UAS, Problematika, Mahasiswa

Oleh: Riska Nursyafitri*

Ujian Akhir Semester, ajang evaluasi pembelajaran mahasiswa selama satu semester. Selama saya berkuliah di kampus perjuangan ini, ada saja polemik yang mengiringi keberlangsungan UAS terutama di fakultas tempat saya belajar. Mulai dari kuesioner sebagai tiket untuk mengambil kartu ujian, fasilitas kelas yang kurang memadai, sontek-menyontek, hingga masalah pakaian seragam saat ujian.

Bila diuraikan, dari pengisian kuesioner, banyak yang menganggap mengisi kuesioner adalah hal yang ribet. Kuesioner selama ini dinilai tidak merubah apapun. Kinerja dosen, karyawan, dan fasilitas yang ada hingga sekarang kondisinya begitu-begitu saja. Hal ini membuat banyak mahasiswa mengisi kuesioner dengan asal klik tanpa membaca pernyataan yang tertera. Asal sudah mengisi, ya sudah. Saat pengambilan kartu juga ada yang mengeluhkan, prosesnya kurang menyenangkan karena jangka waktu yang singkat sehingga mahasiswa harus berdesak-desakkan pada satu waktu saat mengambil kartu ujian.

Ruang kelas yang digunakan sebagai tempat ujian juga kurang memadai, sampai-sampai basement dijadikan ruang ujian. Lagi-lagi masalah fasilitas. Pasti banyak yang mempertanyakan kenapa Unisba selalu menambah kuota mahasiswa baru padahal sudah jelas bangunan dan area kampus luasnya tidak seberapa. Mengapa tidak memaksimalkan kualitas SDM dan mahasiswa walaupun sedikit jumlahnya, toh apabila alumninya berkualitas, pamor Unisba pun akan naik dengan sendirinya. Kemana perginya rupiah-rupiah yang masuk dan setiap tahun bertambah jumlahnya, namun tidak ada jatah bagi mahasiswa untuk memaksimalkan potensinya. Entahlah kawan, yang saya tahu Unisba adalah kampus swasta, yang tidak disubsidi penuh oleh pemerintah.

Ada lagi tradisi sontek-menyontek saat ujian. Ketika UAS seluruh mata kuliah diuji guna mengetahui sejauh mana kemampuan mahasiswa menyerap materi yang telah diberikan. Seharusnya sih seperti itu. Kenapa ada embel-embel ‘seharusnya’? Karena ternyata tidak semua mahasiswa memahami betul apa yang telah ia terima namun dengan mudah mendapat nilai A. Tidak bisa disangkal, kebiasaan menyontek masih ada dikalangan mahasiswa. Bahkan kebiasaan curang ini terbawa hingga kalangan pejabat kita. Oke, tidak usah terlalu jauh membahas orang-orang tua itu. Kita lihat dulu mengapa hal ini masih saja terjadi di tingkat perguruan tinggi, dosen yang kurang kompeten dalam mengajar dan membuat soal kah, atau kitanya saja yang malas belajar?

Jenis soal yang terlalu mengacu pada text book memang terkadang membuat mahasiswa malas untuk menghafal materi yang jumlahnya seabrek. Karena pada dasarnya mahasiswa butuh mengimplementasikan pengetahuan yang didapat secara langsung, bukannya sekedar menghafal. Apabila metode menghafal masih diterapkan, apa yang didapat? Yang ada masuk telinga kiri, keluar telinga kanan. Masih mending jika yang diperintahkan adalah menghafal Al-Qur’an, walaupun pasti banyak yang mengeluh juga, tapi setidaknya kita sedikit mendapat pahala.

Oke, kembali ke masalah sontek-menyontek. Saya membaca artikel rekan mahasiswa di media kampusnya tentang menyontek ini. Ia menyebutkan bahwa sistemlah yang membuat pelajar setingkat mahasiswa masih melanggengkan tradisi ini. Sistem pengajaran dengan soal yang berbentuk pilihan ganda dirasa tidak cocok lagi bila diberikan pada mahasiswa. Karena soal seperti inilah yang mempermudah sontek-menyontek. Saya cukup setuju dengan pendapat rekan kita itu. Di sini, kaderisasi dosen oleh universitas dan kreativitas dosen memiliki peran penting. Universitas diharapkan bisa merekrut calon dosen yang lebih baik lagi dan mengembangkan potensi dosen yang sudah ada.

Di samping itu, apakah yang membuat para pengajar kita masih saja menggunakan metode text book tersebut? Mungkin pahlawan-pahlawan kita memiliki keluhan dan kendala tersendiri. Keluhan seperti apa? Gaji yang kurang mencukupi, yang mengharuskan beliau-beliau itu mencari tambahan lain, hingga melupakan tugas utamanya untuk berinovasi dalam mengajar? Saya pun tidak terlalu paham masalah itu kawan.

