Mahasiswa 'Sapi Perah'

Oleh: Wildan A. Nugraha

Hay para mahasiswa, bagaimana kabarnya? Stabil? masih sibuk dengan urusan akademik? Atau sudah tertawa dengan toga di kepala, eh atau hampir mungkin? Begitu dong, jangan lama-lama kuliah, toh gampang kan lulus dari Universitas Islam ini. Tinggal menuruti keingan para dosen, untuk ini dan itu, setelahnya kamu berhak atas penambahan nama gelar di belakang namamu. Eits jangan lupa ‘memanjakan dosen’, aktivitas yang satu ini cukup untuk membuatmu dipanggil paling awal dan duduk di depan saat acara wisuda.

Salah satu agenda ‘memanjakan dosen’ lainnya yaitu dengan adanya kelas semester pendek yang berubah menjadi remedial. Cukup untuk para mahasiwa mendapat nilai lebih bagus dari sebelumnya secara cepat. Musababnya, biaya yang dibayarkan untuk agenda remedial tentunya lebih besar.

Sekitar 3000 dedek-dedek gemes masuk kampus Islam ini ditempa untuk menjadi  Mujahid (pejuang), Mujtahid (pemikir), dan juga Mujaddid (pembaharu), entah kemauanya sendiri atau terpaksa. Dan ditargetkan untuk lulus dengan delapan semester.  Cukup delapan semester? Tentu harus cukup, jika tidak, dipastikan kamu-kamu yang hits bakalan ditegur, bahkan terancam di Drop Out (DO), ataupun dilulus cepatkan dari universitas ini.

Kampus yang berada di tengah kota ini sedang mengalami perkembangan, ditandai dengan terus meningkatnya jumlah mahasiswa baru pada tiap tahunnya. Tidak sampai di sana, ditambahnya gedung baru jangka panjang sampai adanya jurusan pasca sarjana menjadi cara lain si kampus biru berbenah diri. Namun, apa yang terjadi, adalah kuota mahasiswa baru yang bertambah tidak diimbangi dengan fasilitas yang memadai. Benarkan?

Dengan penambahan kurang-lebih 3000 mahasiswa baru untuk tahun 2015 silam, maka jumlah keseluruhan para ‘pejuang’ kampus kakbah membengkak hingga sekitar 13.000 mahasiswa. Jika digabungkan dengan luas keseluruhan luas kampus (tidak termasuk ciburial) dan civitas akademik Unisba, serta kendaraan pribadi yang dibawanya, mahasiswa Unisba hanya mendapat 39 cm ruang gerak di dalamnya. Luas ya? Apakah nyaman berada di kampus dengan ruang gerak sekitar setengah meter? Baru-baru ini Unisba mengadakan acara wisuda dengan agenda dua tahap, pagi dan sore. Dan seperti biasa, jalanan Tamansari yang berada di tengah jantung Kota Parahyangan pun ditutup untuk mendukung susksenya acara wisuda, karena jelas lah permasalahannya, lahan parkir yang disulap menjadi auditorium untuk para wisudawan/ti.

Dewasa ini, sudah seharusnya kampus biru mempertimbangkan untuk kemajuan Unisba secara seimbang dan benar. Kuantitas boleh saja ditambah dengan pemasukan dana segar dari mahasiswa baru serta adanya penambahan gedung,  tapi jangan lupakan segi kualitas. Jangan jadikan kami mahasiswa seperti sapi perah yang tidak diberi asupan gizi yang bagus, karena kualitas susu yang kami keluarkan berbanding lurus dengan gizi bapak/ibu berikan.