Go Green, Slogan yang Mematikan!

Penggalan lagu dari band Kanada Rush menceritakan pohon maples yang meminta cahaya mentari lebih banyak daripada pohon oaks, namun pohon oaks mengabaikan permintaannya lantaran dia tidak meminta diciptakan lebih tinggi dan rimbun dari pohon maple.

1500 tahun yang lalu jauh sebelum syair lagu tersebut dibuat, Allah SWT telah berfirman melalui manusia terpilihnya. “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan-tangan manusia, supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagaian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembai (kejalan yang benar) (QS ar-Rum [30] : 41). Jelas kita sebagai seorang muslim dan sebagai mahasiswa dari kampus yang berlambangkan ka’bah ini patut untuk mengimani dan tersadarkan oleh ayat tersebut.

Entah seperti apa selanjutnya mahasiswa dan seluruh civitas kampus memaknai dan selanjutnya melakukan penghayatan atas ayat suci tersebut di atas. Hanya faktanya ayat tersebut belum kita amalkan dengan baik! Ada rasa malu, sepertinya kita adalah umat yang tekstual, yang selalu berkelit memisahkan teori dengan praksis. Menghamba pada lambang, identitas juga slogan dan melupakan substansi juga hakekat dari kehidupan serta konsekuensi hidup manusia beragama.

Pohon kiara payung yang bisa disebut sebagai ki sabun secara fungsi sebagai peneduh, peredam kebisingan, pemecah angin dan  memiliki daya reduksi yang tinggi terhadap timbal yang merupakan emisi dari kendaraan bermotor. Pohon kiara payung pun dapat tumbuh mencapai 25 meter tingginya, tapi anehnya hanya di kampus ini pohon tersebut hanya tumbuh tidak sampai 3 meter, mungkin karena selalu diteduhkan oleh tenda-tenda yang berdiri berminggu-minggu atau tidak ada kepedulian untuk menyiram pohon, karena pohon ini daunnya akan rontok dan mati apabila disekitarnya kekurangan air.

Go green yang digembar-gemborkan oleh pihak kampus pun tak mengubah dan menghidupkan kembali pohon yang telah mati. Slogan yang mematikan! Menurut penuturan salah satu kepala bagian di rektorat mengatakan bahwa Bapak Rektor sangat peduli dengan lingkungan hijau yang berada disekitaran kampus biru ini. Nyatanya visi Pak Rektor tidak dibarengi dengan kinerja para staff dan jajarannya perihal lingkungan hijau di kampus, khususnya 3 pohon kiara payung. Sudah saatnya peran mahasiswa sebagai pembaharu lebih memperhatikan lingkungan hijau dan kebersihan kampus . Hal ini dikarenakan sudah menjadi fasilitas yang harus dijaga bersama, dan nampaknya dilihat dari fenomena ini sudah saatnya mahasiswa yang menjadi penjaga lingkungan khusunya di kampus yang memberikan pelajaran sekaligus kesegaran.

Patut mahasiswa dan pihak unisba ketahui dan sadari bahwa keberadaan pohon dan tumbuhan tidak hanya sekedar pameran atau penyeimbang tata ruang di gedung unisba ini. Jauh lebih dari itu, faedah yang diberikan oleh pohon dan tumbuhan yang ditanam di kampus, jika kita mau sedikit memaknai dan direnungkan. Ada baiknya mahasiswa melakukan pengorganisiran terkait menjaga dan melestarikan ruang terbuka hijau. Pun dengan para jajaran staf di rektorat selalu diingatkan untuk ikut serta peduli dan memperhatikan ruang terbuka hijau di kampus unisba. Sangat disayangkan seorang pemimpin mahasiswa di kampus ini memberikan pernyataan yang permisif, tidak berpihak dan cendrung turut membiarkan. Sepertinya mahasiswa Unisba membutuhkan pemimpin yang tidak sekedar melakukan diplomasi saja, melainkan berdiri berdampingan dan berani dengan lantang menyuarakan aspirasi mahasiswa dan nilai-nilai kebenaran.

Tawaran dari penulis untuk harapan yang semoga menjadi harapan seluruh masyarakat kampus dijelaskan dalam poin-poin berikut :

  1. Unisba membangun suatu Standard Operational Procedure (SOP) atau aturan khusus terkait penghijauan dan konservasi di sekitar kampus.
  2. Unisba menegakan aturan tegas untuk membangun kampus berwawasan lingkungan yang wajib dikhidmati dan dilaksanakan oleh seluruh insan kampus di unisba; dosen, mahasiswa, staff dan karyawans secara keselurahan.
  3. Memberikan hukuman yang tegas bagi pelanggar dan perusak lingkungan di kampus dan memberikan SOP penyelenggaraan acara kampus yang tidak merusak lingkungan. Sebagai sebiah contoh adalah metode Zero Waste Event yaitu suatu teknis menyelengarakan acara berbasis ramah lingkungan dengan tidak membiarkan sisa-sisa banner, bungkus makanan, botol plastik, gelas plastik dan berbagai sampah lainnya berserakan setelah acara diselenggarakan. Lebih dari itu sampah dipilah dan dipilih. Mode seperti ini memiliki kemampuan untuk mengurangi beban tinggi terhadap potensi sampah dan kerusakan lingkungan.
  4. Mewajibkan setiap organisasi kampus untuk melakukan perawatan terhadap tanaman atau memberikan atensi terhadap kebersihan lingkungan kampus dan sekitarnya.
  5. Unisba harus memiliki task force atau satuan tugas khusus yang terdiri dari setiap stakeholders kampus termasuk mahasiswa yang bertugas melakukan monitoring terhadap upaya konservasi di kampus
  6. Unisba harus memiliki kemampuan upaya enforcement (penegakan) agar bisa konsisten menjaga skala luasan Ruang Terbuka Hijau sehingga tidak beralih fungsi menjadi bangunan baru yang semakin menyesakan dan mudarat secara faedah terhadap lingkungan
  7. Memberikan sanksi sosial dan akademik kepada pelanggar, pencemar dan perusak lingkungan kampus dengan tegas dan tepat.
  8. Membangun kerjasama strategis dengan lembaga yang bergerak dibidang kepedulian lingkungan.
  9. Unisba menjadi pelopor penghijauan disekitar kampus taman sari dengan mendorong mahasiswanya menjadi penggerak dan agen yang merubah wilayahnya lebih hijau dan lestari.

Semoga pada akhirnya kampus kita menemukan kasih sayang dari para penghuninya.
Dodi Gaang, toilet 2016