Pesta Demokrasi 'Wong Gemblung'

Indonesia bakal dipimpin ‘wong gemblung’, apa iya? ini hanya wacana mbalelo yang tak penting dari dunia politik yang disebut Soe Hok Gie, sebagai lumpur yang paling kotor. Fenomena Eyang Subur misalnya, yang dulu sempat dikabarkan bakal maju sebagai caleg lalu mendapat hujatan dasyat dari masyarakat. Kini, ketenaran telah membuat Eyang Subur kalap dan berniat ingin menjadi presiden –tak hanya caleg. Oh tidak, jangan bilang “wow”! nanti terkesan innuendo.

Seolah tak mau kalah, Arya Wiguna yang menjadi rival Eyang Subur dalam kasus santet juga dikabarkan bakal maju ke ranah politik. Pemilik jargon ‘Demi Tuhan’ ini berniat mencalonkan diri sebagai Wakil Bupati Kolaka, Sulawesi Tenggara. “Yoi, coy, kan Eyang Subur mau jadi Presiden. Arya juga punya hak politik dong. Jadi sah-sah saja,” kata Farhat Abas, juru bicara yang juga merangkap sebagai pengacara Arya Wiguna.

Entah virus apa yang menginfeksi jiwa mereka, baru terkenal beberapa hari di media massa sudah berani mencalonkan diri jadi pemimpin bangsa. Tak mustahil, apabila ketenaran melekat abadi kemungkinan besar mereka juga akan mencalonkan diri sebagai Sekretaris Jendral Perserikatan Bangsa Bangsa (Sekjen PBB) menggantikan Ban Ki-moon yang masa akhir jabatannya, pada 31 Desember 2016 mendatang –meski itu absurd.

Sejumlah nama yang dipastikan bakal meramaikan bursa Pemilu 2014 mendatang, seperti Megawati, Aburizal, Yusuf Kalla, Wiranto, Prabowo, dan Surya Paloh. Bahkan Eyang Subur atau Arya Wiguna sekalipun. Pemberitaan tentang mereka telah membuat penulis malas untuk mengkonsumsi media massa. Alasan utama penulis sederhana, mereka adalah tokoh tua yang sudah tak layak bertarung di Pemilu –dengan osteoporosis tulang yang kian parah.

Inilah potret dari kebebasan berpolitik, di mana ‘wong gemblung’ kian marak dan bernafsu untuk maju sebagai pemimpin tanah air. Dalam penghujung tulisan ini, penulis berpikir ada hal yang memang perlu dibenahi di negara ini. Sistem memilih sang pengusa yang tampaknya lebih tepat. Entah itu undang-undang atau aturan lainnya. Semoga ‘wong gemblung’ tak kian marak memenuhi kertas pemilih nantinya. Orang-orang gila yang hadir dalam birokrasi adalah liability not asset. Kehadiran mereka di dalam birokrasi adalah sebuah dinamika yang tak dapat dipungkiri.


*penulis adalah wartawan SM