Dikdik, 32 Tahun untuk Unisba

“Beliau sangat bertanggung jawab dengan profesinya ia tidak mau diganggu dengan hal-hal di luar Pendidikan dan penelitian,kisah Iman.

Rasa bangga dan kagum terpancar dari wajah Iman Sunendar, ketika bercerita mengenai Dikdik M. Sodik. Iman yang sempat menjadi anak didiknya dan sekarang menjadi rekan seprofesi di Fakultas Hukum Unisba, mengakui dedikasi Dikdik yang tak kenal lelah demi pendidikan.

Nama Dikdik M. Sodik mungkin terdengar asing di sebagian telinga kita. Namun siapa sangka pria yang aktif mengajar sejak 32 tahun silam ini adalah salah satu guru besar atau profesor di Unisba. Gelar tersebut ia raih di tahun 2013, dengan waktu penyelesaian disertasi selama tiga tahun delapan bulan –umumnya empat hingga lima tahun.  

Berawal dari keinginannya menjadi dosen di tahun 1979. Saat itu ia baru menjadi asisten dosen. Pria yang pernah menjadi dosen terbaik se-Kopertis pada 2010 ini menceritakan, setelah lulus sarjana pada 1984, dirinya diterima sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kopertis Wilayah IV. Di tahun beritunya Dikdik ditetapkan sebagai Dosen Dipekerjakan (DPK) Unisba.

Menginjak tahun ke-32 mengajar, Dikdik tetap mengabdi pada Unisba dan negara. Dedikasinya sebagai dosen PNS ia jalani secara profesional. Di samping sebagai dosen, Dikdik mengungkapkan pada 2007 dirinya bekerja di perusahaan konsultan untuk Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Tetapi, ia menyadari bahwa kurang tepat mengambil posisi di perusahaan itu. “Sebagai PNS tapi juga menjadi bagian penuh di perusahan, saya tidak bisa. Saya mau dengan kontrak agar legal,” tangkasnya. Dikdik hanya menginginkan pekerjaan yang legal seperti pada tahun 2013, selama enam bulan ia menjadi Sekretaris Jendral KKP.

Kesetiaannya menjadi Dosen tetap Unisba membuahkan hasil dan kenyamanan tersendiri bagi Dikdik. Ia lebih nyaman dengan tidak dibebani jabatan, yang membuatnya tidak fokus menerapkan Tridarma Perguruan Tinggi sebagai dosen untuk mengajar. Menurutnya dengan begitu berbagai inspirasi lebih mudah ia dapatkan untuk melakukan penelitian.

Berkerjasama selama 21 tahun dengan Dikdik membuat Iman mengenali pribadi Dikdik dalam kesehariannya. Iman mengisahkan, Dikdik merupakan sosok yang sederhana walaupun memiliki gelar dan jabatan yang prestisius. Misalanya saja, ia kerap menaiki transportasi umum untuk pergi menunaikan tugasnya ke Unisba.

“Kita bisa melihat kesederhanaan beliau dari penampilan dan gaya hidup, punya whatsapp saja baru pada tahun ini. Kendaraan pribadi ada, tapi dari dulu beliau pakai angkot. Pernah ketika kuliah jam 6.30 WIB hanya terdapat satu mahasiswa yaitu saya, tetapi beliau tetap menjalankan perkuliahan. Tak hanya itu ketika mahasiswa lulus dan memberikan hadiah beliau tolak karena menurutnya mengajar telah menjadi kewajibannya,” jelas Iman ketika ditemui di ruang dosen fakultas hukum.

Bagi Dikdik, ia tidak memiliki niat untuk dapat mengendarai kendaraan dan lebih memilih berjalan kaki. Kehormatan seseorang tidak dinilai dengan harta tetapi karyanya. Di balik kehidupan sederhananya, ia tidak merasa gengsi. “Jangan lihat saya sebagai apa, tapi saya tetap Dikdik M. Sodik.”

Saat mengajar pun, agar mahasiswanya memahani mata kuliah yang ia ajar, Dikdik kerap mengaitkan sepak bola dengan materi. Di kelas, ia menganggap dirinya sebagai pelatih, hal itu membuat dirinya bersemangat. “Bagaimana kita total football, semua lini harus baik seperti di sini mungkin mahasiswa aneh. Hukum dengan bola, kita memadukan materi berkaitan seperti tim,” jelas pria yang memiliki dua anak tersebut.

Iman yang pernah menjadi mahasiswa professor itu mengatakan, dari dulu cara mengajar uniknya seperti itu. “Contohnya kedaulatan negara, artinya Indonesia memiliki aturan yang harus dipahami oleh semua negara. Apa yang di atur negara ini harus dipahami oleh negara lain. Dalam sepak bola pun terdapat aturan yang harus dipahami yang tidak bisa diintervensi dalam aturan itu. Sekesal apapun seperti PSSI dibekukan itu tidak diperbolehkan karena atas dasar apa negara turut campur dalam hal itu.” Jelas Iman.

Kecintaannya terhadap pendidikan ia buktikan dengan melakukan berbagai penelitian. Namun di tahun 2015 ia terpaksa rehat, padahal di tahun itu Dikdik ditawari melakukan penelitian oleh perusahaan dan kementerian. Ia terkena serangan jantung koroner pada saat itu, berbagai tawaran pun harus ia tolak. Selepas dioperasi ia pun kembali menolak tawaran perusahan luar negeri dan undangan menulis jurnal di kementerian. Sekarang dirinya memfokuskan diri untuk menulis jurnal dosen.

Di Indonesia, guru besar (Professor) menjadi jabatan fungsional tertinggi bagi dosen yang masih mengajar di lingkungan Perguruan Tinggi. Gelar itu diberikan kewenangan untuk membimbing calon doktor. Anggapan kehidupan yang terpaku dengan pendidikan kerap terdengar di sekitar kita. “Kita bisa lihat professor bersama kesejahteraannya dengan mobil atau pun materi yang lain” pungkas Iman Sunendar rekan sesama dosen Dikdik. (Iqbal/SM)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *