Terpaut Dua Hati

 

Oleh : Sugiharto Purnama

Foto : Istimewa

 

Rintik hujan masih menyapu debu bumi, meredam emosi yang bergejolak pada sekeping hati yang mulai menipis. Kesunyian terdengar sayup, malam tanpa bintang semakin mengikis habis hati yang tak sangup lagi bertahan.

            “Kenapa semua harus seperti ini?”

            Langit tak bergeming mendengar jeritan hati Rangga yang saat itu menahan murka akan dirinya sendiri. Suara jangkrik sesekali terdengar di sela-sela kegelapan, mencoba menepiskan keheningan yang tertanam pada gelapnya malam.

            “Aku manusia bodoh! Tak peduli perasaan orang yang ada di sekitarku.” Suara beratnya memecah keheningan malam, bagai petir menggelegar menentang keganasan alam.   

            “Wanita yang dulunya mencintaiku, kini telah ku buat hati mereka terluka.”

            Tetes demi tetes air matanya mulai menggenangi pelupuk mata, menganak sungai di pipinya. Malam ikut tertunduk melihat kesedihannya, berupaya untuk menghibur. Suasana malam begitu hitam dan hampa, tanpa mata yang berbinar dan senyum semeringah dari wajahnya. Kini, terlihat hanya keluh-kesah mewarnai suasana di Taman Laguna.

Dalam kesamaran cahaya lampu, tiba-tiba datang sesosok tubuh paruh baya terselubung cahaya malam menghampiri Rangga yang ketika itu duduk dengan air mata.

“Ga… kenapa kamu?” tutur Aldy, sahabat karib Rangga dari kecil.

Rangga tersenyum melihat raut muka polos Aldy. Ia menyapu air mata dengan tangannya, berupaya untuk menutupi kesedihannya.

“Aku baik-baik saja dan kamu gak usah khawatir,” jelas Rangga sambil melempar senyum.

“Tadi aku ke rumah kamu, kata mama kamu, kamu ke sini. Jadi, aku segera ke sini karena aku tahu kamu pasti lagi dirundung masalah.”

Rangga tak bergeming, mendengar perkataan sahabat karibnya itu. Tampak jelas terlihat air matanya kembali menetes membasahi kedua pipinya. Sejenak ia berdiri mengambil sebongkah karang dan melemparkannya ke langit, berharap karang tersebut dapat mengalihkan awan yang menghalangi sinar rembulan. 

“Iya, sekarang aku lagi dirundung masalah yang sangat berat. Aku harus memilih salah satu diantara mereka untuk menjadi pendamping hidupku.”

“Siapa?” tanya Aldy bingung dengan penjelasan Rangga.

“Viona dan Zahra, dua wanita yang telah memikat hatiku.”

Aldy tertegun mendengar kedua nama tersebut. Meski ia tak mengenal secara pasti siapa kedua wanita itu, tapi yang jelas mereka adalah wanita terbaik yang menjadi pilihan hati sahabatnya.