Mahasiswa Ditengah Kepungan Virus Apatisme

Oleh: Susanti Asmarani Putri*

Ketika kita membandingkan kata “Mahasiswa” dan “Apatisme” sangat berbeda sekali. Namun, saat dua konteks ini digabungkan akan mengandung arti, yaitu suatu penyakit yang melekat pada kebanyakan mahasiswa yang acuh atau tidak peduli dengan seluruh aktivitas positif di lingkup kampus. Salah satunya adalah berorganisasi. Hal ini merupakan penyakit, jika tidak dibasmi akan membudaya. Ini permasalahan serius yang harus dicari solusinya.

Saat ini belum ada data pasti mengenai seberapa besar persentase jumlah mahasiswa Unisba yang menganggap organisasi sebagai hal yang tidak penting. Fenomena nyata ini dapat diamati langsung di kampus kita sendiri. Tampak terlihat jelas sikap masa bodoh mahasiswa terhadap kegiatan-kegiatan positif kampus, seperti malasnya mengikuti forum diskusi kebangsaan, kemahasiswaan, keorganisasian, ataupun kegiatan aksi demonstrasi dalam mengkritisi kebijakan pemerintah terkait kepentingan rakyat. Bahkan sepinya keikutsertaan mahasiswa dalam kegiatan sosial seperti, penggalangan dana untuk korban bencana.

Dalam upaya memerangi sikap apatisme pada mahasiswa, peran senior diperlukan dalam memupuk pemahaman betapa pentingnya berorganisasi dan manfaat yang bisa didapati oleh mahasiswa baru. Para senior dapat menyalurkan minat dan bakat mahasiswa baru yang memiliki inisiatif untuk melibatkan diri di dalam organisasi tertentu. Tetapi, tidak berbentuk menggiring mahasiswa baru agar bergabung dalam salah satu organisasi. Upaya penggiringan mahasiswa baru oleh senior ke dalam organisasi tertentu kerap mengabaikan kebutuhan mahasiswa yang sebenarnya. Setiap mahasiswa punya latar belakang, minat dan bakat yang berbeda. Dalam hal ini, senior seharunya berperan hanya untuk memfasilitasi masing-masing mahasiswa sesuai dengan minat dan bakatnya. Seperti halnya, jika ada mahasiswa yang memiliki bakat di bidang sepak bola, seharusnya direkomendasikan untuk bergabung ke dalam organisasi yang fokus dalam pengembangan diri di bidang tersebut.

Ketika ada mahasiswa baru bergabung dengan organisasi yang tidak sesuai dengan minat dan bakatnya, tentu dia tidak akan bisa mengoptimalkan kemampuan yang dimiliki. Selain dapat merugikan mahasiswa tersebut, organisasi yang bersangkutan pun akan kecipratan kerugiannya dengan memiliki individu yang tidak dapat bergerak secara optimal. Misalnya ada mahasiswa yang memiliki bakat di bidang seni, khususnya bernyanyi. Tetapi, oleh seorang senior yang memiliki kepentingan tertentu, mahasiswa tersebut malah digiring ke dalam organisasi yang sedang diikuti olehnya yaitu otomotif.

Mahasiswa butuh ruang gerak yang selaras dengan gerakan yang ingin dilakukannya. Ketika ruang gerak yang dimasuki seorang mahasiswa ternyata kontradiktif dengan gerak pengembangan bakat yang ingin dilakukan, maka upaya optimal guna meraih tujuan berupa tersalurnya potensi yang dimiliki menjadi sulit bahkan bisa saja nihil akibat adanya ketersendatan saluran. Jadi, bentuk gerak yang sesuai dengan keinginan hanya akan bisa diwujudkan dalam ruang gerak yang punya kesesuaian serta mendukung gerak yang dilakukan tersebut. Put the right man in the right place.

Beragamnya minat dan bakat setiap mahasiswa terkadang ada yang tidak memiliki wadah untuk menyalurkannya karena ketiadaan organisasi yang sesuai dengan kebutuhan. Untuk menghindari munculnya sikap apatis dari mahasiswa yang memiliki bakat  tetapi tidak ada organisasi yang mewadahinya, guna mengoptimalkan pengembangan bakatnya, disinilah peran senior harus lebih aktif. Para senior, harus memiliki inisiatif dalam memfasilitasi mahasiswa yang “terlantar” tersebut untuk mendirikan ruang gerak baru. Dengan peran aktif ini, virus apatisme bisa diperangi.

Bentuk gerak semakin banyak, maka ruang gerak harus pula mengikuti setiap pertumbuhan bentuk gerak. Ruang gerak diciptakan untuk menyerap bentuk-bentuk gerak yang tidak terwadahi. Jika semua mahasiswa punya bakat yang saling berbeda, maka semua mahasiswa harus memiliki wadah organisasi untuk menyalurkan minat dan bakatnya. Upaya ini semakin digeliatkan bersamaan dengan pertumbuhan rasa penting berorganisasi pada banyak mahasiswa, bukan tidak mungkin virus apatisme bisa masuk kubur.

*Bidang Pendidikan BEM Fakultas Teknik Unisba 2014