Berikan Pendidikan Seks Pada Siswa

Maraknya pelecehan seksual di Indonesia saat ini, menjadikan orang tua dan guru semakin resah. Pendidikan seks memang dianggap tabu bagi sebagian orang, namun hal ini sangat perlu diperhatikan oleh semua kalangan, terutama di sekolah.  Hal ini terbukti dari adanya mata pelajaran di sekolah seperti biologi, dalam mempelajari anatomi tubuh manusia, baik untuk mengenal secara detail setiap bagian serta fungsinya. Pelajaran tersebut pun sudah dikenalkan sekolah dari jenjang SD hingga SMA. Disinilah peran guru diharuskan untuk memiliki kepiawaian dalam memilih mana kata atau kalimat yang dapat dikatakan kepada siswa.

Taupiq Rochman sebagai Kepala Sekolah SMP NU Cianjur memaparkan,bahwa sejak usia dini anak-anak perlu diperkenalkan tentang perbedaan tubuh laki-laki dan perempuan secara kodratnya. Setelah sampai kepada tingkatan lebih atas yaitu SMA atau sederejat, baru diinformasikan mengenai beberapa penyakit akibat hubungan seksual.

“Cara mengajarkan tentang pendidikan seks kepada anak, yaitu orang tua tidak boleh berbohong soal perbedaan antara bentuk fisik laki-laki dan perempuan. Selain itu, pendidikan tentang keagamaan pun sangat menunjang, karena dengan agama beberapa hal bisa terkendali. Orang tua juga harus memantau anak-anak dengan lingkungannya, karena itu faktor yang paling berpengaruh,” ujarnya.

Demi menghindari terjadinya pelecehan seksual di usia dini, lanjut Taufiq, alangkah baiknya dalam lembaga pendidikan yang paling penting yaitu penataan karakter karyawan.  Artinya, ketika pegawai melamar ke tempat kerja harus benar-benar detail diperhatikan. Selain itu, apabila dalam lingkup sekolah, wali kelas juga guru pembimbing harus selalu mengecek keadaan anak, jangan sampai terabaikan.

Hal senada diungkapkan oleh Dosen Sosilogi Komunikasi Massa Unpi Cianjur, Yesi Sri Utami. Menurutnya, hal-hal yang berkaitan dengan ini harus bisa dibicarakan dengan lebih sesuai pada porsinya. Bagaimana anak itu dapat menjaga dirinya sendiri, berinteraksi dengan orang lain. Sehingga memberikan kesadaran kepada anak untuk mengetahui batasan mana saja yang tidak boleh disentuh oleh orang lain. “Kalau saya menerapkan dalam hal memandikan anak itu urusan ibu, ayahnya harus dibatasi,” tutur Yesi.

Yesi juga menambahkan dari sisi sosiologibahwa sosiali ada 2 , yaitu primer yang artinya lingkungan keluarga, dan sekunder yaitu lingkungan bermasyarakat. Primer ini tentu akan mempengaruhi bagaimana anak akan beinteraksi dengan sekunder,seperti teman sebaya, teman sekolah, dan lingkungannya. Bagaimanapun anak akan merasa lebih nyaman ketika ia berada dengan orang tuanya.  Sedangkan dilihat dari sisi psikologis, membuktikan bahwa kenyamanan seorang anak di rumah akan membawa pengaruh yang besar juga. “Ketika anak tidak diperhatikan oleh orang tuanya maka ia akan mencari sosok baru yang mungkin dapat memberi perhatian kepadanya,” jelasnya.

Berkaitan dengan hal tersebut, biasanya pelaku pencabulan merupakan korban dimasa lampau. Tentu ini membuat adanya keharusan kesadaran dari semua pihak untuk mencegah adanya korban-korban baru. Terakhir, dari segi komunikasi juga sangat berkaitan. Ketika dalam sebuah keluarga memiliki komunikasi yang buruk, atau kurang berhasil maka hal ini dapat menimbulkan masalah-masalah kepada anak, termasuk kejahatan sosial.(Intan Silvia/SM)