Filosofi Pembuatan Batik Nelson Mandela

FILOSOFI pembuatan batik yang memerlukan kesabaran dan keharmonisan merupakan cermin kuat kepribadian Nelson Mandela. Ia mengenakan batik pada banyak acara-acara resmi, termasuk pada acara penutupan Piala Dunia tahun 2010 lalu –seperti dilansir dari BBC, Jumat kemarin (6/12).

Mantan Dubes Indonesia untuk Afrika Selatan, Sugeng Rahardjo, mengatakan perkenalan pertama Mandela dengan batik terjadi pada tahun 1990 –beberapa bulan setelah ia dibebaskan dari penjara Pulau Roben. Indonesia termasuk salah satu negara pertama yang dikunjungi Mandela sebagai presiden Kongres Nasional Afrika (ANC).

“Pada akhir Oktober 1990 ia melakukan lawatan pertama ke luar negeri, salah satunya Indonesia. Saat itu pemerintah memberikan baju batik,” kata Sugeng.

Sejak saat itulah presiden kulit hitam pertama Afrika Selatan ini sering memakai batik. Bahkan, dalam pertemuan dengan mantan presiden Suharto pada lawatan itu, Mandela mengenakan batik pemberian pemerintah Indonesia tersebut.

“Yang saya tahu dia suka semua motif. Filosofi dari pembuatan batik inilah yang bisa ditarik dengan kepribadian beliau,” kata Sugeng, yang menjadi notulen saat Mandela bertemu Presiden Suharto.

“Batik mencerminkan kesabaran dan keharmonisan dalam menentukan corak dan warna. Inilah ciri kepribadian Mandela. Kesabaran ini dibuktikan dengan keteguhan hatinya untuk memperjuangkan keseteraan untuk masyarakat Afrika Selatan dan harus dipenjara selama 27 tahun. Penantian 27 tahun ini, akan melemah bila tidak ada kesabaran,” tambah Sugeng.

Sejak mendapatkan hadiah batik dari Indonesia itu, Mandela terkesan dengan warna dan corak batik dan mulai mengenakannya sebagai simbol kedekatan Indonesia dan Afrika Selatan.

Sementara itu warga Indonesia yang memiliki kios batik di Pretoria, Michael Pasaribu, mengatakan minat masyarakat Afrika Selatan terhadap batik kian meningkat terutama sejak Mandela tidak lagi menjabat sebagai presiden.

“Awalnya masyarakat tidak ingin menggunakan batik seperti beliau, karena beliau itu tokoh –masyarakat segan untuk meniru beliau,” cerita Michael yang telah tinggal di Afrika Selatan selama 17 tahun tersebut.

Michael mengatakan untuk kedutaan besar Indonesia di Afrika Selatan sering mengadakan bazar untuk menampung minat masyarakat ini. “Namun setelah beliau tidak aktif lagi di kantor presiden, banyak yang mulai tertarik dan menanyakan di mana bisa membeli batik,” tutupnya.

 

Editor : Sugiharto Purnama

Sumber : BBC