Pesantren: Diseminasi Nilai 3M

Foto: Dokumentasi SM

Oleh: Jajang Jamaludin*

Dalam sebuah seminarbertajuk “Institutional Leadership”, tokoh nomor ‘wahid’ di Universita Islam Bandung (Unisba), bapak Prof.Dr.dr. M. Thaufiq S. Boesoirie, MS.,Sp.,THT. KL. (K) disela-sela pembicaraannya sebagai pemakalah, dengan bangga menyampaikan kepada seluruh audience mengenai program Pesantren Mahasiswa dan Pesantren Calon Sarjana yang menjadi salah satu identitas kunci Unisba sebagai perguruan tinggi Islam terkemuka di Kota Bandung.

Seminar yang deselenggarkan sebagai puncak acara prosesi Milad Unisba ke-57 tersebut juga dihadiri para rektor tetangga dari berbagai perguruan Tinggi di Kota Bandung. Dengan sangat antusias rektor yang telah menjadi ‘nakhoda’ Unisba selama dua periode ini berharap benar program pesantren mahasiswa dan calon sarjana menjadi kawah candra di muka bagi para mahasiswa agar dapat menyeimbangkan antara ketajaman pemikiran dengan ketaatan pada aturan yang telah digariskan ajaran Islam.

Program pesantren menjadi sesuatu yang menarik, berhubung isu dekadensi moral yang kian mengkhawatirkan di tengah-tengah generasi muda, belum lagi fenomena dikotomi ilmu yang semakin meruncing pada pemiskinan sudut pandang terhadap sebuah keilmuan, karena anggapan agama dan pengetahuan tak dapat dipertemukan apalagi disatukan. Pemikiran seperti ini, nyata telah memisahkan antara ilmu dengan esensi kehadiran ilmu itu sendiri sebagai sarana untuk menemukan Dzat Yang Maha Pemberi Pengetahuan, yakni Allah Azzawajala.

Istilah ‘pesantren’ berasal dari kata ‘santri’ yang ditambah imbuhan ‘pe’ dan akhiran ‘an’ jika di tulis menjadi ‘pesantrian’. Untuk memudahkan penyebutannya, diucapkan ‘pesantren’. Sedang kata Santri berasal dari bahasa Hindu ‘sastri’ yang artinya ‘ahli kitab suci agama Hindu’. Kata tersebut diasimilasikan ke dalam bahasa Indonesia menjadi ‘santri’ yang bermakna ‘ahli kitab suci agama Islam ‘. Secara bahasa, Akademisi Muhammad Rais mendefinisikan ‘santri’ sebagai ‘orang yang fokus belajar tentang ilmu pengetahuan agama Islam’.

Menyoal kapan pesantren mulai ada di Indonesia sampai saat ini masih menjadi perdebatan, mengingat fakta-fakta yang dikaburkan pihak kolonial Belanda yang takut akan jati diri pendidikan Indonesia yang sesungguhnya. Mengapa pesantren dianggap menjadi soko guru pendidikan di Indonesia? Jauh sebelum Belanda datang, jauh sebelum kolonialisme bercokol dan ‘menelurkan’ gaya pendidikan ‘formal’-nya, pendidikan Islam (Pesantren) tumbuh subur seiring meluasnya pengaruh dakwah Islam di Nusantara.

Sejak bangsa ini masih berbentuk kerajaan, kira-kira abad 13-18 Masehi, lembaga pendidikan Islam berupa pesantren  dikembangkan guna memenuhi tuntutan zaman. Pesantren ditinjau dari orientasi pengembangan sistem pendidikannya mengandung orientasi sebagai basis keagamaan umat Islam, dan menjadi media konsolidasi serta sosialisasi bagi masyarakat Nusantra yang belum menganut agama Islam.

Lebih jauh lagi, salah satu kritikus dan tokoh pendidikan Islam Hasbullah, menyebutkan bahwa “Pesantren mampu memainkan peranan penting dalam berbagai lini kehidupan baik aspek sosial, politik, dan budaya”. Dibuktikan dengan lahirnya tokoh-tokoh nasional seperti: KH. Hasyim Asyari (Mujaddid) KH. Zaenal Mustofa dan Bung Tomo (Mujahid), serta KH. Wahid Hasyim (Mujtahid). Pesantren telah mewujud menjadi sebuah gerakan yang berimplikasi lahirnya kekuatan masyarakat Islam dari berbagai komunitas muslim yang ada.

Kelahiran pesantren menjadi wujud konkrit penghayatan dan pengamalan ajaran-ajaran Islam kepada masyarakat Islam di Indonesia. Serupa dengan cita-cita tersebut, Unisba meniru sistem pesantren dan dikolaborasikan dengan metode pendidikan yang lebih aktual. Program pesantren Unisba menjadi wahana diseminasi nilai 3M (Mujahid, Mujtahid, dan Mujaddid) sebagai ruh civitas akademika Unisba, utamanya para mahasiswa sebagai tonggak utama pelanjut estapeta perjuangan bangsa.

Ruang kuliah yang menjadi tempat untuk menyombongkan diri dengan pencapaian akademik selama ini, dinding-dinding kampus yang berdiri kokoh memisahkan kenyataan hidup dengan buaian-buaian teoritis yang begitu nampak idealis tak jarang membuat kita lupa akan hakikat yanag sebenarnya tentang nilai luhur dari sebuah pendidikan. Nilai di mana seharusnya orang yang pintar menjadi pembimbing bagi sebagian orang yang kurang pintar, orang yang tahu menjadi pendamping bagi sebagian orang yang tidak tahu. Prinsip kehidupan silih asah, silih asih, silih asuh yang sejak dulu menjadi pandangan ‘buhun’ orang Sunda.

Pengoptimalan pelaksanaan pesantren mahasiswa dan calon sarjana menjadi mutlak adanya. Demi memfokuskan diri terhadap pembentukan insan akademisi yang berjiwa pejuang, pemikir, dan pembaharu. Bukan akademisis yang semata-mata memperpanjang nama dengan gelar, namun gagap ketika berhadapan dengan masyarakat. Bukan hanya sibuk menimba pengetahuan dan lupa bahwa pengetahuan tersebut seyogianya harus mampu memberi kemaslahatan bagi orang lain. Seperti yang Nabi Muhammad SAW sabdakan “Sebaik-baiknya manusia, adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya”. (Al-Hadits)

*Penulis adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi 2013

Essai ini menjadi juara 1 saat diikutlombakan yang diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unisba.