Haruskah Pemuda Disumpah (Lagi)?

Hal yang seringkali disebutkan bahwa tonggak sejarah perjalanan bangsa Indonesia sejatinya tak lepas dari keberadaan dan peran pemuda. Di negara ini, peran pemuda sangat jelas berpengaruh dan mencolok ketika awal perjuangan kemerdekaan, masa kemerdekaan itu sendiri, dan pasca kemerdekaan. Akan tetapi, itu hanya menjadi penggalan pengingat kisah semangat heroik para pemuda dikala republik ini sedang susah payah ingin berdiri sendiri, melepaskan belenggu harga diri yang dijajah bangsa lain. Hanya demi untuk mencapai satu tujuan: merdeka!

Namun nyatanya, setelah 84 tahun Sumpah Pemuda dikumandangkan, seiring umur negara merdeka ini semakin menua, dan roda zaman yang makin tergerus canggihnya teknologi, seakan pesan-pesan dan makna Peringatan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober hanya menjadi hiasan ingatan dikala menginjak bangku sekolah saja. Eksistensi pemuda saat ini banyak disibukkan dengan kehidupan individual masing-masing, memperkaya citra di dunia virtual, ketimbang melakukan perubahan dengan pergerakan yang berarti untuk negara yang katanya dicintainya. Bisa dibilang, semangat nasionalisme didalam diri para pemuda justru hadir dan panas disaat waktu tertentu saja. Entah disaat event-event olahraga internasional, atau bahkan ketika negara tetangga senang mengompori lewat forum-forum bebas di dunia maya. Lebih merasa terpanggilkan jiwa nasionalisnya, ketika sang negara seberang sibuk mengklaim apa yang menjadi aset dan identitas bangsa ini. Lalu sesaat kemudian, ketika terbangun dari tidur yang lelap seperti lupa dengan sendirinya apa itu arti semangat pemuda yang seutuhnya.

Sedikit menyikapi, dewasa ini media massa banyak menyoroti tentang tawuran anak sekolah, dan adu jotos sesama mahasiswa di berbagai daerah. Tanpa sebab yang pasti, hal seperti itu menjadi hal yang biasa terjadi di kalangan bibit bangsa. Seakan gengsi mengakui adanya perbedaan, malah lebih senang berbicara lewat perantara senjata ketimbang duduk santai di warung kopi sembari berdiskusi menyikapi negara ini yang nyatanya semakin ‘sakit.’

Yang tak jauh berbeda, ketika saya sendiri sebagai mahasiswa memandang realita, di lingkungan saya berada. Saat ini keberadaan ruang lingkup kampus yang sudah jelas menjadi tempatnya para intelek muda calon pemimpin bangsa dilahirkan, rasa semangat pemuda bisa tumbuh dan lagi-lagi hanya bergejolak musiman saja, entah itu ketika peringatan-peringatan acara tertentu, atau hanya sekadar mempertahankan identitas kepentingan kelompok pribadi masing-masing. Dengan alasan demi membela harga diri, para pemuda yang notabenenya seorang mahasiswa lebih senang berargumen dengan fisik ketimbang dengan retorika yang jeli membaca situasi. Sibuk menggelar aksi sana sini, tanpa tujuan pasti, atau sekadar hanya ingin meramaikan dinamika kampus, lalu tak jarang aksi yang digelar berujung anarkis. Seperti yang sudah sudah, lagi-lagi para muda mudi disibukkan dengan urusan pribadi masing-masing individu mengatasnamakan solider antar sesama, melupakan makna bait pertama Sumpah Pemuda yang memaknai “Bertumpah Darah Yang Satu, Tanah Air Indonesia.” Karena dari itu semua, kehidupan kampus sebagai miniatur negara ini, lebih banyak diramaikan dengan pepesan kosong para aktivis-aktivis yang selalu ingin tampil eksis tapi tidak dijalannya.

Singkat kata, dari berbagai kisah semangat patriotisme semu pemuda masa kini, kita para muda mudi sebagai pelaku sejarah sekarang sudah ibarat seperti sumbu dinamit yang pendek; ketika disulut sedikit saja sudah gampang meledak, ketimbang menyelesaikan masalah dengan otak, lebih senang dengan otot. Lantas dengan seenaknya menggunakan tameng mengatasnamakan individu dan kelompok tertentu.

Dari semua ekspetasi ekspresi pemuda pemudi saat ini, memang tidak melulu tentang yang sinis-sinis, ketika bangsa kita dilanda berbagai krisis dibanyak bidang, menjadi amatlah penting bagi generasi muda untuk menyimak dan menghayati makna sumpah pemuda bagi kelangsungan hidup Indonesia. Apapun yang dibuat pemuda pemuda di era bebas berekspresi ini, yang harus kita dalami dan pahami ialah bagaimana kita pemuda pemudi yang kelak memegang tahta republik ini mampu mengisi hari-hari yang ada sekarang dengan hal-hal yang bermaanfaat.

