Selamat Pagi Kembali, Anjing Kurapku yang Tercinta!

Oleh: Hasbi Ilman Hakim

Jika mahasiswa adalah anjing kudis, maka, aku tasbihkan pers kampus sialan itu sebagai anjing kurap!

Dahulu, ketika aku masih menjadi bagian dari sebuah surat kabar tersohor di Indonesia, aku merasakan pahitnya pengekangan kebebasan berpendapat oleh pemerintah. Terlalu jujur, culik. Terlalu lantang, culik. Untung saja aku bermain di zona aman. Mereka yang telah diculik, meski terlampau pintar dalam hal pemikiran, cukup bodoh dalam tindakan. Ini dunia nyata, wahai Bosku. Dan idealisme yang selalu diagung-agungkan olehmu hanyalah ada dalam komik-komik Marvel.

Yang baik pasti menang katanya.

Tapi prosesnya pasti lamaaaaaaaaaaaaaaaaaaa sekali.

Keburu modar aku.

Yaa mendingan membela yang menang dan berkuasa.

Pada awalnya aku sangat membenci pemerintah. Apapun yang dilakukan pemerintah menurutku hanyalah kotoran, yang mana setelah melakukan suatu tindakan, pasti diakhiri dengan aksi mencuci tangan sehingga tangan-tangan menjijikannya dapat terlihat bersih. Mereka juga menggunakan media tempat aku bekerja sebagai alat perpanjangan tangan. Mengendalikan mediaku secara terang-terangan. Ah, jika mengingat masa-masa itu, aku, yang biasanya menjadi ‘dalang’, malah menjadi ‘wayang’ yang lemah.

Namun, baru sekarang aku memahami perasaan mereka. Jika mahasiswa adalah anjing kudis, maka Pers adalah anjing kurap.

Independenshit yang mulut mereka lontarkan setiap hari adalah piece of bullshit. Semuanya bohong. Seharusnya, kritik dan berita yang disampaikan oleh mereka enak didengar, sehingga aku bisa dengan tenang memadu kasih bersama uang-uangku yang manis. Hmm.. I love you, my honey money!

Sering kali pemberitaan mereka mampu membuat ‘salah satu diriku yang berada di kampus-kampus’ takut. Kukira mereka terlalu berlebihan dalam menanggapi seluruh isu-isu yang beredar. Masalah ini, di blow up. Masalah itu, di blow up. Tidak ada makhluk yang sempurna, bukan? Begitupula dalam kerajaanku yang tersayang. Kasihanilah diriku ini yang lemah, yang terdzolimi karena fitnah-fitnah yang benar.

Asal kau tahu, aku pernah menyesal mengizinkan mereka mengudara selama tujuh hari berturut-turut. Tidur tak enak, makan tak sedap. Penyebabnya satu:

Mereka mengkritik salah satu kekuranganku, yang telah lama kututupi.

Aku, yang telah capek-capek membangun citra baik kerajaanku itu, harus melakukan pencitraan dua kali lipat dari biasanya. Untung saja para mahasiswa, ehm, ‘siswa’, itu semakin apatis. Lah, kalo kerajaan ini namanya buruk, mereka lulus mau banggain apa?

Untunglah para ‘siswa’ itu semakin apatis. Mungkin, jiwa kemanusiaannya berpindah ke dalam diri seekor monyet.

Huh, sungguh muak aku berurusan dengan mereka. Ah, ada cerita jenaka. Begini ceritanya:

Hari itu menunjukan rabu, dua hari sebelum para lelaki muslim pergi shalat jum’at. Dan entah kenapa siang itu matahari sangatlah terik. Saking teriknya, panasnya mampu membasahi baju putihku yang harganya senilai dua kali sepatumu. Aku seperti telah futsal selama 3 jam lamanya. Semuanya basah. Leher, ketiak, punggung, dan juga the lovely perut yang paling kusayangi.

Namun ketika aku tengah mengelap dahiku yang cukup berkeringat, aku melihat dua orang manusia datang mendekatiku. Lelaki dan perempuan. Kurasa aku mengenalinya. Dan ternyata benar, mereka adalah bagian dari ‘mereka’.

“Permisi, kalo bapak *** (namaku) ada?”

Aku terdiam sejenak. Duh, pasti mereka mau macem-macem. Malas aku untuk berurusan dengan mereka. Enak saja. Mereka telah seenak edewe menghancurkan nama kerajaanku, seolah-olah, mereka tidak membutuhkan diriku yang suci ini. Nah, akhirnya mereka balik lagi, kan? Dasar primata sial penjilat ludah sendiri.

Aku harus lari dari mereka. Bukan, bukan karena aku seorang pengecut. Seorang pengecut pasti tidak akan berani untuk membungkam mulut mereka sepertiku. Aku harus lari karena aku ingin. Dan aku ingin agar mereka tidak dapat menggoyang kerajaanku yang telah mengorbankan segalanya. Aku harus lari.

“Pak, gimana? Ada?”

Aku terdiam, dan terbesitlah sebuah ide yang sangat cemerlang.

“Oh ada dek, coba aja dicek di *** (ruang kantorku). mungkin lagi nandatanganin proposal,” hehe, aku tersenyum kepada mereka dengan senyum yang paling manis. Lantas mereka pun bergerak kesana, dan aku yang bukan pecundang, berderap cepat menuju kantin untuk mengisi perutku yang kosong.

Oh iya, tentu saja aku ngibul, wahai pembaca yang budiman. Hahaha. Biar tahu rasa mereka pusing mencari-cari aku. Wahahaha. Biar tahu rasa bahwa mereka tidak bisa apa-apa tanpa diriku. Huahahaha. Dan sempat kulihat dari balik kantin, mereka muter-muter mencariku dengan wajah bingung.

Dan tentu, karena ulahku, website tempat mereka berkoar-koar sempat aku block. Kuberi sedikit pelajaran lah, biar mereka merasakan apa yang kurasakan ketika hidup di Era Orde Baru. Biar mereka sedikit merasa keren karena salah satu medianya kena bredel. Biar jadi hebat. Karena sepertinya seluruh jurnalis yang pernah hidup di dunia ini setuju: tolak ukur kehebatan sebuah produk jurnalistik dilihat dari telah-dibredel-atau-tidak-nya.

Jarang lho ada orang yang berani memberi anugerah mulia seperti itu. Maka dari itu,

Berterimakasihlah kepadaku!

**

Ini adalah lanjutan dwilogi cerita pendek. Mau dianggap fakta, boleh. Mau dianggap fiksi, ya terserah. Untuk cerpen pertama, sila melipir ke Selamat Pagi, Anjing Kudisku Yang Manis!

Salam Hangat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *