Mahasiswa dan Sapi

Oleh: Affan Aliga.*

Jika boleh saya membuka catatan ini dengan apa yang dikatakan Mansour Fakih tentang dunia pendidikan kita bahwa terdapat suatu gejala unik yakni telah terjadi komodifikasi pendidikan. Peserta didik dianggap sebagai konsumen yang boleh diperas sekering-keringnya oleh si empunya kampus, dan pendidikan telah menjadi lahan bisnis yang menjanjikan bagi para pemodal (pendidikan dalam arti orientasi uang bukan dalam arti hakikat memanusiakan). Jika hal ini telah terjadi, maka yang terbangun bukanlah relasi belajar-mengajar, melainkan relasi dagang (jual-beli) antara mahasiswa dengan perguruan tinggi. Ironis memang, apa yang dikatakan Pierre Bourdieu tentang lembaga pendidikan memang telah jauh adanya. Pierre Bourdieu mengistilahkan bahwa ada tiga lembaga dalam Negara . Pertama, lembaga tangan kanan, ia adalah lembaga-lembaga yang bertujuan menghasilkan revenue (keuntungan) bagi negara, misalnya Departemen Keuangan dan Kantor Pajak. Adapula lembaga Tangan Kiri Negara yakni perisai institusional bagi para kelompok miskin, misalnya lembaga Pendidikan. Sedangkan militer/polisi Bourdieu menyebutnya sebagai “Tangan Represif Negara” ia sudah tidak lagi berfungsi sebagai penyeimbang tangan kanan dan kiri melainkan menindas hak-hak konstitusional kaum miskin dalam Eko Prasetyo, Islam Itu Agama Perlawanan, Resist Book, 2005.

Lebih gila lagi, para tauladan di perguruan tinggi sangat mengadopsi pola dagang ala kompeni. Seperti era koloni, para petani menjual hasil lahannya kepada Belanda dan menjual dengan harga yang telah ditetapkan, tanpa ada proses negosiasi. Mayoritas pendidikan kita saat ini memang mengadopsi total pola bisnis ala kompeni, mahasiswa tak ubahnya seperti petani zaman kompeni atau bak Sapi perahan yang telah dicocok hidungnya, diperas susunya sampai habis, dibawa kemana-mana nurut, pokoknya harus nurut. Satu kata yang sangat menyeramkan : NURUT. Dengan sebuah iming-iming nilai bagus, kalau rewel dan melawan akan kami skorsing, orang tua akan dipanggil, atau bila memobilisasi massa melakukan protes, anda akan diancam DO (Drop Out). Serem kan? Proses dialogis nampaknya telah pudar di lembaga paling ilmiah ini. Beberapa kejadian telah terjadi, misalnya presiden mahasiswa salah satu kampus swasta di kota Bandung yang diskorsing karena update di jejaring sosial twitter tentang beberapa prasarannya untuk perbaikan kampus dan hasil audiensi dengan pihak Rektorat.

Jelang penghujung semester genap ini, tak terlewatkan sebuah ritual khusus bagi para pemilik modal perguruan tinggi, yakni hobi menaikkan biaya pendidikan. Entah itu USKS, UPU atau sebagainya. Kebijakan atau ke(tidak)bijakan ini meskipun tidak mengikat mahasiswa lama dan hanya mengikat mahasiswa baru, masih tetap layak dan harus dibicarakan. Entah dianggap sebagai suatu issue murahan, gossip kacangan atau sekedar celotehan, nyatanya ke(tidak)bijakan ini senantiasa menguap di kalangan mahasiswa terutama mereka yang tergabung di elemen eksekutif mahasiswa, pers mahasiswa, dan beberapa organisasi eksternal yang bercokol di kampus tersebut.

