalam kegiatan mesjid dan tidak pernah mengikuti kegiatan acara himpunan kampus dicap apatis terhadap jurusannya. Padahal? Ia sangat aktif di kegiatan masjid di kampusnya. Masih mau bilang apatis?

Itu hanya cerita-cerita yang bukan mitos atau legenda, tapi terjadi loh. Mending kalau Ohan bisa toleran dan punya pemikiran yang dewasa, kalau gak?

Lalu bagaimana jika dilihat dari sisi oleh orang yang menolak tawaran organisasi?

Di kampus Biru, kami mencari dan mencoba menjawab pertanyaan diatas. Menurut Journal Unair, tingkat partisipasi mahasiswa yang mengikuti organisasi kampus berbeda dengan yang tidak tergabung dalam organisasi kampus. Dimana pada mahasiswa yang mengikuti organisasi kampus dapat terlibat sebagai penanggung jawab maupun anggota acara. Sedangkan pada mahasiswa yang tidak mengikuti organisasi kampus hanya dapat terlibat sebagai anggota panitia maupu peserta.

Gilang Umbara, mahasiswa berambut klimis menyampaikan, meski dirinya tidak mengikuti organisasi, ia menolak dibilang apatis organisators. Menurutnya jangan samakan orang yang tidak tertarik masuk organisasi dengan apatis. “Apatis itu kan artinya tidak peduli ya, sedangkan saya ini emang ngga tertarik aja masuk organisasi kampus karena nggak ada yang sesuai minat saya”, tuturnya.

Gilang juga menambahkan bahwa ia memiliki kegiatan lain yang bermanfaat diluar kuliahnya. Menurut mahasiswa yang menjadi anggota klub motor ini, manfaat yang ia peroleh seperti gotong-royong, bakti sosial bahkan dapat terjun langsung membantu warga korban banjir misalnya. Ia juga lebih mudah mendapatkan tawaran pekerjaan sebagai photographer yang datang dari sesama anggota.

Nampaknya, meski sejak dahulu kultur mahasiswa kental sebagai organisatoris. Kegiatan lain pun bisa dilakukan diluar kampus. Karena minat seseorang berbeda-beda jadi masuk atau tidak ke dalam organisasi tergantung pribadinya. Asalkan kegiatan masih berhubungan dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Sekalipun enggak, sepertinya kata “Apatis” harus dihilangkan di KBBI.

Ditulis oleh Muhammad Shodiq/SM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *