[Artikel] Di Balik Kegiatan Ramadhan

‘’Bulan Ramadhan, bulan penuh berkah’’, itulah slogan yang banyak orang  pakai dan menjadi sebuah acuan untuk bersemangat sebulan yang lalu. Pahala yang bertubi-tubi terus mengalir, jika kita melakukan sesuatu hal yang benar. Orang-orang pun  kini sibuk dengan dengan segala macam demi meraih ganjaran pahala, memeriahkan Bulan Ramadhan dengan berbuat kebajikan.

Ramadhan penuh makna dan penuh kebahagian bagi setiap orangnya. Namun,  di balik itu  semua ada sebuah kesedihan dan bisa berupa ‘tusukan’ bagi yang melaksanakan puasa.  Contohnya, warung yang bertirai dan masih terlihat kaki-kaki yang sedang asyik melakukan kegiatan di dalam warung itu. Kini makin banyak yang berani menentang kewajibannya sebagai muslim. Namun, apa daya, atas nama hak kita tidak bisa berbuat banyak, memberikan saran saja dirasa cukup.

Lalu dari tradisi buka bersama, yang menjadi agenda rutin yang seolah-olah sudah terjadwal. Kebanyakan orang pasti bakal berpartisipasi, pasalnya menjadi ajang reuni teman juga. Tiap jenjang pendidikan dari teman SD hingga teman satu kuliah akan mengadakan Buka bersama. Terlepas dari segala kekurangannya, yang baiknya, kegiatan ini menjaga silaturahmi antar teman lama.

Beralih ke sahur on the road atau kini lebih dikenal (SOTR). Sahur yang  biasanya hanya dirumah dengan keluarga, sekarang dibuat agenda dengan makan diluar sambil jalan-jalan.  Kenapa harus diluar? Saya bertanya. Kemungkinan menjaga silaturahmi? Ada benarnya juga. Tapi melihat dari sejumlah media, SOTR ini dapat menjadi ajang kriminalitas, salah satunya tawuran.  Buktinya telah terjadi pada tanggal 5 Juli 2015, di Jakarta.

Masih adakah keberkahan bulan Ramadhan  tahun ini bila banyak terjadi seperti ini. Entah bagaimana cara mereka memandang bulan suci Ramadhan.

Memasuki bulan Ramadhan, orang-orang ‘latah’ untuk berbusana menutupi aurat, agar puasa tidak jadi sia-sia. Namun bagi sebagian orang, bulan puasa menjadi ajang fashion show. Banyaknya model  hijab membuat beberapa kalangan wanita memilih untuk menutup auratnya dengan cara mengikuti trend yang ada. Namun, selesai  Ramadhan dibuka kembali hijab dan beralih seperti busana biasanya. Cukup aneh dengan pimikiran orang tersebut, contohnya saja sejumlah selebritis, sebelum Ramadhan pakaian yang dikenakannya terbuka, mengumbar-umbar auratnya. Lalu,  masuk bulan puasa, ia menggunakan pakaian yang menutup aurat. Tapi selesai Ramadhan kembali lagi menggunkan pakaian seksi. Banyak yang beralasan karena belum siap, dan alasan lainnya. Seharusnya sebagai muslim, sudah sepatutnya berpakaian pantas, karena itu merupakan suatu kewajiban.

Kini Ramadhan sudah mencapai akhirnya. Masih banyak sisi negative yang mayoritas orang lakukan di bulan Ramadhan. Tapi tak sedikit pula yang melakukan kegiatan amalan baik di bulan penuh berkah ini. Semoga saja kedepannya bisa lebih baik dan terus melakukan perbaikan, sehingga apa yang diharapkan pada bulan ini bisa terwujud. Aamiin. (Agam/SM)