Birokrasi Kampus = Labirin Cinta

Oleh: Bobby Agung Prasetyo*

Selamat datang di Labirin Cinta, tempat di mana anda akan menjelajahi 50×50 meter (atau bahkan lebih) petak, demi mencari tatanan kasih tertinggi yakni ‘cinta’. Di sini, tugas teman-teman adalah mengarungi jalan nan rumit, ribuan jebakan, beserta Troll (raksasa buas nan buruk rupa dalam mitos Skandinavia) yang siap menjadikan anda bagian dari makan malamnya. Sebelum masuk, silahkan baca peraturan yang tertera di sini:

1. Bila sulit menemukan apa yang diharapkan, jangan salahkan anda terperangkap dalam harapan kosong.
2. Apapun yang terjadi, patuhi aturan nomer 1.

Lalu di manakah kita akan menemukan tempat ini? Banyak, kok. Bahkan sejauh ini, Indonesia, selain sebagai negara demokrasi ‘abal-abal’, juga merangkap posisi jadi Labirin Cinta. Cukup luas pembahasannya jika saya harus mengkaji 13.466 pulau dari Sabang sampai Merauke lalu membuka manifesto Das Kapital-nya Karl Marx yang dikonversi menjadi Marhaenisme oleh Proklamator kita, Soekarno. Melalui hak prerogatif penulis, maka saya spesifikkan Labirin Cinta ini berada dalam kampus tercinta, Unisba.

Saya tegaskan jika permasalahan mencari ‘cinta’ dalam hal ini bukan hanya tetek-bengek seputar prosedur (pembayaran, perizinan, dll), melainkan juga hal seperti UUD yakni Ujung-Ujungnya Duit yang baru saja Pihak Kamtiber (klik beritanya di sini) terapkan. Jangan hanya terpaku pada Kamtiber; mungkin di dalam sebuah Labirin Cinta, terdapat ‘Labirin Cinta’ yang lain. Hematnya, maksud saya adalah mungkin terdapat birokrasi njelimet lagi di atas sana.

Logically, bilamana kita yang notabenenya termasuk dalam kasta bawah di kampus tak dapat sejahtera, bisa jadi setingkat di atas kita juga sama.

Setingkat di atasnya lagi, sama.

Terus dan terus, sampai akhirnya kita semua tak sejahtera dan sama-sama terjebak dalam Labirin Cinta.

Sesuai dengan catatan histori secara verbal dari omongan para senior yang kini telah keluar dari Labirin Cinta a.k.a lulus, hal ini memang fenomena yang lumrah terjadi. Pada umumnya, kita hanya bisa berontak dalam ketidakpastian. Baru kusadari cintaku bertepuk sebelah tangan~ Kau buat remuk seluruh hatiku~ ujar Dewa 19, ketika haru-biru melanda. Menumpahkan kesedihan dalam tulisan adalah pilihan utama saya sedari kelas 4 SD. Beberapa kalangan yang lebih macho biasanya membuat aksi, mengadakan mediasi, hingga menggugat—saya juga sering terlibat dengan cara itu, namun tak ada yang lebih ni’mat selain menulis.

Sedikit teringat kisah tentang sejumlah mahasiswa Unisba di tahun 1984-1989 yang menggugat Dekan di fakultasnya sendiri untuk mundur dari jabatan dengan berbagai macam alasan, salah satunya—seperti tertera dalam bukti otentik yang saya punya—Dekan tersebut jarang terlihat menunaikan ibadah Shalat. Sebagian mahasiswa itu (lagi-lagi) telah keluar dari Labirin Cinta, dan beberapanya kini menjadi dosen. Dosen di ‘Labirin Cinta’ yang sama. Unisba.

Bukannya “Terjebak Nostalgia” (seperti judul lagu yang dinyanyikan oleh calon istri saya), melainkan hal di atas bisa kita jadikan cerminan dalam menyusuri jalan labirin ini.

Sisanya, di masa yang tak terlalu lampau, mahasiswa melakukan perlawanan terhadap birokrasi dengan bermacam cara namun tetap satu tujuan. Ada yang memboikot dengan cara menutup rapat Pagar Utama Kampus 1 Tamansari, menantang dosen untuk “duel membaca puisi” di tangga batu, aksi teatrikal, orasi, dan sebagainya.

Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya (klik di sini), ketakutan hinggap dalam diri ketika mahasiswa saat ini seolah hanya ingin berlama-lama di kampus demi koneksi Wi-Fi nan memanjakan jiwa sosialita; selebihnya melihat ‘pemandangan’ Mahasiswi Unisba yang katanya cantik-cantik (saking cantiknya, sampai ada anonim yang berinisiatif membuat akun instagram @unisbacantik). Pun sungkan rasanya mengharap BEM-U untuk menuntun dalam gelapnya Labirin Cinta ini, karena Nuran cs masih sibuk mengurusi open recruitment ‘darurat’ mengingat banyak anggotanya yang tak bisa melanjutkan kepengurusan.

Harus diakui, bahwa kita semua sama-sama terjebak dalam Labirin Cinta ini. Tidak melepas kemungkinan, diri saya juga. Namun siapa yang tak mau meraih cintanya? Siapa yang senang dengan jalan rumit ini? Silahkan memegang teguh prinsip “Kita harus membayangkan Sisifus berbahagia” ala Albert Camus (Le Mythe de Sisyphe, 1942). Namun jika pada dasarnya suatu hal bisa diperjuangkan hingga menemukan titik akhir, maka tak ada salahnya.

Saya adalah salah satu dari peserta yang masuk dalam Labirin Cinta, masih mencari sedari 2011. Mengapa? Karena semakin terus mencari, semakin saya dapat mencintai Labirin Cinta ini. Bukannya sok idealis pun keras kepala, tapi hanya memperjuangkan. Bukankah kita berkuliah di Kampus Perjuangan? Berarti, jika ditarik kesimpulan, bukankah kita diajarkan untuk berjuang?

*penulis adalah Pemimpin Umum Pers Suara Mahasiswa Unisba