Parodi ‘Duit’

karya : Monica Rantih Pertiwi

Sulaman huruf tergores selaras berbisik instrumen.

Perawan, diramu seniman.

Tampak kata mengintip diantara kalimat yang mengikat.

Pekat, penuh hasrat.

Rangkaian tubuh layu dipersimpangan mulai merayu.

Dahulu, bibir mendayu.

Kepakan kertas berkedip genit didandani nominal.

Bergaul, kecupan pun legal.

Lorong trotoar jadi saksi meditasi birahi.

Digali, dalam liang diri.

Bercumbu.

Meramu.

Bisu.