Sebut saja organisasi eksternal di kampus, yang selalu berteriak atas nama agama dan bangsa. Kemana mereka ketika ada mahasiswa yang dicutikan karena belum mampu membayar kuliah, atau kemana mereka ketika ritual tahunan ini diterapkan? Jangan-jangan telah membangun korporasi dengan para penguasa kampus atau BEM-BEM dan Himpunannya yang selalu membanggakan warna jaketnya, berteriak atas nama mahasiswanya. Kemana mereka ketika berbagai ke(tidak)bijakan yang memberatkan mahasiswa ini diterapkan? Kemana mereka ketika dana-dana kemahasiswaan yang dialokasikan untuk menunjang aktivitas dan kegiatan mahasiswa justru hilang entah kemana perginya? Bolehlah saya sebut bahwa artikulasi perlawanan mahasiswa memang telah habis, kita terkadang bingung mau ngapain berorganisasi (selain buat event biar bisa dipamerin ke junior-juniornya “Nih, jaman gua megang dulu banyak acara gini,gini,gini”. Ditambah lagi ritual kongkow bareng pengurus ditempat-tempat “aneh”, pokoknya tiap minggu harus rapat biar dibilang aktivis mahasiswa- padahal yang dibahas kadang-kadang cuma klub sepak bola yang semalem tanding, atau buruk-buruknya ngomongin artis, film, dan lawan jenisnya. “Terus kapan dong mahasiswa bicara Bangsa?” kadang ada juga teman mahasiswa yang menafsirkan perlawanan itu hanya dengan aksi demonstrasi dan inilah mengapa saya sebut artikulasi perlawanan mahasiswa memang telah habis).

TOTAL DISTRUST! Mungkin kata yang tepat untuk kita layangkan kepada mereka yang menyandang level “Aktivis Mahasiswa”. Kita yang dulu sama-sama membangun pemahaman kepada adik-adik mahasiswa baru tentang dunia kemahasiswaan yang luas dan tidak sempit seperti dinding kelas, kita yang memahami mereka tidak seperti gelas kosong dan memberikan kebebasan kepada mereka untuk bergabung sesuai minat dan bakatnya. Tentu pemahaman bahwa adik-adik mahasiswa baru seperti gelas kosong yang mana potensinya akan penuh apabila mau diberikan apa saja oleh pendidik tidaklah selamanya tepat.

Paulo Freire mengatakan bahwa salah satu esensi pendidikan adalah tidak memandang peserta didik sebagai gelas kosong. Yang bebas diisi apa saja, diberi asupan apa saja. Mereka mempunyai hak dan berkat untuk mengembangkan potensi internal dalam dirinya, dominasi eksternal tidak boleh terjadi. Freire memandang bahwa mahasiswa bukanlah objek yang bisa diapakan saja, oleh karenanya pendidikan haruslah bersifat dialogika (bersifat dialog) dan tidak boleh monolog seperti mengisi gelas. Pendidikan adalah diskusi, berbicara dan saling bertukar pikiran, guru belajar dari murid, dan murid harus belajar dari guru.

Ketahuilah pemahaman yang meyakini bahwa manusia seperti gelas kosong sejatinya telah mereduksi kekuatan potensial dalam diri manusia, membiarkan kekuatan eksternal mendominasi dan menghegemoni diri sendiri adalah ciri dari ideologi penindasan hal ini dungkapkan oleh Freire. Wajar apabila calon mahasiswa baru seraya tunduk dan patuh pada ke(tidak)bijakan ini, sebab apa? pemahaman yang selama ini didapat dari Sekolah Menengah tidaklah sama dengan akademia (kebebasan) yang menjadi spirit perguruan tinggi.

Bagi kita yang cukup lama menikmati pendidikan di kampus ini, haruslah menjadi subjek setara dengan kelompok lain yang ada di kampus ini, kita tidak boleh menjadi objek pasif dan sapi perahan yang bebas dan mau diapakan saja. Meminjam istilah Lenin, harus adanya a small insistent few (kelompok kecil yang ngotot) untuk merubah kondisi yang tidak manusiawi kepada kondisi yang lebih manusiawi.

*Mahasiswa Teknik Industri 2011*