Selanjutnya masalah pakaian seragam hitam putih ketika ujian. Sebenarnya bosan saya membahas masalah ini, terlebih perkara ini hanya ada di fakultas saya. Kurang lebih tanggapan saya sama seperti yang pernah diutarakan kakak angkatan saya dalam tulisannya tempo hari.

Terlepas dari itu semua, kadang saya berpikir ada yang harus ditelaah lagi dengan keluhan-keluhan ini. Apakah yang harus bertanggungjawab selalu pihak yang memangku jabatan? Mahasiswa senantiasa berpikir kritis, itu harus, mempermasalahkan kebijakan yang tidak sesuai keberlangsungannya, itu wajib. Namun selain hak yang kita tuntut, tentunya ada kewajiban yang harus kita penuhi. Terkadang kita lupa dengan kewajiban-kewajiban itu dan terlarut dengan pembenaran menurut diri sendiri. Kita lupa berapa banyak kontribusi yang sudah kita berikan dalam mengamalkan peran dan fungsi sebagai mahasiswa. Kadang kita juga lupa sudah berapa besar prestasi yang kita buat untuk program studi yang kita dalami.

Kembali ke kuesioner, coba kita berpikiran positif dulu. Dengan adanya kuesioner, universitas telah mencoba memberi kesempatan pada kita untuk berkontribusi langsung mengoreksi kinerjanya selama ini. Namun ada sebagian dari kita yang mengisi dengan tidak objektif. Saya kerap menemukan kawan-kawan yang mencontreng semua poin yang ada dengan pernyataan ‘Setuju’ atau ‘Sangat Setuju’ tanpa membaca poin yang ditanyakan. Yang seperti ini sangat disayangkan, karena tidak akan mengubah apa-apa. Selebihnya masalah benar-benar diperbaiki atau tidak, dibaca atau tidak, itu menjadi beban moral bagi mereka yang mengemban amanah kita.

Lalu sudah berapa banyak kontribusi kita mencarikan solusi untuk perubahan-perubahan yang kita inginkan? Yang saya lihat saat ini, tidak ada kedekatan mahasiswa antar fakultas. Selama berkuliah di Unisba, hampir tidak pernah saya melihat diskusi-diskusi yang dihadiri lebih dari seratus orang dari semua fakultas. BEM Unisba sebagai tempat yang dirasa paling mampu mewadahi diskusi, saya lihat cukup sering menyelenggarakan kajian atau forum diskusi. Contohnya seperti Forkama, Makrab, dan Focus Group Discussion, tapi yang saya sesalkan publikasinya selalu minim sehingga sangat sedikit mahasiswa yang hadir.

Mungkin BEMU sudah mengirimkan surat undangan ke tiap lembaga, namun terkadang tidak semua lembaga menginformasikan lagi ke masyarakatnya. Selama ini lembaga sibuk dengan persoalannya masing-masing. Entah siapa yang kooperatif dan yang tidak kooperatif, yang pasti, memang sangat disayangkan apabila kita tidak memanfaatkan lembaga dan kegiatan yang ada untuk bersama berkumpul mencarikan solusi untuk Unisba yang lebih baik, jika kita menginginkan seperti itu. Kecuali kalau memang tidak ada yang harus dibenahi dari kampus ini.

Mungkin masa telah berubah, saat ini di antara kita cenderung pragmatis, oportunis, apatis, hedonis, atau apalah sebutannya, yang banyak mengeluh tapi tak mau berpeluh. Banyak diantara kita yang ingin ini-itu tapi mengisi kuesioner saja tidak mau. Banyak juga yang selalu berkotek masalah dosen yang tak beres tapi saat ujian dan membuat tugas kita masih saja menyontek.

Ada sebuah hadis, mungkin sebagian dari kita sudah mengetahuinya. Dalam hadis itu Rasulullah bersabda:

“Siapa yang melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim).

Hadis ini menyuruh kita untuk amar ma’ruf, nahi mungkar. Bila kita menemukan hal yang tidak sesuai dengan letaknya, maka perbaikilah dengan perbuatan, tenaga, kekuasaan yang kita punya. Apabila kita belum mampu maka perbaiki dan ajak pada kebaikan dengan lisan. Bila belum mampu juga maka tolaklah dengan hati, dengan menjauhi kemungkaran itu.

Untuk memulai perubahan besar, rubah diri kita dulu. Klasik memang, tapi memang begitu caranya. Untuk kali ini saya setuju dengan presiden kita, revolusi mental, walaupun saya tidak tahu langkah apa yang telah beliau lakukan untuk hal ini. Namun, ya, kembali lagi ke pernyataan klasik tadi kawan. Semua tergantung pada diri kita sendiri.

Saya bukan aktivis yang selalu ikut aksi, saya juga bukan mahasiswa yang cerdas dan penuh inovasi, saya hanya mahasiswa yang mencoba untuk berbagi, menuangkan kegelisahan dan bertukar opini. (maaf lebay)

*Penulis adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi 2012

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *