[Opini] Distorsi Zaman dan Peyorasi Kata Eksis

Untuk mengimbangi gempuran akun serba hits, dan konco-konconya yang mulai terbodohi permainan ini, agaknya perlu bagi saya menyoroti pergeseran makna dari kata ‘Eksis’.

Sementara Rene Descartes telah merenungi ‘Cogito ergo sum’-nya sedari lama, hari ini, berpikir bukanlah tolak ukur keberadaan atas diri seseorang lagi. Duaribulimabelas, sebuah kata berfisik angka, dimana eksis tak lagi dapat dimaknai secara rasional. Eksistensi buah pertanyaan besar yang dipikirkan berabad-abad silam, kini hanya jadi permainan kata dengan tagar di depannya.

Bagi sejumlah insan, kata ini senantiasa menjadi komoditas yang harganya jauh di atas cabai, bahkan daging sapi sekalipun. Permainan kata yang hipokrit, menjual paras, serta acungan jempol atau stimulus untuk dua kali ketukan. Bahkan sering kali menggantikan posisi imam dalam banyak prosesi.

Sejatinya eksistensi diboyong dari kata existere dengan arti; muncul, ada dan timbul. Bahasa latin yang tesusun dari ex berarti keluar, dan sistere yang berarti tampil ini memiliki banyak pengertian. Sebagian orang mengatakan bahwa eksistensi hanya berbicara tentang keberadaan. Ada juga tafsiran eksistensi yang mengatakan segala hal berkaitan dengan aktualitas, suatu yang dialami dan menekankan keberadaannya, lebih dari itu, ada pula yang mengasimilasikannya dengan kesempurnaan.

Namun hari ini? Kalian pun bisa menjawabnya tanpa perlu berpikir, bukan?

Jangan sedih dulu, mungkin pernyataan Karl Jaspers bisa menjadi pledoi tabiat kekinian ini. Menurutnya, semua mahluk memiliki cara memaknai kebebasan yang khas. Ia menamainya eksistensi seorang individu, sehingga bagi yang mampu menentukan jati diri atas keberadaannya, dan mampu berdiri di atas eksistensi orang lain, adalah mereka mendapatkan eksistensi sejati.

Kembali, kita kecilkan frame. Bertebarnya akun-akun murahan berlebel eksis di Kampus Biru, membuktikan betapa rendahnya indikator sebuah kalimat eksistensi di kalangan sebagian pemuda hari ini. Bayangkan bila keberadaan seseorang hanya dibatasi dari kemilauan paras, juga tingkat pergaulan. Budaya pergaulan kelas borjuis menjadi indikator lain.

Pada akhirnya eksistensi tetap sebuah kata sakral yang kini jadi amat murahan, lebih murah dari tarif buang hajat di taman kota. Mengutip gurauan kawan, “keberadaan saya di Unisba, membuktikan tidak semua mahasiswa Unisba eksis.” (Muhammad R. Iskandar/SM)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *