Dunia Berubah!

Oleh: Syifa Luthfiati/SM

Kini anak muda tak lagi mengenal manisnya bersurat cinta. Tak ada lagi untaian kata tercipta dalam secarik polos kertas berbau harum. Dihias pita yang nantinya disampaikan melalui cupid-cupid terpercaya agar sampai pada tujuan yaitu, sang pujaan. Dan tibalah dalam relung waktu cemas terbalut harapan-harapan pembalasan.

Euforia itu kini menghilang. Zaman mematikannya secara perlahan. Muda-mudi modern lebih mencintai instannya proses, dibanding menikmati proses itu sendiri. Benda mati yang “katanya” pintar menjadi dewa bagi seluruh umat sekarang ini. Ya, apa lagi selain gadged! Seluruh jiwa dikuasai olehnya. Terutama anak bangsa yang nantinya mewarisi segala permasalahan negara ini. Mereka disibukkan oleh hal-hal kehidupan tidak penting yang mereka ciptakan sendiri. Sebut saja kegiatan baru yang kini kental dilakukan usia semanis mereka itu, penggalauan dan kekepoan mereka akan sesuatu yang membuang waktu penting.

Galau kata yang sudah tidak asing lagi, seseorang yang sedang merasakan dan pikiran yang begitu resah. Sedangkan kepo, tingkat keingintahuan yang berlebih mengenai urusan seseorang. Dua kegiatan itu sedang menjadi virus bagi anak bangsa saat ini. Sayangnya tidak begitu diperhatikan. Padahal akan memberi dampak negatif. Keacuhan muda-mudi akan keadaan lingkungannya meningkat. Seharusnya mereka terbentuk menjadi anak muda kritis yang cemas dengan masa depan bangsanya. Tapi mereka kini apatis. Termakan alur orang-orang penuh kepentingan yang sukses membuat mereka menjadi manusia konsumtif. Mungkin saja ada sisi-sisi dimana akan menjadi positif, bila dari dua kegiatan itu menciptakan gagasan –gagasan baru dalam dunia yang penuh dramatisasi ini.

Bila saja dunia ini masih seperti dulu. Seperti zaman ibu pertiwi masih seusia muda kami sekarang. Berani beretrorika tajam namun bertanggungjawab. Dan mencintai negerinya seperti mencintai kekasihnya. Tidak bersembunyi dalam indahnya benda mati pintar yang kemudian acuh pada nasib bangsanya sendiri.