Sekadar tahu apa itu arti Sumpah Pemuda bukan hanya diartikan dari menghapal sejarahnya dinalar luar kepala saja. Namun, ada baiknya kita telaah lebih dalam dari itu semua, yakni dengan mendalami bahwa dengan adanya Sumpah Pemuda kita sebagai bangsa yang berazaskan Bhineka Tunggal Ika disatukan dengan ikrar dengan kesamaan tanah air satu, bangsa dan bahasa yang satu, yakni Indonesia.

Masih amat banyak tugas yang harus kita emban sebagai pemuda pemudi Indonesia, salah satunya yakni dengan berusaha memajukan apa yang menjadi identitas bangsa Indonesia itu sendiri. Tidak bermaksud untuk muluk-muluk, dengan menjaga kerukunan antar suku bangsa dan umat beragama, juga melestarikan budaya keramahtamahan yang elok sebagai cerminan bangsa ini, sudah cukup menjunjung tinggi nilai-nilai dan makna dari Sumpah Pemuda tersebut.

Sudah jelas, untuk merealisasikan itu semua tentunya kita harus punya semangat kesatuan yang tinggi. Semangat yang didasari kemauan dan keyakinan keras untuk memahami indahnya perbedaan, dengan keyakinan dan kemauan menghargai keragaman itulah yang menjadikan pemuda pemudi bisa lebih padu dan tidak akan pecah belah.

Sudah saatnya, kita sebagai intelek muda menjawab lantang pertanyaan “mengapa harus kaum muda?” karena didalam semangat kaum muda itu tertanam semangat yang luar biasa dalam mengembangkan hal-hal yang lebih bermakna utuk menghasilkan sesuatu hal yang berharga.

Semoga semangat membara aktivisme kaum muda tetap terpatri di dada dan sanubari. Melanjutkan perjuangan sejarah Sumpah Pemuda dan memahami makna secara utuh. Dengan ikrar satu nusa satu bangsa dan satu bahasa yakni Tanah Air Indonesia, sekiranya tidak dibacakan pada seremoni tahunan setiap tanggal 28 Oktober saja. Membaca Sumpah Pemuda mutlak pada makna yang lebih dalam, tidak sekadar mengerti fakta sejarahnya saja, kawan!

 

2 thoughts on “Haruskah Pemuda Disumpah (Lagi)?

  • August 23, 2013 at 8:00 am
    Permalink

    Salam.
    Kondisi hari ini gerakan-gerakan mahasiswa yang bermetamorfosis jadi aktifis kampus sangat sulit mencari kader-kader baru. Mungkin organisasi tempat bung aktif juga merasakan sama, tapi itu alamiah dan bahkan terjadi di semua sektor. Sebagai penegasan saja karena sudah dijelaskan juga dalam tulisan di atas, bagaimana hebatnya zaman sekarang yang bisa menggiring mahasiswa ke luar rel, malah membuat relnya sendiri. Dan sedikit menambahkan, barang kali masih lebih baik aktifis mahasiswa yang play boy+alay dari pada mahasiswa yang murtad yang sudah di sumpah jadi mahasiswa tapi membelot.

    well. semangat buat kawan2 SM, maju terus pantang mundur. warnai terus kampus biru, kampusnya para mujahid, mujtahid, dan mujadid.

    Salam,
    Muhammad Afif Abdul Qoyim,
    Wakil Presiden Mahasiswa BEM UNISBA Masa Juang 1430-1431 H.

  • August 23, 2013 at 8:00 am
    Permalink

    Salam.
    Kondisi hari ini gerakan-gerakan mahasiswa yang bermetamorfosis jadi aktifis kampus sangat sulit mencari kader-kader baru. Mungkin organisasi tempat bung aktif juga merasakan sama, tapi itu alamiah dan bahkan terjadi di semua sektor. Sebagai penegasan saja karena sudah dijelaskan juga dalam tulisan di atas, bagaimana hebatnya zaman sekarang yang bisa menggiring mahasiswa ke luar rel, malah membuat relnya sendiri. Dan sedikit menambahkan, barang kali masih lebih baik aktifis mahasiswa yang play boy+alay dari pada mahasiswa yang murtad yang sudah di sumpah jadi mahasiswa tapi membelot.

    well. semangat buat kawan2 SM, maju terus pantang mundur. warnai terus kampus biru, kampusnya para mujahid, mujtahid, dan mujadid.

    Salam,
    Muhammad Afif Abdul Qoyim,
    Wakil Presiden Mahasiswa BEM UNISBA Masa Juang 1430-1431 H.

Comments are closed.