Lima Menit, Untuk Lima Tahun

Oleh : Faza Rahim/SM

“It’s hard to beat the system
When we’re standing at a distance
So we keep waiting, waiting on the world to change..” John Mayer – Waiting On The World To Change

Setelah empat tahun Bangsa ini terjebak dalam pemerintahan yang statis, akhirnya pesta demokrasi alias Pemili kembali terlaksana. 9 April 2014 lalu, masyarakat berbondong-bondong pergi ke Tempat Penampungan Suara terdekat untuk menyalurkan suara mereka. Untuk kembali berusaha meyakinkan diri pada kinerja pemerintah yang semakin hari semakin tidak meyakinkan.

Dua belas partai politik berpartisipasi di tahun 2014. Masing-masing mencalonkan kandidat terkuat mereka dalam kancah pemilihan kali ini. Wajah-wajah yang sebenarnya tidak begitu dikenali oleh masyarakat, dengan segudang visi misi yang ‘katanya’ akan menjadikan bangsa ini lebih baik. Dalam foto mereka tersenyum menjanjikan. Dapat memikat hati siapa saja yang melihatnya.

Sudah jadi rahasia umum, bahwasannya masyarakat Indonesia semakin hari semakin kritis. Semakin aktif dalam hal-hal berbau politik. Apalagi generasi muda. Generasi yang akan jadi calon penerus bangsa. Tetapi sayangnya, generasi yang disebut-sebut sebagai makhluk paling idealis ini rupanya ‘cukup mahal’ untuk menyumbangkan suara mereka dalam Pemilu. Hal ini terbukti dengan jumlah Golput Pada pemilihan tahun 2009 yaitu 39,10% dan diprediksi, tahun ini akan mengalami peningkatan. Padahal, dalam konteks keterbukaan dalam pemilihan umum, pemuda lingkup umur 17-21 tahun memiliki jumlah konstituen sekitar 19,7 juta orang (Sensus Penduduk 2010). Sebuah jumlah yang signifikan untuk menentukan arah kebijakan pemerintah mendatang melalui pemimpin-pemimpinnya. Sedangkan 45% dari hasil tersebut menyatakan bahwa pemilih muda tidak menggunakan hak suara mereka. Ironis bukan?

Kekecewaan pada sistem politik menjadi alasan klasik yang sering dikemukakan. Tetapi, apabila kita kembali berpikir dalam dimensi yang lebih luas, apakah dengan terus-terusan kecewa kita dapat memberikan perubahan signifikan untuk kemajuan bangsa ini? Apakah dengan hanya terus merutuk dan tidak memberis kontribusi apapun bangsa ini dapat jadi lebih hebat?

Membicarakan politik dan sekelumitnya kita seperti dihadapkan pada dua sisi koin yang saling bertolak belakang. Antara sisi baik dan sisi buruk. Tidak ada yang abadi dalam politik kecuali kepentingan. Namun bukan berarti tidak menyuarakan hak pilih kita adalah hebat. Memang generasi muda sering dikenal dengan sikap mereka yang dinilai cenderung keras kepala. Itu tidak salah. Tetapi tidak selamanya menjadi seperti itu benar.

Ada baiknya, kita sebagai generasi muda lebih cerdas dalam berpolitik. Manfaatkan apa yang seharusnya dapat kita beri. Penulis bukan orang yang bersih. Tetapi penulis disini, sekedar ingin berbagi, bahwa Golput tidak akan membawa bangsa ini kemana pun. Golput menjadikan suaramu dapat dimanipulasi oleh oknum entah untuk melejitkan voting partai mereka atau disalahgunakan oleh pemilih yang lain. Tidak ada salahnya dengan berani memilih dan mengambil keputusan. Perkara ini bukan hanya perkara biasa. Kita memilih lima menit, untuk lima tahun yang akan datang. Bukankah hidup adalah pilihan?

Sudah sebaiknya kita sadar, bahwa arus perubahan ada di tangan kita. Generasi muda.