Penyelewengan Bukber di Bulan Ramadan

Foto: Net

Momen buka puasa bersama atau biasa kita kenal dengan istilah bukber mungkin sudah tidak asing lagi terdengar di telinga Anda. Tiap kali Ramadan tiba, momen tersebut sering dimanfaatkan sebagian besar masyarakat Indonesia untuk berkumpul. Ajang silaturahmi antar teman, kerabat atau juga kolega menjadi penopang terjalinnya persaudaraan yang erat.

Menurut Arifin Satibi, fenomena bukber sebagai momen untuk menambah banyak pahala secara bersama-sama. Jika melihat suasana bukber di Masjidil Haram maupun Madinah, menurutnya momen tersebut bahkan begitu digembor-gemborkan. “Kalo di sana orang-orang yang mau masuk masjid itu diperebutkan agar berbuka di jamuannya,” ujar Dosen Fakultas Dakwah Unisba. Arifin membeberkan beberapa hal yang seringkali dilanggar saat berbuka puasa bersama.

  1. Buka puasa yang berlebihan

Setelah berpuasa seharian penuh lamanya, alhasil banyaknya orang yang menuntaskan rasa dahaganya dengan berbuka sebanyak-banyaknya. Namun, berbuka berlebihan seperti ini tidak dianjurkan. Arifin memberikan tips agar berbuka puasa dengan yang manis terlebih dahulu dan tidak langsung menuntaskan semua makanan. “Kalo ada kurma, ya bukanya dengan itu juga air putih. Berlebihan juga tidak baik untuk kesehatan,” jelasnya.

  1. Meninggalkan kewajiban menunaikan salat

Asyik bercengkrama bersama kerabat memang baik, tetapi juga harus ingat waktu. Setelah berbuka puasa biasanya orang-orang mengobrol asyik bersama temannya karena sudah lama tidak kumpul. Dampaknya, kewajiban salat pun tak jarang ditinggalkan karena kelalaiannya. “Biasanya salat maghrib banyak ditinggal setelah berbuka, karena waktunya yang singkat menuju Isya.”

Arifin pun memberikan tanggapan positif yang bisa didapat di bulan penuh berkah ini. Memberikan sodaqoh berupa makanan saat berbuka bisa menjadi ladang pahala bagi tiap insan. Berdasarkan hadis dari Rasullullah, “Barang siapa yang memberikan makanan kepada orang lain untuk berbuka puasa. Maka yang memberikan makanan itu akan mendapatkan pahala sebagaimana orang yang melaksanakan puasa”. Hal itu diakui Arifin sebagai sumber positif dari bukber dengan tujuan menghasilkan pahala.

Momen bukber pun tak ingin dilewatkan oleh mahasiswa asal Teknik Pertambangan, Aldi Muhari. Ia lebih memilih momen bukber dipergunakan untuk ajang silaturahmi. Menurutnya, bukber sah-sah saja asalkan tidak meninggalkan kewajiban seperti beribadah. “Tujuan awalnya sih paling kita mempererat tali silaturahmi. Terus banyak melepaskan kerinduan bersama teman SMA,” ucap mahasiswa yang telah menempuh semester akhir tersebut.

Bulan Ramadan harusnya menjadi ajang untuk menambah amalan berkali lipat. Nahas, banyak yang bermaksud baik, tetapi hasilnya berbuah dosa atau mudharat. “Lebih bagus sedang makan ingat shalat, dari pada shalat tapi ingat makan,” tutup Arifin.  (Fadhis/SM)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *