Sajak Rembulan di Ujung Malam

 

Ilustrasi malam

Sepi menari-nari di selasar malam. Aku bertanya, pernahkah engkau melihat senyumannya di ujung senja? Menyambut datangnya malam yang menawar sepi bersama kerlip kunang-kunang. Kala itu lembayung bergegas tinggalkan petang, ia mengonyak rimba yang memburu cahaya, dan membingkai waktu yang acapkali engkau keluhkan.

Dari balik jendela itu, sisa hujan tadi sore masih menggantung di ujung dedaunan. Dingin pun masih tetap setia menemani sunyinya sang rembulan. Pada tenggeran lampu di sisi jalan yang tampak begitu melankolis. Mungkin mataku sudah telalu parah terserang kantuk untuk melanjutkan prosa. Atau, mungkinkah ini hanya sebuah fatamorgana yang mengamini di pagi buta. Titik fokus terlihat samar.

Adakah engkau memahami pesan di balik tarian jari-jemarinya di atas kertas atau senyumannya yang tersuguh di hadapanmu? Engkau sungguh begitu jauh bersama rasa yang engkau angkut. Pahamilah, ia hanya rembulan yang memiliki cahaya lembut dan akan meredup kala keindahan malam berganti terang.

Semoga hening tak membuatmu kalut. Menjauhlah, jikalau engkau memang menyukai surya. Pada malam yang hanya tersisa beberapa jam. Sang raja akan beranjak dari petilasannya di Puncak Mega, turun gunung, lalu lenyap di tengah keramaian warga. Dalam rahasia yang tak satu setan pun tahu, embun telah mengusap ubun-ubun. Namun mendekatlah, jikalau engkau memang mencintai rembulan dengan segala hal yang ia bawa di setiap malammu. Lalu, jadilah kekasihnya dengan segala keramahan di mana ia telah mempersembahkan rasanya untukmu di tengah baliurang istana -untuk sebuah ketulusan cinta. (Sugiharto Purnama/SM)